← Beranda
Jangan Biarkan Amarah Kuasai Hidupmu, Ini Cara Mengendalikan Emosi Menurut Ahli Psikologi dan Riset Modern
Lavinia Tiara Malika• Kamis, 4 September 2025 | 04.35 WIB
Ilustrasi pria yang emosional

JawaPos.com – Marah adalah emosi alami yang pasti pernah dialami setiap orang. Namun, masalah muncul ketika amarah dilampiaskan tanpa kendali, hingga merusak hubungan dengan orang lain maupun berdampak buruk pada kesehatan mental. Pertanyaan pentingnya, bagaimana cara mengendalikan emosi saat marah agar tidak menimbulkan penyesalan?

Menurut video edukasi psikologi yang dibagikan melalui kanal YouTube Satu Persen - Indonesian Life School, emosi marah muncul ketika ada ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan.

Rasa frustrasi ini memicu reaksi tubuh seperti jantung berdebar lebih cepat, nafas pendek, hingga pikiran sulit jernih. Jika dibiarkan, amarah dapat berubah menjadi agresi yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Psikolog menjelaskan, ada beberapa strategi praktis yang bisa dilakukan untuk meredakan amarah:

Baca Juga: Mengapa Kita Sulit Mengingat Mimpi? Psikologi Ungkap Hubungan Antara Mimpi, Ingatan, dan Emosi

  1. Berhenti sejenak (pause). Saat emosi memuncak, cobalah diam beberapa detik untuk menghindari reaksi spontan yang bisa menyakiti orang lain.

  2. Atur pernapasan. Teknik pernapasan dalam membantu menurunkan ketegangan fisik. Menghirup udara secara perlahan lalu menghembuskannya dapat menenangkan sistem saraf.

  3. Alihkan energi. Alihkan rasa marah ke aktivitas fisik positif, misalnya berolahraga, berjalan kaki, atau menulis jurnal. Cara ini membantu menyalurkan energi tanpa melukai siapapun.

  4. Ubah pola pikir. Video tersebut menekankan pentingnya menyadari bahwa marah seringkali dipicu oleh interpretasi berlebihan. Dengan mengubah sudut pandang, kita bisa meredakan emosi lebih cepat.

  5. Komunikasi dengan tenang. Jika amarah muncul karena orang lain, sampaikan perasaan secara asertif, bukan dengan teriakan atau kata-kata kasar.

Mengapa hal ini penting? Penelitian psikologi menemukan bahwa marah berlebihan tidak hanya berpengaruh pada kondisi mental, tetapi juga berdampak pada kesehatan fisik. Risiko tekanan darah tinggi, gangguan jantung, hingga stres kronis dapat meningkat ketika emosi meledak tanpa kendali. Lebih jauh, amarah yang tidak terkendali sering kali memperburuk hubungan, baik dalam ranah personal maupun profesional.

Baca Juga: Kenali Bagaimana MBTI Respon Emosi Negatif, dari Introvert yang Menarik Diri hingga Ekstrovert yang Meledak-ledak

Dalam kehidupan sehari-hari, mengendalikan amarah bukan berarti menekan perasaan. Sebaliknya, ini tentang belajar mengekspresikan emosi secara sehat. Teknik sederhana seperti mengambil jeda (pause), menarik napas dalam-dalam, hingga menggunakan komunikasi asertif dapat membantu setiap orang melatih diri agar lebih matang menghadapi konflik.

Mengelola emosi saat marah sejatinya adalah keterampilan yang bisa dipelajari. Tidak ada manusia yang sepenuhnya bebas dari amarah. Namun, dengan kesadaran diri dan strategi psikologis, emosi tersebut bisa diarahkan menjadi energi positif. Kendali diri bukan hanya membuat hidup lebih tenang, tetapi juga menjaga hubungan tetap harmonis.

Psikologi menekankan pentingnya self-awareness atau kesadaran diri. Banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya sedang marah hingga emosi sudah meledak. Padahal, mengenali tanda-tanda awal seperti wajah memanas, jantung berdegup kencang, atau otot yang menegang bisa menjadi alarm untuk segera mengambil langkah pencegahan.

Contohnya, saat terjebak macet dan mulai kesal, mendengarkan musik atau podcast bisa menjadi pengalih perhatian yang menenangkan. Dalam konteks pekerjaan, ketika menghadapi rekan yang tidak memenuhi janji, menunda percakapan hingga emosi mereda jauh lebih efektif daripada langsung meluapkan amarah. Dengan cara ini, pesan dapat tersampaikan jelas tanpa merusak hubungan profesional.

Selain itu, psikolog juga menyarankan teknik mindfulness. Melatih diri untuk hadir penuh dalam momen membantu kita mengurangi reaksi berlebihan terhadap hal-hal kecil. Latihan singkat seperti meditasi lima menit setiap hari terbukti mampu menurunkan intensitas emosi negatif dan membuat respons lebih terkendali.

Tidak kalah penting, gaya hidup sehat sangat berpengaruh terhadap kestabilan emosi. Kurang tidur, pola makan tidak teratur, serta stres berkepanjangan membuat seseorang lebih mudah tersulut amarah. Dengan menjaga kesehatan fisik, kemampuan mengatur emosi pun menjadi lebih seimbang.

Pada akhirnya, mengendalikan amarah bukan hanya demi ketenangan pribadi, tetapi juga untuk menjaga kualitas interaksi sosial. Hubungan yang harmonis lahir dari individu yang mampu mengelola emosinya dengan bijak, sehingga menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi semua orang.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho