JawaPos.com - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Shinta Kamdani merespons soal rencana Presiden Donald Trump yang bakal menerapkan tarif tinggi impor setelah dilantik pada 20 Januari mendatang.
Menurutnya, Indonesia tentu akan terus berupaya agar tidak terdampak oleh kebijakan baru Trump itu.
“Jadi tentu saja pemerintah akan terus berupaya untuk bisa, jangan sampai nanti Indonesia akan juga terimbas dengan adanya kebijakan proteksionisme daripada Trump,” kata Shinta saat ditemui di Hotel Raffles, Jakarta Selatan, Senin (13/1).
Itu sebabnya, Shinta juga mendukung langkah Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang berencana untuk melakukan kerja sama bilateral bidang ekonomi dengan Amerika Serikat (AS).
Apalagi, kata dia, negosiasi itu nantinya bukan menjadi hal pertama bagi Indonesia. Pasalnya negosiasi permintaan tarif khusus juga sudah pernah dilakukan semasa Trump menjadi presiden pada tahun 2017-2021.
“Dan sebenarnya ini bukan pengalaman pertama kita dengan Presiden Trump, jadi sebelumnya di era Presiden Trump sebelumnya kita sudah mulai menegosiasikan misalnya limited trade deal. Pada waktu itu kan tujuannya juga untuk special tarif juga,” jelas Shinta.
“Jadi menurut kamu memang Trump ini kan unsurnya lebih transaksional, nah ini juga konsep yang Indonesia sudah mengerti, sudah tahu. Nah bagaimana bisa maju dengan usulan usulan untuk bernegosiasi dagang dengan Amerika,” sambungnya.
Meski begitu, sebelum akhirnya melakukan kerja sama bilateral untuk permintaan tarif lebih rendah. Shinta meminta pemerintah untuk lebih dulu melihat tarif tinggi impor yang dikenakan terhadap Tiongkok.
Jika sudah diketahui, kata dia, barulah nanti Indonesia bisa memastikan diri dan menawarkan kerja sama dengan pemimpin baru negeri Paman Sam itu.
“Tapi saya rasa kita perlu lihat dulu gimana kebijakan Trump terutama dengan Tiongkok yang kelihatannya akan dikenakan tarif yang tinggi. Karena Indonesia kita juga punya surplus, apakah kita juga akan terimbas, ini kita mesti menjadi hati-hati,” pungkasnya.