← Beranda
Kenapa Kita Bisa Merasa Cemas? Ini Penyebab Rasa Cemas Menurut Ahli dan Cara Mengelolanya dengan Tepat
Lavinia Tiara MalikaJumat, 29 Agustus 2025 | 04.06 WIB
Rasa cemas dapat muncul dari faktor biologis, psikologis, hingga lingkungan, dan perlu dikelola agar tidak mengganggu kualitas hidup./Freepik.

JawaPos.com – Hampir semua orang pernah merasakan cemas, baik sebelum ujian, wawancara kerja, atau menghadapi situasi baru.

Namun, pada sebagian orang, rasa cemas bisa muncul berlebihan dan terus-menerus hingga mengganggu aktivitas harian.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: dari mana sebenarnya rasa cemas itu datang?

Apa Itu Cemas dan Mengapa Bisa Terjadi?
Menurut Cleveland Clinic (2023), kecemasan adalah reaksi alami tubuh terhadap stres, ditandai dengan rasa khawatir berlebihan, tegang, atau takut terhadap sesuatu yang belum tentu nyata.

Pada kadar tertentu, cemas dapat membantu seseorang lebih waspada. Namun, bila berlebihan, kondisi ini dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan (anxiety disorder).

Baca Juga: Fenomena Quiet Quitting di Kalangan Anak Muda: Kerja Secukupnya, Jaga Mental, Hidup Lebih Berkualitas

Faktor Biologis dan Otak
National Center for Biotechnology Information (NCBI) menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama kecemasan adalah ketidakseimbangan neurotransmitter di otak, terutama serotonin dan dopamin.

Ketika sistem saraf pusat terlalu aktif, tubuh memproduksi hormon stres seperti kortisol, sehingga memicu detak jantung cepat, keringat berlebih, hingga sulit tidur.

Pengaruh Psikologis dan Lingkungan
Psychology Today menyebutkan bahwa pengalaman masa lalu, trauma, hingga pola asuh juga bisa meningkatkan risiko kecemasan.

Misalnya, seseorang yang pernah gagal besar atau mengalami perundungan (bullying) cenderung lebih rentan terhadap rasa takut berlebihan. Lingkungan kerja yang penuh tekanan, tuntutan akademik, atau hubungan sosial yang tidak sehat juga dapat memperburuk gejala.

Baca Juga: Rahasia Mengatasi Demam Panggung: Tips Psikologi untuk Tampil Percaya Diri di Depan Umum

Mental Health Foundation (2023) menambahkan, pandemi COVID-19 turut meningkatkan angka kecemasan secara global.

Ketidakpastian masa depan, berita buruk yang terus-menerus, hingga isolasi sosial membuat banyak orang merasa terjebak dalam lingkaran kecemasan.

Siapa yang Paling Rentan Mengalami Cemas?
Primaya Hospital menjelaskan bahwa gangguan kecemasan bisa dialami siapa saja tanpa memandang usia atau status sosial.

Namun, data menunjukkan perempuan lebih berisiko dibanding laki-laki, terutama karena faktor hormonal dan tekanan sosial.

Selain itu, anak muda yang sedang mencari jati diri atau orang dewasa yang menghadapi tekanan finansial juga masuk kategori rentan.

Siloam Hospitals menyebutkan bahwa kecemasan sering muncul bersamaan dengan gangguan lain, seperti depresi atau fobia. Hal ini membuat diagnosis dan penanganannya menjadi lebih kompleks.

Gejala Cemas yang Perlu Diwaspadai
Mitra Keluarga menjelaskan, rasa cemas bukan hanya memengaruhi pikiran tetapi juga tubuh. Gejala yang umum meliputi:

  • Rasa khawatir berlebihan dan sulit dikendalikan

  • Jantung berdebar atau napas terasa pendek

  • Otot kaku atau nyeri tanpa sebab jelas

  • Gangguan tidur

  • Mudah lelah dan sulit berkonsentrasi

Jika gejala berlangsung lebih dari enam bulan dan mengganggu aktivitas, kemungkinan besar seseorang mengalami gangguan kecemasan.

Bagaimana Cara Mengelola Rasa Cemas?
Ada beberapa strategi yang direkomendasikan oleh para ahli:

  1. Latihan Relaksasi. Teknik pernapasan dalam, meditasi, atau yoga terbukti menurunkan hormon stres.

  2. Olahraga Rutin. Aktivitas fisik merangsang pelepasan endorfin yang membuat suasana hati lebih baik.

  3. Batasi Konsumsi Kafein dan Alkohol. Kedua zat ini dapat memperburuk gejala cemas.

  4. Terapi Psikologis. Cognitive Behavioral Therapy (CBT) efektif membantu mengubah pola pikir negatif menjadi lebih sehat.

  5. Dukungan Sosial. Berbicara dengan orang terdekat atau mengikuti komunitas bisa mengurangi perasaan terisolasi.

  6. Pengobatan Medis. Dalam kasus berat, dokter dapat meresepkan obat antidepresan atau antianxiety untuk menstabilkan kondisi.

Rasa cemas adalah bagian alami dari kehidupan, tetapi bisa menjadi masalah serius bila tidak dikelola dengan baik. Memahami dari mana kecemasan berasal, baik dari faktor biologis, psikologis, maupun lingkungan, adalah langkah pertama untuk menanganinya. Dengan strategi tepat dan dukungan yang memadai, kecemasan dapat dikendalikan sehingga tidak lagi menghalangi kualitas hidup.

EDITOR: Hanny Suwindari
Tags:cemas