Logo JawaPos
Author avatar - Image
24 Desember 2023, 13.35 WIB

Saturnalia

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Pada 13 Oktober 2023, Louise Gluck, peraih Nobel Sastra asal Amerika Serikat, meninggal dunia karena kanker yang dideritanya. Kabar kematiannya sayup terdengar, tersembunyi riuh pemberitaan perang di Palestina. Situasi perang, jauh-jauh hari, telah digambarkan Gluck dalam puisi ”Saturnalia”, puisi terakhir dalam buku puisi pertamanya, Firstborn (1968).

SATURNALIA” Gluck adalah retrospeksi sejarah, perenungan terhadap situasi masa kini, dan merupakan salah satu jangkar pembantu pembaca untuk melihat hubungan Gluck dengan khazanah Yunani-Romawi yang diolahnya dalam puisi-puisinya. Dalam puisi-puisi yang terbit kemudian, misalnya yang terkumpul dalam buku Averno, Gluck secara lebih lihai menggunakan khazanah sastra Yunani-Romawi sebagai refleksi zaman. Adegan awal puisi ”Blue Rotunda” dalam buku Averno menggunakan penggambaran batin Ikaros untuk melihat kegundahan zaman ini. Kisah-kisah tentang Persephone dan Hades juga muncul beberapa kali dalam Averno. Pada zaman Romawi, dua penyair yang memberi perhatian khusus pada peristiwa Saturnalia adalah Catullus dan Martialis.

Saturnalia adalah festival untuk menghormati Saturnus (atau Khronos dalam khazanah Yunani), yang dirayakan orang-orang Romawi sejak 17 Desember. Festival Saturnalia pada awalnya dirayakan orang-orang Romawi sebagai festival pertanian, ketika para petani mengumpulkan panenan terakhir mereka di bulan Desember. Mereka melakukannya sembari memberikan penghormatan kepada Saturnus. Penghormatan tersebut dilakukan di Kuil Saturnus, di Bukit Capitolina, dipandu oleh para imam agung Romawi, dan sejumlah pihak dari kalangan bangsawan. Para imam tersebut akan membawa patung Saturnus yang terlilit benang wol. Patung tersebut akan ditempatkan di sebuah tempat duduk dan ikatan wol yang melilitnya dilonggarkan sebagai simbol kelahiran kembali dan pembebasan sang dewa. Dari tempat duduk tersebut, Dewa Saturnus dianggap ikut serta dalam perayaan selama hari-hari festival. Selama Saturnalia, semua pelayanan publik diliburkan. Anak-anak dibebaskan dari kewajiban sekolah.

Pada era Cicero, Saturnalia dirayakan selama seminggu. Augustus membatasi perayaan menjadi tiga hari agar pelayanan publik tidak diliburkan terlalu lama. Pada era Caligula, Saturnalia dirayakan selama lima hari. Pada periode hari raya tersebut, para budak Romawi diberi hak sama seperti warga merdeka. Mereka ikut merayakan Saturnalia bersama para tuan. Sebagaimana namanya, Saturnalia diperingati dengan persembahan hewan kurban seperti banteng di Kuil Saturnus. Setelah persembahan kurban, perjamuan publik diselenggarakan. Suasana festival tersebut penuh dengan kegembiraan dan pesta pora. Majikan dan hamba bisa mengobrol setara selama hari-hari festival dan bertukar hadiah. Saturnalia dirayakan oleh orang-orang Romawi sebagai pengenangan kembali akan zaman keemasan di bawah pemerintahan Saturnus sebagai raja, di mana yang ada hanyalah suasana tenang, damai, penuh kegembiraan, dan pesta pora. Pada hari terakhir perayaan, orang-orang bertukar Sigillaria, patung kecil dari lilin atau tanah liat yang dijual oleh para sigilarii.

Perayaan Saturnalia adalah perayaan paling terkenal pada zaman Romawi. Catullus, pelopor puisi cinta Romawi, mencatat dalam puisi 14 baris 15 bahwa Saturnalia adalah ”yang terbaik di antara hari-hari” (optimo dierum). Saturnalia sebagai hari raya meriah, dalam puisi Catullus tersebut, digunakan sebagai kontras terhadap puisi-puisi buruk Calvus yang dikirimkan kepadanya. Buruk yang dimaksudkan Catullus tidak hanya dari segi kualitas isi, melainkan juga dari segi kualitas bentuk. Pada baris ke-22, puisi Calvus juga dianggap bermetrum buruk (malum pedem).

Martialis, penerus epigram-epigram Catullus, adalah penyair yang dirayakan karena epigram-epigramnya dianggap sebagai puisi-puisi yang bersifat saturnalis. Puisi-puisinya merayakan keadaan manusia-manusia pada zamannya, dan dari segi bentuk, Martialis mengelola bentuk yang tidak dianggap pada masa tersebut, mengangkatnya sebagai perayaan bagi posisi kepenyairannya di antara para nama besar dalam tradisi sastra Romawi. Martialis bahkan menulis khusus dua buku epigram, Xenia dan Apophoreta, sebagai bagian dari perayaan Saturnalia. Epigram-epigram dalam dua buku tersebut diniatkan sebagai pasangan bagi hadiah-hadiah yang dipertukarkan selama festival.

Saturnalia, dalam epigram-epigram Martialis, adalah penyegaran terhadap sastra. Epigram-epigram Martialis adalah perayaan yang manusiawi, juga perayaan tentang manusia. Epigram-epigramnya adalah seteru bagi puisi-puisi epik tentang kemarahan para dewa, para manusia setengah dewa, maupun tokoh-tokoh besar sejarah dan mitologis. Martialis mencatat situasi semasanya hingga tokoh-tokoh kecil dalam epigram-epigramnya. Itulah sebuah perayaan sastrawi di mana para raksasa dan para liliput dalam sastra dapat berada dalam posisi setara.

Dalam ”Saturnalia” Gluck, perayaan Romawi dihadirkan kembali beserta trauma dan kekerasan yang menyertainya. Puting susu serigala yang ditarik kembali, yang sebelumnya digunakan untuk menyusui Romulus dan Remus, adalah simbol kesengsaraan akibat perang. Tak ada patung lilin Sigillaria yang bisa dipertukarkan selama perang karena patung tersebut meleleh dilahap kobaran api peperangan. Di dalam keadaan perang, Roma menjadi genting, sebagaimana digambarkan Gluck, tak ubahnya sebuah patung lilin kecil yang dipertukarkan pada perayaan Saturnalia. Hadiah yang berharga, tetapi begitu rentan di hadapan api. Masa kini tersamar dalam kisah tentang masa lalu. ”Aku” dan ”kami”, para tokoh dalam puisi ”Saturnalia”, bergantian menyodorkan trauma dan harapan.

Zaman berlalu, tetapi kerentanan manusia di hadapan perang tetap serupa patung lilin di hadapan api. (*)

---

MARIO F. LAWI, Bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Guru di SMA Seminari St Rafael, Kupang. Ia menulis puisi dan sesekali menerjemahkan, terutama puisi-puisi para penyair yang menulis dalam bahasa Latin.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore