JawaPos.com - Belanda mengirim pesan keras kepada para pesaingnya di Piala Dunia 2026 setelah menghajar Swedia dengan skor telak 5-1. Di Houston, tim asuhan Ronald Koeman tampil sangat dominan dan menunjukkan bahwa mereka bisa menjadi salah satu ancaman serius dalam perebutan gelar juara.
Sebelum pertandingan, perhatian banyak orang tertuju kepada duet maut Swedia, Alexander Isak dan Viktor Gyokeres. Bahkan Graham Potter beberapa kali mendapat pertanyaan soal bagaimana memaksimalkan kedua penyerangnya tersebut.
Baca Juga: Rating Pemain Jerman usai Tundukkan Pantai Gading: Deniz Undav Bawa Der Panzer Lolos ke Fase Gugur!
Namun, justru penyerang Belanda Brian Brobbey yang menjadi bintang utama. Melansir The Independent, Koeman sebelumnya ditanya apakah dirinya takut dengan kekuatan lini depan Swedia. Jawaban singkatnya, "Kami tidak takut."
Dan di lapangan, pernyataan itu terbukti.
Brobbey mencetak dua gol pada babak pertama dan membawa Swedia berada dalam tekanan besar. Setelah itu, Cody Gakpo menambah dua gol lagi sebelum Crysencio Summerville melengkapi pesta gol Oranje.
Yang menarik, Brobbey sebelumnya hanya mencetak satu gol dalam 13 penampilan bersama tim nasional. Namun keputusan Koeman memasangnya sebagai starter, setelah hanya menjadi cadangan saat melawan Jepang, terbukti menjadi langkah yang sangat tepat.
Formula Baru Ronald Koeman Mulai Terlihat
Selama ini Belanda sering dianggap memiliki lini belakang kuat dan lini tengah berkualitas, tetapi kurang memiliki penyerang tengah yang benar-benar mematikan.
Pandangan itu tampaknya mulai berubah. Brobbey memperlihatkan naluri predator di kotak penalti yang selama ini dicari Koeman.
Baca Juga: Zlatan Ibrahimovic Sebut Amerika Serikat Calon Kuat Juara Piala Dunia 2026 Usai Kalahkan Australia
Sementara Gakpo kembali menunjukkan bahwa dirinya selalu tampil berbeda ketika mengenakan seragam tim nasional dibandingkan saat bermain untuk Liverpool.
Summerville, yang baru saja mengalami musim pahit bersama West Ham, juga ikut menyumbang gol. Dengan kombinasi tersebut, Belanda mulai menemukan formula yang bisa membawa mereka melangkah jauh.
Swedia Masih Menjadi Teka-Teki
Di atas kertas, Swedia sebenarnya memiliki materi pemain yang mengesankan. Isak dan Gyokeres merupakan dua striker yang diidam-idamkan banyak negara. Namun, pertandingan ini kembali memperlihatkan masalah lama tim asuhan Graham Potter.
Setelah tampil meyakinkan saat mengalahkan Tunisia, Swedia justru menunjukkan wajah berbeda ketika menghadapi lawan yang kualitasnya lebih tinggi.
Perubahan formasi dari 5-3-2 menjadi 4-3-3 saat jeda minum memang membuat mereka lebih hidup. Gyokeres mulai mampu menghubungkan permainan dan peluang pun bermunculan. Tetapi masalah besar mereka justru ada di lini belakang.
Bek Atalanta, Isak Hien, mengalami sore yang buruk. Ia beberapa kali kalah duel dengan Brobbey dan tidak mampu mengantisipasi serangan-serangan Belanda yang datang melalui umpan silang rendah.
Swedia sebenarnya sempat memberikan perlawanan. Viktor Gyokeres memaksa Bart Verbruggen melakukan penyelamatan penting, sementara sundulan Gustaf Lagerbielke sempat masuk ke gawang sebelum dianulir karena offside.
Namun, semua harapan itu runtuh ketika Gakpo mencetak gol ketiga hanya dua menit setelah babak kedua dimulai.
Anthony Elanga sempat memberikan hiburan bagi Swedia lewat gol balasan yang indah. Bahkan pemain Manchester United itu sempat memamerkan gerakan Cruyff turn yang mengundang sorakan penonton. Sayangnya, itu tidak cukup untuk menghentikan dominasi Belanda.
Kelemahan Skuad Graham Potter Mulai Terungkap
Swedia memiliki banyak pemain berkualitas dan lini depan yang membuat iri banyak negara. Namun laga melawan Belanda memperlihatkan bahwa mereka masih kesulitan menghadapi tim dengan organisasi permainan dan kualitas individu yang lebih matang.
Pergantian taktik Potter memang membuat timnya lebih agresif, tetapi keputusan penting Koeman sudah memberikan dampak bahkan sebelum pertandingan dimulai.
Memasang Brobbey sejak awal menjadi kunci yang mengubah jalannya laga.
Pada akhirnya, Belanda tampil seperti kandidat serius juara dunia, sedangkan Swedia kembali menyisakan tanda tanya besar. Mungkin inilah gambaran sesungguhnya tentang level skuad Graham Potter saat menghadapi lawan kelas atas.
Dan jika penampilan seperti ini terus berlanjut, para pesaing Oranje sudah mendapat satu peringatan yang sangat jelas.