
TUMBUH SEHAT: Didiek Sunaryudi menunjukkan hasil tabulampot jambu deli hijau di lahan belakang rumahnya, kawasan Medokan Ayu. Dia melakukan riset hampir lima tahun. (ROBERTUS RISKY/JAWA POS)
JawaPos.com – Lahan belakang rumah Didiek Sunaryudi ini disulap layaknya agrowisata. Puluhan pohon jambu air tumbuh subur dan berbuah lebat.
Butuh lima tahun bagi Didiek untuk memahami buah bernama latin Syzygium samarangense itu. Semua dilakukannya otodidak. Di rumahnya kawasan Medokan Ayu, Didiek mengembangkan banyak jambu air dengan teknik tanaman buah dalam pot (tabulampot). Bukan tanpa alasan metode tersebut dipilih. Salah satu penyebabnya, kondisi tanah di wilayahnya merupakan bekas tambak.
Kedalaman setengah meter, air sudah bercampur garam. Payau. Praktis, kondisi tersebut tidak baik untuk tumbuh kembang tanaman. ”Kalaupun bisa, ketinggian tanah harus ditambah dulu, tetapi itu kurang praktis,” katanya.
Apa yang dilakukannya sekarang dimulai dari nol. Pekerjaannya dulu lebih banyak berkutat pada hal teknis dan interior. Kejenuhannya membawa Didiek untuk mulai akrab dengan tanaman buah. ”Awal dulu sempat mengembangkan mangga. Namun, kurang maksimal kalau dikembangkan dari segi bisnis. Lalu, saya mulai tertarik dengan jambu dan berlanjut hingga sekarang,” ujar content creator Surabaya Flora Gallery itu.
Banyak jenis jambu air yang pria 58 tahun tersebut tanam. Mulai jenis lokal hingga luar. Misalnya, cakra merah, citra jumbo, black kingkong, mutiara hitam, madu deli, hingga madu merah.
Namun, Didiek lebih banyak berfokus pada jambu air berwarna merah. Hal itu tidak lepas dari faktor lingkungan yang mendukung. ”Ternyata dekat daerah pesisir malah bisa memunculkan warna merah buah lebih maksimal,” katanya.
Kawasan pesisir Surabaya Timur dianggap sangat ideal. Ada pengaruh angin laut yang membuat warna merah semakin merekah. Hal itu sudah banyak dibuktikan, baik oleh Didiek ataupun negara lain. ”Sebut saja Taiwan, perkebunan jambu ada di dekat pesisir. Kemudian, di California perkebunan delima juga di perbukitan pantai. Warna merah buah sangat bagus,” ujarnya.
Soal kemahirannya merawat jambu air, Didiek mengaku membaca banyak referensi dari luar negeri. Banyak jurnal yang dibuka untuk umum oleh pemerintah. Misalnya, Taiwan dan Amerika. Pelan-pelan dia terjemahkan agar paham seperti apa nutrisi yang pas dan dibutuhkan untuk tanaman ini.
Silang jenis dia lakukan untuk meramu kombinasi yang menghasilkan buah premium. Dengan rasa manis, renyah, dan segar. Tentu, warna merah cantik menjadi modal untuk ditawarkan kepada pembeli. ”Salah satunya, saya berhasil menyambungkan 23 jenis jambu air dalam satu pohon. Sekarang mulai berbuah 10 jenis,” ujarnya saat menunjukkan koleksinya Jumat (22/1).
Jaga Nutrisi dan Kurangi Jumlah Buah
Teknik penanaman dengan tabulampot sekilas terlihat gampang. Namun, ada yang perlu dipahami bagi penghobi yang ingin menerapkan sistem tersebut. Tujuannya, nutrisi pohon tercukupi dan menghasilkan buah yang istimewa.
Didik menanam jambu air dengan berbagai ukuran media tanam. Ada yang berukuran setengah meter atau 30 sentimeter saja. Namun, Didiek tidak menggunakan planter bag sebagai media tanamnya.
Hal itu dinilai menyulitkan saat penggantian media tanam. Sebab, minimal dua tahun sekali harus diganti dengan ukuran yang lebih besar. ”Saya menggunakan polycarbonate, lebih praktis. Bisa dipakai berulang-ulang, pemasangannya pun gampang,” katanya.
Photo
TUMBUH SEHAT: Didiek Sunaryudi menunjukkan hasil tabulampot jambu deli hijau di lahan belakang rumahnya, kawasan Medokan Ayu. Dia melakukan riset hampir lima tahun. (ROBERTUS RISKY/JAWA POS)
Media tanam menggunakan rumus 1:2:3. Yakni, satu bagian untuk tanah. Kemudian dua bagian untuk kompos. Terakhir, tiga bagian untuk campuran sekam bakar dan cocopeat. Nah, faktor terpenting lain adalah nutrisi untuk pohon.
Didik meramu sendiri kebutuhan untuk tanamannya itu. Misalnya, kompos. Dia menggunakan racikan eceng gondok yang dirajang ditambah cairan EM4.
Kemudian, nutrisi organik yang terbuat dari fermentasi buah, susu, dan telur. ”Nah, waktu pemberian nutrisi juga perlu diperhatikan. Idealnya dilakukan pagi maksimal jam 09.00. Lalu, sore setelah pukul 16.00,” katanya.
Saat berbuah, pertumbuhannya juga perlu dipantau. Jika ingin hasilnya maksimal, Didiek selalu mengurangi jumlah buah dalam satu dompol. Rata-rata 3–5 buah saja. Agar nutrisi pohon ke buah terkonsentrasi di sana. Jika terlalu banyak, rasa kurang maksimal. ”Hasilnya seperti yang bisa dilihat. Rata-rata per kilogram hanya berisi tiga jambu. Dengan tekstur buah yang renyah, manis, dan segar,” ujarnya.
