
ILUSTRASI
Kehidupan keseharian sebagian rakyat Indonesia sering kali nyerempet-nyerempet bahaya atau malah keserempet bahaya.
MISALNYA, ketika kita berkendara dengan mematuhi semua aturan, memakai helm, spion lengkap, membawa semua surat-surat, supaya selamat di jalan, eh tiba-tiba ada kendaraan lain nyelonong melawan arus dan nyerempet kendaraan kita, akhirnya kita yang celaka. Padahal, jauh-jauh waktu sebelum berkendara kita sudah menyiapkan segalanya agar aman, nyaman, dan selamat di jalan. Ternyata bahaya datang dari pihak lain.
Banyak lagi orang yang dalam kehidupannya memang benar-benar melakukan tindakan berbahaya walaupun ia tahu bahwa itu berbahaya. Beberapa waktu yang lalu, misalnya, di pinggiran Kota Surabaya sebuah kendaraan odong-odong yang memuat 15 penumpang tiba-tiba nyemplung ke sungai. Semua orang tahu bahwa kendaraan bikinan rumahan semacam itu tidak boleh untuk mengangkut orang di jalanan umum karena rawan celaka. Tetapi, mengapa pencegahan tidak dilakukan secara ketat dan terus-menerus? Orang-orang kecil yang mencari sesuap nasi dengan cara berbahaya amat banyak di negeri ini tanpa mendapatkan pemahaman yang memadai.
Yang lebih konyol lagi, ketika ada orang sakit dan pergi ke tempat pengobatan, ternyata dokternya tidak dijamin keasliannya. Ini benar-benar celaka karena ibarat menyerahkan nyawa kepada seorang penjagal. Apakah ini fiktif? Sama sekali tidak. Ramai diberitakan seseorang yang selama bertahun-tahun menjadikan dirinya sebagai dokter. Padahal, yang bersangkutan bukanlah lulusan fakultas kedokteran, hanya lulus SMA, tidak memiliki keahlian mengobati sama sekali, bahkan keahlian sebagai dukun pun (pengobat tradisional) tidak punya.
Mengapa orang berotak kriminal kok bisa tiba-tiba berpraktik dokter, berlagak bisa menyembuhkan pasien dengan ilmu kedokteran modern. Setelah diusut, ternyata yang bersangkutan bukan sekali ini saja, sebelum akhirnya ditangkap lagi, menjadi juru sembuh di sebuah pusat kesehatan legal dengan cara ilegal. Beberapa tahun sebelumnya ia telah berpraktik sebagai pengobat, bahkan mengaku sebagai spesialis kandungan dan mengoperasi kandungan (Caesar) seorang pasien. Atas tindakannya tersebut, yang bersangkutan telah dihukum 20 bulan penjara.
Celakanya, walaupun sudah pernah dihukum, ternyata ia bisa mengubah dirinya dari seorang kriminal menjadi dokter lagi. Rakyat Indonesia benar-benar dibuat celaka oleh aksinya. Sebagian besar rakyat tidak celaka secara langsung karena tidak pernah menjadi pasiennya, tetapi celaka oleh sebuah praktik pemerintahan yang buruk. Bagaimana mungkin pemerintah tidak memiliki database tentang orang-orang jahat di negeri ini yang bisa diakses oleh seluruh kantor pemerintahan. Sehingga, seorang kriminal di tempat lain bisa melamar sebagai dokter di tempat lainnya, dan lolos penyaringan sampai berpraktik selama lebih dari satu tahun, ngedel-edel pasien. Wah, celaka bener kita sebagai rakyat karena kehidupan kita amat dekat dengan mara bahaya tanpa pencegahan dini.
Hari ini kita yang bukan korban dokter gadungan masih bisa mengucapkan syukur sedalam-dalamnya kepada Tuhan karena terhindar dari dokter penjemput maut tersebut. Tetapi, apakah di hari lain kita dijamin tidak datang ke dokter palsu lainnya saat kita menderita sakit? Apakah dengan munculnya kasus dokter gadungan tersebut semua pemangku kebijakan lantas membenahi seluruh sistem yang dimilikinya untuk mencegah agar tidak terulang? Belum tentu.
Mengapa jawabannya belum tentu, coba kita tengok berbagai kasus membahayakan yang pernah terjadi pada waktu-waktu sebelumnya. Salah satu yang paling dekat adalah kejadian seorang pengendara motor yang lehernya terjerat kabel telekomunikasi yang menjuntai di jalanan. Setelah kasus tersebut ramai dibahas di berbagai media, apakah lantas semua kabel semrawut yang terjadi di semua kota dirapikan? Sampai saat ini kesemrawutan kabel tetap terjadi dan bukan tidak mungkin akan ada korban lagi untuk kasus yang sama.
Mara bahaya sebenarnya selalu bisa dideteksi sejak dini karena penyebabnya biasanya sesuatu yang kasatmata, terlihat dengan jelas. Hanya karena kita malas atau lengah saja mengapa penyebab bahaya tersebut tidak diatasi dengan baik supaya tidak benar-benar menyebabkan bahaya. Hal tersebut mirip dengan apa yang dipidatokan oleh Bung Karno pada peringatan ulang tahun kemerdekaan 17 Agustus 1964. Saat itu beliau membacakan pidato dengan judul Tahun Vivere Pericoloso yang artinya tahun yang penuh mara bahaya atau nyerempet bahaya.
Melalui pidato tersebut, Bung Karno mengingatkan bahwa bangsa Indonesia saat itu sedang berada pada situasi yang berbahaya. Politik luar negeri Indonesia sedang menghadapi Malaysia yang dianggap sebagai proyek neokolonialisme (nekolim) atau kolonialisme baru yang dimotori Inggris. Di dalam negeri sendiri perpecahan dan kondisi ekonomi juga menjadi ancaman serius. Bung Karno dengan mempelajari kasus-kasus di berbagai negara dunia ketiga menyimpulkan bahwa kedudukannya sendiri sebagai presiden juga terancam. Ia mencontohkan penggulingan Presiden Brasil Joao Goulart oleh militer setempat pada 1 April 1964, yang oleh Bung Karno dianggap sebagai pokal jang matjam-matjam dari kaum imperialis.
Sayangnya, apa yang dideteksi oleh Bung Karno untuk kondisi di negeri sendiri tidak segera dilakukan pencegahan. Akibatnya, mara bahaya malah tambah besar. Kondisi ekonomi terus memburuk yang menyebabkan situasi Indonesia secara umum menjadi morat-marit. Kita semua tahu apa yang terjadi satu tahun berikutnya setelah ia memberi warning bahwa bahaya sedang mengancam bangsa Indonesia. Pemberontakan yang oleh banyak pihak dianggap didalangi oleh PKI meletus pada 30 September 1965. Rentetan berikutnya terjadi proses degradasi kekuasaan Bung Karno sehingga pada 12 Maret 1967 ia benar-benar kehilangan kekuasaannya.
Jika bangsa Indonesia tidak mau belajar pada sejarah untuk mengatasi berbagai penyebab bahaya yang ada di sekitar kita, baik yang sederhana maupun yang kompleks, bukan tidak mungkin kita akan selalu hidup dalam kondisi vivere pericoloso sebagaimana telah diingatkan oleh Bung Karno. Sesungguhnya sejarah telah memberi pelajaran berharga pada kita bagaimana cara mencegah mara bahaya. (*)
---
PURNAWAN BASUNDORO, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga dan guru besar ilmu sejarah
