
Ilustrasi seorang perempuan yang merayakan Seijin no HI di Jepang. (freepik)
JawaPos.com - Jepang memiliki budaya yang unik dan menarik, salah satunya Seijin no Hi atau Hari Kedewasaan. Peringatannya dirayakan setiap hari Senin minggu kedua bulan Januari.
Perayaan Seijin no Hi menandai langkah awal para pemuda Jepang yang mulai memasuki usia 20 tahun.
Meskipun secara hukum usia dewasa di Jepang telah diturunkan menjadi 18 tahun pada April 2022, perayaan Seijin no Hi tetap ditujukan bagi mereka yang memasuki usia 20 tahun, sebagai penghormatan terhadap tradisi.
Dari Genbuku hingga Menjadi Perayaan Nasional
Melansir Tokyoesque, sejarah Seijin no Hi berakar pada tradisi genbuku, sebuah upacara inisiasi kedewasaan yang dulunya hanya dilakukan oleh kalangan bangswan dan samurai.
Dalam genbuku, para remaja menajalni ritual sebagai simbol peralihan status dari anak-anak menjadi dewasa.
Tradisi ini kemudian menyebar ke masyarakat luas dan mengalami berbagai perkembangan.
Awalnya, perayaan ini dikenal dengan nama Seinenmatsuri (Festival Orang Muda) dan didirikan pada tahun 1946, sebagai bentuk penyemangat bagi generasi muda Jepang pasca Perang Dunia II.
Pada awalnya, Seijin no Hi dirayakan setiap tanggal 15 Januari. Namun, untuk memberikan kesempatan bagi keluarga merayakan bersama dalam akhir pekan yang lebih panjang, sejak tahun 2000 perayaan ini dipindahkan ke hari Senin minggu kedua bulan Januari.
Menggunakan Pakaian Tradisional
Melansir dari Kshouse.jp, ciri khas dari perayaan Seijin no Hi adalah penampilan para pemuda yang mengenakan pakaian tradisional.
Para perempuan tampil anggun dalam balutan kimono furisode yang mewah dengan motif dan warna yang cerah.
Furisode sendiri merupakan kimono berlengan panjang yang menjadi simbol kedewasaan bagi perempuan muda.
Sementara itu, para laki-laki terkadang mengenakan hakama, pakaian tradisional Jepang yang terdiri dari celana panjang dan atasan kimono.
Puncak perayaan Seijin no Hi adalah upacara Seijin-shiki yang diadakan di balai kota atau pusat komunitas setempat.
