Logo JawaPos
Author avatar - Image
28 April 2019, 18.48 WIB

Satu Setengah Abad Lumpia Semarang dan Cerita Keteguhan Para Penerus (2-Habis)

Meliani Sugiarto, pemilik kedai Lunpia Cik Me Me (Shabrina/Jawa Pos) - Image

Meliani Sugiarto, pemilik kedai Lunpia Cik Me Me (Shabrina/Jawa Pos)

Sebelum menelurkan keripik lumpia, Cik Meme telah mengkreasikan berbagai isian lumpia hingga diganjar penghargaan. Akan terus berkreasi agar generasi mendatang tak cuma kenal pizza.

SHABRINA PARAMACITRA, Semarang

---

"INI hari paling bahagia dalam hidup saya. Hari bersejarah bagi perjalanan kue lunpia," ucap Meliani Sugiarto malam itu (23/3) di kedai Lunpia Cik Me Me.

Wajahnya semringah. Acara peluncuran Keripik Lunpia Cik Me Me siang itu berjalan mulus. Banyak konsumen, wartawan, dan social media influencer yang hadir menyukseskan acara tersebut.

"Akhirnya, setelah satu tahun melakukan riset, jadi juga keripik lunpia ini," sambung perempuan yang kerap disapa Cik Me Me itu.

Adalah suami istri Tjoa Thay Joe dan Wasi, kakek dan nenek buyut Cik Meme, yang kali pertama memperkenalkan lumpia di Semarang pada 1870. Lumpia berasal dari kata dalam bahasa Hokkian. Lun artinya lunak dan pia berarti kue.

Awalnya, lumpia adalah modifikasi dari kue run bing yang dijual di Tiongkok oleh Tjoa Thay Joe. Rasanya sedikit asin.

Setelah hijrah ke Indonesia dan menikah dengan Wasi, kue tersebut berubah. Kebetulan, sebelum menikah dengan Tjoa Thay Joe, Wasi juga berjualan kue gulung yang bentuknya mirip dengan run bing, tapi rasanya sedikit lebih manis. Lahirlah lumpia dari akulturasi tersebut.

Cik Meme adalah cucu Siem Hwa Nio, pendiri Lunpia Mataram. Siem Hwa Nio merupakan saudara kandung dari Siem Swie Kiem dan Siem Swie Hie. Ketigaya generasi ketiga keturunan Tjoa Thay Joe dan Wasi.

Siem Swie Kiem merupakan pengelola Lunpia Gang Lombok yang kini diteruskan sang anak, Untung Usodo. Adapun Siem Swie Hie adalah pendiri Lunpia Pemuda yang diteruskan sang anak, Siem Siok Lien atau Mbak Lien, dan nama kedainya kini berubah menjadi Kedai Loenpia Mbak Lien.

Bagi Cik Me Me, keripik lumpia adalah hal yang istimewa. Sebab, sejak lumpia pertama dibuat pada 1870 oleh kakek dan nenek buyutnya, baru kali ini lumpia divariasikan menjadi keripik. Keripik itu terbuat dari campuran bahan-bahan kulit dan isian lumpia, yang kemudian dikeringkan, lalu digoreng.

Tak seperti lumpia basah yang hanya mampu bertahan 8 jam dan lumpia goreng yang bertahan 24 jam, keripik lumpia bisa bertahan 3-4 bulan. Cik Me Me sangat hati-hati dalam memperkenalkan varian terbarunya itu.

Februari lalu dia urung memperkenalkan produk tersebut kepada utusan pemerintah dan pengusaha Malaysia yang mengadakan pertemuan dengan pengusaha-pengusaha dari Jawa Tengah. Ada pengalaman kurang mengenakkan yang jadi penyebab.

Memori aksi protes atas klaim Malaysia terhadap lumpia semarang di Kedutaan Malaysia tahun 2015 masih membekas di benaknya. Kala itu dia bersama Forum Masyarakat Peduli Budaya Indonesia (Formasbudi) berdemo membawa tumpeng dan lumpia semarang ke kantor kedutaan. Dia tak terima, negeri jiran itu mengklaim lumpia sebagai jajanan khas milik mereka.

Padahal, jelas-jelas lumpia sudah ditetapkan sebagai warisan budaya nasional tak benda oleh pemerintah. Bahkan, sudah diakui Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). "Lunpia itu sudah menjadi urat nadi saya. Saya tidak rela warisan dari leluhur saya tahun 1870 tiba-tiba diakui Malaysia," kenang Cik Me Me.

Itulah yang membuatnya enggan memperkenalkan keripik lumpia kepada utusan dari Malaysia pada Februari lalu. Apalagi, saat itu keripik lumpia belum diluncurkan secara resmi. "Saya sudah bawa sampelnya, tapi tak masukin tas saja. Daripada nanti ditiru, terus diakui Malaysia, hahaha," canda ibu satu anak itu.

Pada 2014, Cik Me Me mendirikan Lunpia Delight yang kemudian diubah namanya menjadi Lunpia Cik Me Me pada 2017. Jauh sebelum itu, sejak kecil dia terbiasa membantu ayahnya, Tan Yok Tjay, menjalankan usaha Lunpia Mataram.

Usaha lumpia di sekitar Jalan Mataram (sekarang Jalan MT Haryono) milik Siem Hwa Nio dijalankan pada 1960. Kemudian, diwariskan kepada ayah Cik Me Me, Tan Yok Tjay, pada 1980.

Perempuan kelahiran 27 Juni 1979 itu bercerita, dirinya pernah sampai bolak-balik Jakarta-Semarang demi berjualan lumpia. Dulu Cik Me Me menempuh pendidikan sarjana akuntansi di Universitas Tarumanagara, Jakarta. Setiap akhir pekan dia pulang ke Semarang untuk membantu ayahnya berjualan lumpia.

Dia pulang ke Semarang dengan kereta api setiap Jumat sore. Kemudian, Senin pagi, habis subuh, dia naik kereta api lagi menuju Jakarta. Biasanya dia sampai di Jakarta sekitar pukul 11.00 WIB. Kemudian, dari stasiun, dia langsung pergi kuliah.

Dari aktivitasnya bolak-balik antarkota itu, Cik Me Me tak hanya belajar mengenai cara membuat lumpia. Dia juga belajar ilmu marketing dan cara berjualan yang tepat. "Seiring perkembangan zaman, saya belajar saat itu bahwa kita ini ndak bisa buka toko jam 9 pagi karena orang-orang sudah pada kerja. Hal-hal seperti itu semakin menguatkan ilmu saya mengenai bisnis lunpia ini," ujar Cik Me Me yang sampai sekarang masih aktif mengawasi pembuatan lumpia di dapur Kedai Lunpia Cik Me Me itu.

Dia belajar dari sang ayah yang sampai saat ini juga masih sering "turun" ke dapur untuk mengawasi pembuatan lumpia di Kedai Lunpia Mataram. "Papa saja, meski sudah sepuh dan pendengarannya agak sedikit terganggu, masih cinta pada lunpia sampai harus turun ke dapur sendiri," katanya.

Di kedai miliknya itu, ada klipingan tulisan dari koran yang menulis tentang kiprah ayahnya sebagai maestro lumpia dari Semarang. Klipingan itu dipigura dan dipajang di salah satu sudut dinding kedai. Berjajar dengan tulisan-tulisan lain yang membahas profil Cik Me Me sebagai pengusaha lumpia.

Jawa Pos mendapati Anita Wahyudhi, seorang pengunjung Kedai Lunpia Cik Me Me, tampak memandangi klipingan tulisan mengenai Tan Yok Tjay, ayah Cik Me Me, pada Sabtu sebulan lalu itu (23/3). "Oh, jadi ayahnya yang punya kedai ini juga pembuat lumpia ya," katanya.

Wanita yang tinggal di Aceh itu mengernyitkan kening dan matanya memandang dekat klipingan-klipingan tulisan yang dipajang di dinding. Dia hendak membandingkan foto wajah Tan Yok Tjay dengan foto wajah Cik Me Me. "Mirip ya. Coba ah, habis ini mampir ke Lunpia Mataram," ucapnya, lantas bergegas menuju kasir.

Sebelum berhasil mengkreasikan lumpia menjadi keripik, Cik Me Me pernah mengkreasikan berbagai isian lumpia. Hingga mendapat penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid) sebagai lumpia dengan variasi rasa terbanyak.

"Dari kelas I SD saya sudah ke pasar, milih-milih bahan lunpia. Saya selamanya akan meneruskan tradisi jualan lunpia ini dan mengkreasikannya supaya anak cucu kita tahunya ndak cuma pizza saja," ucapnya.

Tiba-tiba dua pengunjung kedai menyela obrolan dengan Cik Me Me. Rupanya, mereka ingin foto bareng sang pemilik kedai setelah samar-samar mencuri dengar percakapannya dengan Jawa Pos.

"Saya kagum dengan kegigihan Ibu (Cik Me Me)," kata seorang di antaranya.

Cik Me Me berterima kasih. Dan, melayani permintaan foto bareng itu sembari tersenyum lebar. Gurat kebanggaan tergambar jelas di wajahnya. Wajar, perjuangan keras dia dan keluarga besar melestarikan telah mendapat apresiasi luas.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore