JawaPos.com – Beberapa orang yang merantau jauh dari keluarga menunjukkan perilaku khas yang dipengaruhi oleh pengalaman hidup mandiri.
Perilaku merantau ini sering dikaitkan dengan kemampuan beradaptasi sekaligus menghadapi tantangan emosional yang besar.
Dalam kajian psikologi, hidup jauh dari keluarga membentuk pola pikir dan kebiasaan baru yang unik.
Menelusuri perilaku orang yang merantau menurut psikologi membuka pandangan menarik tentang cara mereka bertahan dan berkembang.
Baca Juga: Simak! 4 Tipe Introvert yang Perlu Kamu Tahu, Menurut Psikologi
Dilansir dari geediting.com pada Senin (15/9), bahwa ada tujuh ciri perilaku orang yang merantau jauh dari keluarga menurut psikologi.
- Memanfaatkan teknologi untuk tetap terhubung
Tinggal berjauhan dengan orang-orang terdekat mendorong seseorang untuk mengandalkan teknologi modern sebagai jembatan komunikasi.
Video call, grup chat, dan media sosial menjadi alat vital yang memungkinkan seseorang tetap mengikuti perkembangan kehidupan orang-orang terkasih.
Meskipun tidak dapat menggantikan pertemuan langsung, teknologi memberikan solusi terbaik untuk menjaga hubungan tetap erat dan bermakna.
Carl Rogers, seorang ahli kejiwaan terkenal, menekankan pentingnya tetap terbuka dan terhubung dalam menjalani pengalaman hidup.
Dengan merangkul teknologi, seseorang dapat merasakan momen-momen penting dalam hidup orang terdekat seolah-olah berada di tempat yang sama.
Baca Juga: Menurut Psikologi, Ini 7 Tanda Bahwa Kamu Sebenarnya Seorang Introvert
- Membangun jaringan dukungan di lingkungan baru
Hidup terpisah dari lingkaran terdekat membuat seseorang menyadari betapa pentingnya memiliki sistem dukungan yang kuat di tempat tinggal baru.
Proses ini dimulai dengan menjalin persahabatan, mempererat hubungan dengan rekan kerja, dan terlibat aktif dalam kegiatan komunitas lokal.
Seiring waktu, hubungan-hubungan ini berkembang menjadi "keluarga pilihan" yang dapat diandalkan saat menghadapi berbagai situasi sulit.
Albert Bandura, pakar kejiwaan terkemuka, menyatakan bahwa dalam masa-masa sulit, hal terbaik yang dapat dilakukan adalah saling mendengarkan dengan hati dan telinga.
Memiliki seseorang yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi seringkali lebih berharga daripada mendapatkan semua jawaban atas permasalahan yang dihadapi.
- Mengembangkan kemandirian dan kepercayaan diri
Situasi di mana tidak ada orang terdekat yang dapat diandalkan memaksa seseorang untuk menggali potensi diri yang selama ini terpendam.
Ketika tidak ada tempat bergantung saat menghadapi masalah atau hari-hari berat, seseorang harus belajar mengandalkan diri sendiri sepenuhnya.
Proses ini, meski terasa menakutkan pada awalnya, justru dapat memberikan kekuatan dan pemberdayaan yang luar biasa.
Abraham Maslow mengatakan bahwa setiap saat manusia memiliki dua pilihan: melangkah maju menuju pertumbuhan atau mundur ke zona aman.
Hidup terpisah dari lingkaran terdekat seringkali memaksa seseorang untuk memilih pertumbuhan, menemukan ketahanan inner yang tidak pernah disadari sebelumnya.
- Menciptakan tradisi dan ritual baru
Ketinggalan perayaan dan tradisi bersama orang-orang terdekat menjadi salah satu tantangan emosional terberat yang harus dihadapi.
Alih-alih larut dalam kesedihan, banyak orang yang beradaptasi dengan menciptakan tradisi-tradisi baru yang bermakna di tempat tinggal mereka.
Perayaan Thanksgiving bersama teman atau pertukaran kado Natal secara virtual menjadi contoh bagaimana tradisi baru dapat memberikan rasa familiar dan kepemilikan.
Penelitian dalam Journal of Personality and Social Psychology menunjukkan bahwa tradisi dan ritual membantu seseorang merasa lebih terkendali dan mengurangi perasaan kesepian.
Menciptakan dan merangkul tradisi-tradisi baru tidak hanya mengisi hidup dengan aktivitas menyenangkan, tetapi juga memelihara kesejahteraan emosional secara berkelanjutan.
- Mengutamakan perawatan diri secara menyeluruh
Tanpa dukungan langsung dari orang-orang terdekat, menjaga kesehatan fisik dan mental menjadi tanggung jawab yang tidak bisa diabaikan.
Perawatan diri yang dimaksud bukan hanya tentang kebugaran fisik, melainkan juga pemeliharaan kondisi mental dan emosional yang stabil.
Hal ini mencakup pola makan sehat, olahraga teratur, praktik mindfulness, dan memastikan waktu istirahat yang cukup setiap hari.
Sigmund Freud pernah berkata bahwa suatu hari nanti, masa-masa perjuangan akan terlihat sebagai periode paling indah dalam hidup seseorang.
Kutipan ini menekankan bahwa perawatan diri memang tidak selalu mudah, namun sangat penting untuk kesejahteraan jangka panjang.
- Memanfaatkan kesendirian sebagai peluang pertumbuhan
Hidup terpisah dari lingkaran terdekat ternyata dapat membantu seseorang menghargai dan menikmati waktu kesendirian dengan cara yang positif.
Kesendirian yang dimaksud bukanlah perasaan terisolasi atau kesepian, melainkan kemampuan menikmati kebersamaan dengan diri sendiri.
Ketika tidak dikelilingi oleh hiruk-pikuk kehidupan sosial yang padat, seseorang mendapat kesempatan untuk mengeksplorasi minat pribadi dan merefleksikan pengalaman hidup.
Carl Jung menyatakan bahwa pertemuan dua kepribadian bagaikan kontak dua zat kimia yang menghasilkan transformasi pada keduanya.
Dalam konteks ini, salah satu "kepribadian" tersebut adalah diri sendiri dan kesendirian, yang ketika dimanfaatkan dengan baik dapat menghasilkan transformasi personal yang positif.
- Menghargai setiap hubungan dengan lebih mendalam
Jarak fisik yang memisahkan ternyata membuat seseorang lebih menghargai nilai setiap hubungan dan waktu yang dihabiskan bersama orang-orang terkasih.
Setiap momen kebersamaan, meskipun terbatas, menjadi lebih berharga dan berkesan karena kesadaran akan keterbatasan waktu tersebut.
William James menggambarkan manusia seperti pulau-pulau di lautan yang terpisah di permukaan namun tetap terhubung di kedalaman.
Kutipan ini menunjukkan bahwa meskipun terpisah jarak, ikatan dengan orang-orang terdekat tetap kuat dan berakar dalam.
Pengalaman hidup berjauhan mengajarkan seseorang untuk menghargai dan memelihara hubungan-hubungan ini, menjaga orang-orang terkasih tetap dekat di dalam hati.