Logo JawaPos
Author avatar - Image
08 Februari 2023, 14.48 WIB

Kampung Ayam tanpa Bau di Kelurahan Karah Surabaya

TERNAK AYAM: Lurah Karah Ali Pranoto (kanan) bersama Camat Jambangan Ahmad Yardo Wifaqo (tengah) sedang melihat budi daya ayam tanpa bau di rumah seorang warga. (RAMADHONI CAHYA/JAWA POS) - Image

TERNAK AYAM: Lurah Karah Ali Pranoto (kanan) bersama Camat Jambangan Ahmad Yardo Wifaqo (tengah) sedang melihat budi daya ayam tanpa bau di rumah seorang warga. (RAMADHONI CAHYA/JAWA POS)

Keberhasilan beternak ayam di perkotaan telah dibuktikan warga Kelurahan Karah. Selain tidak membutuhkan tempat yang luas, juga bisa minim bau tak sedap terhadap lingkungan sekitar.

RAMADHONI CAHYA C., Surabaya

NYELENEH, ternak ayam kok di Surabaya,’’ ya stigma serupa sering kali terdengar ketika kampung ayam di Kelurahan Karah baru dirintis tahun lalu. Padahal, bukanlah suatu yang mustahil dan kini puluhan warga telah ikut beternak ayam.

Setidaknya ada 50 warga yang tergabung di kelompok usaha Karah Jago Farm. Meski di permukiman padat penduduk, tak ada masalah. Mereka beternak ayam di garasi, pekarangan, bahkan di bawah jembatan layang sekalipun.

’’Hidup di perkotaan bukan berarti tidak bisa budi daya ayam,’’ terang Lurah Karah Ali Pranoto, Senin (6/2).

Bagaimana soal bau tak sedap yang mengganggu lingkungan? Probiotik solusinya. Cairan tersebut cukup dicampurkan pada pakan. Mulai ampas tahu, gilingan jagung, bahkan sampah organik sisa rumah tangga.

Protein pakan pun bisa terserap lebih baik. ’’Kalau kandang telanjur bau, cukup disemprot saja,’’ ungkap dia.

Probiotik dibuat secara swadaya untuk menekan biaya produksi. Dengan bantuan warga yang berprofesi dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Tapi, diperlukan waktu pengendapan selama tiga bulan. Atau, bisa digunakan sisa sampah yang difermentasi tiga hari.

’’Kami sedang mengajukan ke dinas untuk bantuan alat pencacah pakan supaya lebih efisien,’’ jelas mantan Kasi Pemerintahan Kelurahan Simomulyo itu.

Warga menggunakan kandang bertingkat untuk menyesuaikan lahan yang terbatas. Bagian bawah kandang itu dibuat miring agar telur lebih mudah dikumpulkan. Juga direncanakan ada maggot pada bagian dasar untuk memakan sisa kotoran ayam.

’’Masih dikaji untuk dijadikan pakan lagi. Kalau secara keseluruhan sudah disetujui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Surabaya,’’ tuturnya.

Opsi lain, kandang terletak langsung di permukaan tanah. Namun, tetap harus ada penutup pada bagian atas. Tujuannya, air tak terkena kandang dan menyebabkan bau.

Kelurahan memberikan bantuan 200 ayam kampung unggul balitbangtan (KUB) di awal inisiasi program. Ayam tersebut dipilih karena memiliki sejumlah keunggulan. Di antaranya, lebih cepat besar dan setidaknya menghasilkan satu butir telur per hari.

”Juga cukup laris di pasaran. Meskipun harga anakannya sedikit lebih mahal dibandingkan ayam jowo peranakan (joper),’’ paparnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore