← Beranda
Umat Kristen di Palestina Terancam, Pengungsi: Saya Tidak akan Meninggalkan Gereja Kecuali ke Alam Kubur
Azka Nadya AlfasyaSabtu, 11 November 2023 | 03.32 WIB
Kerabat menghadiri pemakaman warga Palestina di gereja Ortodoks Yunani (Doc. Reuters/Abed Khaled/AP)

JawaPos.Com— Ketika bom Israel mulai menghantam jalan-jalan Kota Gaza yang dulunya ramai, Diana Tarazi dan keluarganya melarikan diri ke Gereja Keluarga Kudus, yang merupakan satu-satunya tempat ibadah Katolik Roma di Jalur Gaza.

Dilansir melalui laman Aljazeera, Jumat (10/11), Seorang wanita Kristen Palestina yang berusia 38 tahun beserta suami dan tiga anaknya berkumpul di gereja bersama tetangganya yang Muslim.

Mereka menidurkan anak-anak mereka hingga tertidur lelap di tengah ledakan suara bom dan saling  menggumamkan kata-kata lembut yang memberi semangat satu sama lain.

Baca Juga: Tim Sepak Bola Palestina Bersiap Ikuti Kualifikasi Piala Dunia 2026 Meskipun Negaranya di Tengah Peperangan

“Bersama-sama, kami mencoba melewati perang sampai berakhir dan kami akan bertahan,” ucap Tarazi, dikutip melalui Aljazeera, Jumat (10/11).

Rasa aman mereka hancur sejak 19 Oktober, ketika Israel mengebom Gereja Saint Porphyrius, yang merupakan gereja tertua di Gaza dan telah menewaskan sedikitnya 18 orang.

Dalam sebuah pernyataan, tentara Israel mengatakan bahwa gereja tersebut bukanlah sasaran serangan mereka.

Baca Juga: Ancaman Kemiskinan Membayangi Palestina Jika Perang Terus Berlanjut, Setengah Juta Orang Terancam

“Rudal itu jatuh tepat di atasnya,” kata Tarazi.

“Kami tidak percaya bahwa gereja bukanlah tujuan mereka,” Lanjut Tarazi.

Dua hari sebelumnya, berdasarkan informasi otoritas Kesehatan palestina, sebuah ledakan di Rumah Sakit Al-Ahli Arab telah menewaskan dan melukai ratusan orang.

Baca Juga: Gelar Pentas di Paris, Seniman Indonesia Minta Perang di Palestina Dihentikan

Hamas mengatakan ledakan itu akibat serangan udara Israel, sementara Tel Aviv mengklaim ledakan itu disebabkan oleh roket yang tidak berfungsi yang ditembakkan oleh Jihad Islam Palestina, kelompok bersenjata yang berbasis di Gaza.

Meskipun Kota Gaza dan kamp-kamp pengungsi di dekatnya dikepung oleh pasukan darat Israel dan serangan udara telah menghantam daerah tersebut, Tarazi menolak untuk pergi.

Dirinya dengan tegas mengatakan akan tetap bertahan dan tidak akan meninggalkan gereja kecuali ketika meninggal dunia.

“Kami tidak menerima pengungsian dari negara kami, tanah kami, dan gereja kami,” tegasnya.

“Saya tidak akan meninggalkan gereja kecuali ke alam kubur,” pungkas Tarazi.

Baca Juga: Kian Memanas, Hari ke-34 Konflik Israel dan Palestina: Korban Jiwa Menyentuh 10.818 Orang, Dua Masjid Hancur

Hanya 800 hingga 1.000 orang Kristen yang diyakini masih tinggal di Gaza, mereka merupakan komunitas Kristen tertua di dunia, sejak abad pertama.

Mitri Raheb, seorang pendeta Lutheran Evangelis dan pendiri Universitas Dar al-Kalima di Betlehem, mengatakan bahwa konflik yang terjadi saat ini dapat mengakhiri sejarah panjang di wilayah tersebut.

“Komunitas ini terancam punah,” kata Raheb.

Baca Juga: Bantuan Kemanusiaan Arab Saudi bagi Warga Palestina Tiba di Mesir

“Saya tidak yakin apakah mereka akan selamat dari pemboman Israel, dan bahkan jika mereka selamat, saya rasa banyak dari mereka yang ingin pindah,” Imbuhnya.

“Kami tahu bahwa dalam generasi ini, agama Kristen tidak akan ada lagi di Gaza,” pungkas Raheb.

Wilayah bersejarah di Palestina adalah tempat kelahiran agama Kristen, serta tempat terjadinya banyak peristiwa perjanjian lama dan baru dalam Alkitab.

EDITOR: Nicolaus