JawaPos.com - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengajak keluarga Indonesia membiasakan lagi aktivitas menonton bersama (co-viewing) seluruh anggota keluarga.
Kebiasaan ini menjadi bagian dari upaya menciptakan ruang digital yang lebih aman, sehat, dan edukatif bagi anak.
Menurut Nezar, kebiasaan menikmati tayangan bersama keluarga tidak hanya mempererat hubungan antara orang tua dan anak.
Tetapi juga menjadi sarana penting bagi orang tua untuk mendampingi sekaligus mengenalkan konten yang sesuai dengan usia anak.
Baca Juga: Komdigi Perkuat Kompetensi AI Guru di Aceh Utara untuk Optimalkan Internet SATRIA Pascabencana
"Di tengah disrupsi teknologi, pengalaman menonton perlahan menjadi semakin individual. Gadget membuat kita menikmati berbagai hal sendirian, bahkan ketika keluarga berkumpul di meja makan, sering kali masing-masing sibuk dengan perangkatnya sendiri. Karena itu, budaya menonton bersama menjadi penting untuk mengembalikan kedekatan dalam keluarga," ujar Wamen Nezar dalam acara Netflix Family Festival 2026 World of Wonder di Jakarta Pusat, Sabtu (11/7).
Ia menjelaskan, aktivitas co-viewing memiliki manfaat yang jauh lebih besar daripada sekadar menikmati hiburan bersama.
Melalui kebiasaan tersebut, orang tua dapat berdialog dengan anak mengenai tayangan yang disaksikan, memberikan penjelasan terhadap berbagai informasi yang muncul, sekaligus menanamkan nilai-nilai positif yang terkandung dalam sebuah karya.
"Di situlah proses edukasi berlangsung. Menonton bersama menjadi ruang interaksi keluarga yang mempererat hubungan sekaligus membangun komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak," tuturnya.
Nezar menjelaskan, konsep co-viewing juga selaras dengan implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS).
Baca Juga: Komdigi: Diplomasi Chip Jadi Kunci Indonesia Rebut Posisi Strategis di Era AI
Melalui regulasi tersebut, pemerintah ingin memastikan setiap anak memperoleh pengalaman digital yang aman.
Caranya melalui pembatasan akses berdasarkan kelompok usia serta tersedianya konten yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka.
"Salah satu misi PP TUNAS adalah menciptakan ruang digital yang aman bagi anak-anak. Platform digital diharapkan mampu menghadirkan teknologi yang memastikan anak memperoleh konten sesuai usianya. Harapannya, platform bukan hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menyediakan konten yang edukatif dan memberi manfaat bagi tumbuh kembang anak," jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Nezar juga mengapresiasi langkah Netflix yang dinilai telah berkontribusi memperkuat pelindungan anak di ruang digital melalui penyediaan fitur kontrol orang tua (parental tools), kanal khusus Kids and Family, serta penyelenggaraan Netflix Family Festival yang bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional.
"Ini merupakan kontribusi positif dalam membangun ekosistem digital yang lebih ramah anak. Inisiatif seperti ini menunjukkan bahwa pelindungan anak di ruang digital membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, platform digital, pelaku industri kreatif, dan keluarga," katanya.
Baca Juga: Komdigi Ajak Generasi Muda Bangun Satelit Buatan Indonesia demi Kedaulatan Digital
Selain menghadirkan pengalaman menonton bersama keluarga, festival tersebut juga menyediakan berbagai kelas pengembangan kapasitas bagi kreator melalui sesi bersama praktisi industri animasi dan perfilman internasional.
Nezar menilai tingginya antusiasme sineas Indonesia menjadi sinyal positif bahwa industri kreatif nasional memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan menghasilkan karya yang kompetitif.
"Saya mendapat kabar bahwa film Indonesia saat ini sedang berkembang sangat baik dan mampu bersaing di pasar nasional. Ini momentum yang harus dimanfaatkan untuk terus memperkaya konten-konten lokal yang aman ditonton bersama keluarga, ramah anak, sekaligus mengandung nilai-nilai pendidikan dan inspirasi," ungkapnya.