
Ilustrasi orang yang scrolling media sosial secara terus-menerus.(Unsplash.com/PriscillaDuPreez)
JawaPos.com - Memang scrolling media sosial adalah cara yang paling mudah untuk menghabiskan waktu dalam sehari. Selalu ada informasi baru dan mengundang otak untuk terus mengunyahnya.
Jari pun tak henti-henti menggulir linimasa media sosial, baik itu Facebook, Tiktok, Youtube, hingga Instagram sekalipun.
Mereka yang kerjanya rebahan sembari scrolling media sosial, ternyata memiliki tujuh kebiasaan tertentu yang mampu dijelaskan psikologi.
Terlebih mereka pun tak memiliki hobi, selain berselancar di atas banjir informasi di media sosial.
Baca Juga:8 Kebiasaan Halus Orang yang Selalu Menyenangkan Diajak Bergaul, Apakah Salah Satunya Kamu?
Jadi, apa saja kebiasaan yang dapat terlihat itu? Melansir Hack Spirit, simak tujuh kebiasaan orang yang kerjanya scrolling media sosial melulu!
Terjebak dalam informasi
Dalam psikologi, terdapat konsep flow atau aliran, yakni kondisi mental saat seseorang sepenuhnya tenggelam dalam aktivitas fokus dan mendapatkan kenikmatan yang tinggi.
Orang yang kerjanya scrolling media sosial berada dalam aliran kenikmatan tersebut. Mereka terjebak dalam lautan informasi dan tidak tahu cara lepas darinya, karena kurangnya hobi yang lebih bermakna.
Menunda-nunda
“Lima menit lagi,” adalah hal yang selalu diucapkan pada diri sendiri ketika menggulir informasi di media sosial. Namun, tanpa disadari semuanya berlalu lebih cepat daripada yang diduga.
Scrolling menerus di media sosial membuat seseorang mencoba menemukan harapan yang mampu memuaskan hasrat kesenangan.
Selalu ada pancingan agar otak dapat terhadiahi sebuah konten yang diinginkan, maka dari itu logaritma akan memberi makan otak dengan konten yang sesuai preferensi penggunanya.
Terpaku pada layar
Sebab tak memiliki hobi, maka orang akan menghabiskan waktunya di depan layar gawai mereka menggulir linimasa media sosial.
Mereka tidak memiliki cara lain untuk menghabiskan waktu, selain melihat sebuah konten lucu dan ramai di media sosial.
Punya gangguan tidur
Salah satu tanda yang paling jelas dari orang yang terjebak scrolling media sosial adalah gangguan tidur.
Studi menunjukkan korelasi kuat antara pengguna ponsel di malam hari dengan penurunan kualitas tidur dan peningkatan insomnia.
Lelah emosional
Mengonsumsi konten negatif dan hal viral yang meresahkan secara terus menerus dapat memicu kelelahan emosional.
Orang yang lupa akan kehidupan nyata dan terjebak dalam scrolling media sosial akan terjebak pada informasi negatif tanpa akhir, sehingga mereka mendapatkan lelah emosi.
Merasa tahu
Salah satu jebakan informasi di media sosial adalah merasa tahu tentang hal yang terjadi.
Padahal yang sebenarnya terjadi adalah banyak orang mengalami kebanjiran informasi, di mana volume berita yang terbaca menjadi sulit dicerna.
Psikolog Daniel Kahneman menjelaskan bagaimana bias kognitif yang terjadi dapat mendistorsi pemikiran seseorang.
Dalam kasus ini, seseorang akan melebih-lebihkan pentingnya informasi yang mudah diingat. Padahal yang diingat hanyalah judul sensasional, tanpa mengerti substansi yang termuat.
Kehilangan hubungan nyata
Orang yang kerjanya scrolling media sosial terus menerus akan terjebak dalam sebuah hubungan fana dunia maya.
Namun, yang terjadi adalah mereka kehilangan hubungan nyata secara sosial kepada orang di sekitarnya.
Lebih-lebih karena mereka tak mempunyai hobi, mereka kesulitan untuk membangun hubungan yang bermakna.
Jika waktu layar menggantikan waktu yang seharusnya dihabiskan bersama orang yang dicintai, ini adalah sinyal jelas bahwa scrolling media sosial telah mengambil alih kehidupan.
Tandanya, ini adalah waktunya memperbaiki diri dan membangun kembali koneksi sosial yang bermakna.
