
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB menjelaskan gejala dan bahaya kanker usus.
JawaPos.com - Usus merupakan organ paling vital untuk mencerna asupan makanan dan minuman. Karena itu, pola makan tak sehat dianggap sebagai salah satu faktor risiko terjadinya kanker usus besar.
Saat ini begitu banyak jajanan di pinggir jalan yang menawarkan berbagai kandungan, yang tak terjamin kesehatannya. Apalagi ada juga pedagang tak bertanggung jawab yang menggunakan bahan tambahan pangan berbahaya seperti formalin dan boraks.
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB menjelaskan semua itu faktor risiko yang bisa memicu terjadinya kanker usus. Faktor genetik memang merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kanker usus besar tetapi gaya hidup merupakan hal yang utama.
"Makanan-makanan tadi jadi faktor risiko. Tetapi ada faktor risiko lain seperti kurang makan sayur dan buah. Multi faktor lain bisa juga merokok, alkohol, dan obesititas," kata dr. Ari baru-baru ini.
Menurutnya, berbagai penyedap rasa jika masih boleh beredar dan diizinkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) artinya masih aman. Tetapi tentu ada kadar batasan aman mengonsumsinya.
"Selama boleh beredar, pengawet dan penyedap makanan enggak masalah. Namun yang enggak resmi dan berbahaya seperti formalin dan boraks itu yang jadi masalah," ujarnya.
Ada juga gula buatan di masyarakat yang harus dibatasi penggunaannya. Namun dr. Ari lembali menegaskan selama masih beredar di pasaran, artinya produk tersebut aman. Namun tentu tak boleh berlebihan mengonsumsinya.
"Belum ada penelitian soal pemanis buatan. Begiti pula soda. Asal jangan berlebihan. Bicara pemanis,jika ada pilihan kita kuat tanpa pemanis, ya mending tak usah pakai pemanis," jelasnya.
Konsumsi Daging Merah
Beberapa faktor risiko yang telah teridentifikasi dan konsisten dalam berbagai penelitian termasuk penelitian di Indonesia adalah diet tinggi daging merah serta daging olahan serta kurang makan sayur dan buah. Anjuran untuk mengontrol berat badan dengan konsumsi daging merah yang berlebihan dan tidak konsumsi buah karena mengandung karbohidrat merupakan anjuran yang menyesatkan.
"Secara sederhana bahwa komponen dari daging merah dibanding daging putih proses pencernaannya lebih sulit. Kandungan asam amino, komposisi serat, gajih dan lemak daging merah lebih kompleks dibanding daging putih. Ikan dan ayam lebih gampang dicerna," tutupnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Robot Humanoid Tiongkok Kalahkan Rekor Lari Usain Bolt, Lalu Terbakar
Prediksi Skor Malaga vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Super Depor Bisa Curi Poin
Prediksi Skor Getafe vs Racing Santander di Liga Spanyol 2026/2027: Azulones Rawan Kecolongan!
Prediksi Skor Brighton & Hove Albion vs Aston Villa di Liga Inggris 2026/2027: Laga Berakhir Imbang!
Prediksi Skor PSV Eindhoven vs Groningen di Liga Belanda: Boeren Enggan Malu di Kandang!
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Tak Hanya Jenderal TNI-Polri, Pengusaha Haji Isam Dikabarkan Dapat Tugas Tangani Karhutla di Kalsel
Prediksi Skor Rennes vs Paris Saint-Germain di Liga Prancis 2026/2027: Les Parisiens Bisa Kesulitan!
Prediksi Skor Atletico Madrid vs Villarreal di Liga Spanyol 2026/2027: Los Rojiblancos Diunggulkan!
