← Beranda
Kontroversi Aturan Bahasa FIFA di Piala Dunia 2026 Menuai Kritik secara Global
Risma Azzah FatinSelasa, 16 Juni 2026 | 03.16 WIB
Marquinhos dan Achraf Hakimi (Instagram @fifaworldcup)

JawaPos.com - FIFA menghadapi gelombang kritik setelah aturan bahasa dalam konferensi pers resmi Piala Dunia 2026 dianggap membatasi kebebasan pemain dalam berkomunikasi.

Dikutip dari akun Instagram @muzoneid pada Senin (15/6), sejumlah pemain dilaporkan tidak diperbolehkan menjawab pertanyaan menggunakan bahasa Spanyol meskipun mampu memahami dan menggunakan bahasa tersebut.

Kebijakan ini menjadi sorotan karena salah satu tuan rumah turnamen, Meksiko, merupakan negara dengan mayoritas penduduk berbahasa Spanyol.

Salah satu kejadian yang menarik perhatian terjadi ketika pemain Maroko Achraf Hakimi ingin menjawab pertanyaan dari jurnalis asal TV Azteca menggunakan bahasa Spanyol. 

Baca Juga: Empat Kisah Besar yang Mengiringi Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026

Hakimi yang lahir dan besar di Spanyol memahami pertanyaan tersebut, tetapi moderator FIFA meminta jawaban diberikan sesuai bahasa yang telah ditentukan dalam protokol konferensi pers.

Situasi serupa juga dialami pemain Brasil Vinicius Junior yang meminta penggunaan bahasa Spanyol karena dianggap lebih mudah dipahami olehnya.

Selain Hakimi dan Vinicius, gelandang Belanda Frenkie de Jong juga disebut mengalami pembatasan serupa saat ingin menggunakan bahasa Spanyol dalam sesi konferensi pers. Kondisi ini memicu kritik dari sejumlah media dan penggemar yang menilai aturan FIFA terlalu kaku dalam ajang yang seharusnya mencerminkan keberagaman budaya.

Mereka menganggap penggunaan bahasa yang dipahami bersama dapat menciptakan komunikasi lebih alami antara pemain dan jurnalis.

FIFA menjelaskan bahwa aturan itu diterapkan untuk mempermudah proses penerjemahan dan memastikan seluruh peserta konferensi pers dapat memahami jalannya sesi tanya jawab.

Meski demikian, kebijakan tersebut tetap menuai perdebatan karena dianggap berpotensi membatasi ekspresi pemain dalam menyampaikan pandangan mereka.

Kontroversi ini menjadi salah satu isu nonpertandingan yang mewarnai penyelenggaraan Piala Dunia 2026.

Baca Juga: 4 Strategi Jitu Jerman Menghancurkan Curacao dengan Kemenangan Telak 7-1 di Piala Dunia 2026

EDITOR: Candra Mega Sari