
Ilustrasi Angkot
JawaPos.com - Fenomena musik jedag-jedug yang sering diputar di angkot bukan sekadar hiburan, tetapi juga memiliki dampak psikologis yang cukup besar pada penumpangnya. Musik bertempo cepat, dengan beat yang kuat, dapat mempengaruhi mood, perilaku, bahkan interaksi sosial penumpang angkot.
Banyak angkot yang memilih genre musik seperti EDM atau DJ yang membuat penumpang merasa lebih semangat. Fenomena ini bisa dilihat sebagai upaya menciptakan atmosfer yang menyenangkan selama perjalanan, guna mengatasi kejenuhan atau kebosanan yang sering dialami oleh penumpang.
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam PSIKOSTUDIA: Jurnal Psikologi, musik dengan tempo cepat dapat meningkatkan fokus dan atensi. Peneliti menyimpulkan bahwa musik bertempo cepat dapat merangsang otak untuk meningkatkan kewaspadaan dan kemampuan berkonsentrasi.
Selain itu, musik bertempo cepat ini dapat membantu pendengarnya untuk lebih responsif terhadap stimulus lingkungan sekitar. Hal ini bisa sangat bermanfaat bagi pengemudi angkot yang membutuhkan konsentrasi ekstra saat berada di jalan raya.
Tidak hanya menguntungkan bagi pengemudi, musik dengan tempo cepat juga memiliki efek positif bagi penumpang. Dengan ritme yang cepat dan energik, penumpang angkot merasakan dorongan energi yang membuat mereka lebih bersemangat menjalani aktivitas hari itu.
Fenomena ini tidak hanya berlaku di angkot, tetapi juga di banyak tempat umum lainnya. Misalnya, di tempat gym atau klub malam, musik dengan tempo cepat digunakan untuk meningkatkan semangat dan motivasi orang-orang di sana.
Selain efek positifnya, musik yang diputar dalam angkot juga dapat mempengaruhi perilaku sosial penumpang. Musik ini dapat menjadi pemicu interaksi sosial yang lebih banyak, terutama jika penumpang merasa lebih nyaman dan santai berkat suasana yang tercipta.
Menurut Jurnal Ilmiah Psikologi MANASA, musik yang diputar dalam setting sosial dapat meningkatkan hubungan sosial antara individu. Penumpang angkot yang mendengarkan musik bersama-sama sering kali merasa lebih terhubung satu sama lain meskipun mereka tidak saling mengenal.
Musik juga berfungsi sebagai cara untuk mengurangi stres. Penumpang yang merasa cemas atau lelah setelah beraktivitas sepanjang hari bisa merasakan efek menenangkan dari musik, meskipun dengan tempo yang cepat dan energik.
Namun, efek musik ini juga tergantung pada preferensi pribadi masing-masing individu. Beberapa orang mungkin merasa terganggu dengan musik bertempo cepat, sementara yang lainnya justru merasa lebih termotivasi dan berenergi saat mendengarkannya.
Penelitian lain datang dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang memahas stereotip musik ini, hasilnya menunjukkan bahwa stereotip terhadap musik jedag-jedug yang semula dianggap sebagai musik jamet atau alay kini mulai berubah. Penelitian ini menemukan bahwa musik bertempo cepat seperti EDM yang sering diputar di angkot dapat memengaruhi pola pikir pengemudi dan penumpangnya. Pengemudi yang mendengarkan musik dengan tempo cepat cenderung mengambil keputusan lebih cepat dan responsif, yang bisa memengaruhi cara mereka mengemudi.
Selain itu, musik ini juga berfungsi sebagai pemicu energi. Pengemudi angkot yang mendengarkan musik dengan irama cepat merasakan peningkatan energi yang dapat meningkatkan kewaspadaan mereka di jalan, meskipun terkadang bisa berisiko jika pengemudi kurang berhati-hati.
Penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa perubahan stereotip terhadap musik jedag-jedug dipengaruhi oleh persepsi masyarakat yang semakin menerima genre musik ini sebagai bagian dari tren budaya populer. Hal ini berimbas pada cara orang melihat pengaruhnya, baik dalam konteks sosial maupun perilaku sehari-hari.
Di sisi lain, meskipun ada efek positif, penggunaan musik energik di angkot juga perlu diimbangi dengan kewaspadaan. Penumpang dan pengemudi harus memperhatikan keseimbangan antara mendapatkan energi dari musik dan menjaga kewaspadaan agar tidak terjebak dalam perilaku yang berisiko.
Secara keseluruhan, musik yang sering diputar di angkot bukan hanya tentang hiburan, tetapi juga berperan dalam membentuk suasana hati dan perilaku penumpang. Pengaruh psikologis yang ditimbulkan bisa sangat besar, baik dalam meningkatkan mood maupun dalam mempengaruhi interaksi sosial selama perjalanan.
