← Beranda
7 Ciri Perilaku Orang yang Menonton Ulang Film Lama Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalJumat, 12 September 2025 | 18.15 WIB
Ciri perilaku orang yang menonton ulang film lama menurut psikologi.

JawaPos.com – Perilaku menonton ulang film lama sering kali mencerminkan kebutuhan emosional tertentu dalam diri seseorang.

Kebiasaan ini menunjukkan bagaimana film bisa menjadi sarana untuk mengulang pengalaman yang memberikan kenyamanan.

Psikologi memandang perilaku menonton film berulang sebagai cerminan dari pola pikir dan kondisi emosional individu.

Membahas hubungan antara perilaku, kebiasaan menonton film lama, dan sudut pandang psikologi membuka pemahaman menarik tentang karakter seseorang.

Baca Juga: Hati-Hati! Perilaku Manipulatif Bisa Bikin Cemas, Hilang Percaya Diri, dan Ganggu Kesehatan Mental

Dilansir dari geediting.com pada Jumat (12/9), bahwa ada tujuh ciri perilaku orang yang menonton ulang film lama menurut psikologi.

  1. Mereka mencari kenyamanan dalam hal yang bisa diprediksi

Orang yang gemar mengulang film lama memiliki kecenderungan untuk mencari rasa aman melalui hal-hal yang sudah dapat diprediksi alurnya.

Ketika hidup terasa penuh ketidakpastian dan stres, mereka akan mencari sesuatu yang stabil dan dapat diandalkan untuk memberikan ketenangan.

Dengan mengulang film yang sama, mereka sudah mengetahui dengan pasti bagaimana cerita akan berkembang, tanpa ada kejutan atau twist yang tidak terduga.

Secara ilmiah, kebutuhan akan prediktabilitas ini muncul dari keinginan mendalam untuk memiliki kontrol atas situasi di sekitar mereka.

Ketika realitas terasa kacau dan tidak terkendali, otak secara alami akan mencari pelarian ke dalam dunia yang terkontrol dan dapat diprediksi.

Film lama menjadi semacam zona aman dimana segala sesuatu berjalan sesuai dengan naskah yang sudah mereka hafal di luar kepala.

Baca Juga: Orang Tua yang Kehilangan Kekaguman dari Anak-anaknya Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Menunjukkan 8 Perilaku Ini Menurut Psikologi

  1. Mereka menggunakan film sebagai bentuk pelarian

Film lama menjadi sarana efektif untuk melarikan diri dari berbagai tekanan dan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti yang pernah diungkapkan oleh psikolog ternama Carl Jung, sinema memungkinkan seseorang untuk merasakan pengalaman tanpa bahaya nyata.

Melalui film, mereka dapat mengalami petualangan, romance, atau drama tanpa harus menghadapi konsekuensi yang sesungguhnya.

Film yang sudah familiar memberikan jaminan keamanan emosional karena mereka sudah tahu persis bagaimana cerita akan berakhir.

Aktivitas ini mirip seperti mengambil liburan singkat tanpa harus meninggalkan kenyamanan rumah.

Pelarian melalui film membantu mereka melepaskan beban mental dan memberikan jeda dari rutinitas yang melelahkan.

  1. Mereka membentuk ikatan emosional dengan karakter

Manusia secara alamiah memiliki kemampuan untuk berempati dan terhubung secara emosional dengan karakter dalam film.

Ikatan ini terbentuk karena mereka melihat karakter tersebut berkembang, menghadapi tantangan, dan meraih kemenangan.

Perasaan bangga, sedih, atau bahagia yang muncul saat menyaksikan perjalanan karakter menunjukkan betapa kuatnya koneksi emosional yang terjalin.

Pengulangan film memungkinkan ikatan ini semakin menguat karena mereka terus "bertemu" dengan karakter yang sama berkali-kali.

Karakter dalam film favorit mereka menjadi seperti teman lama yang selalu dapat diandalkan untuk memberikan kenyamanan.

Hubungan emosional ini memberikan rasa kebersamaan dan mengurangi perasaan kesepian yang mungkin mereka alami.

  1. Mereka menemukan kenyamanan dalam nostalgia

Nostalgia memiliki kekuatan terapeutik yang dapat mengurangi perasaan kesepian, kebosanan, dan kecemasan.

Penelitian dalam Journal of Consumer Research menunjukkan bahwa nostalgia dapat membuat hidup terasa lebih bermakna dan mengurangi ketakutan akan kematian.

Film lama membawa mereka kembali ke masa-masa yang lebih sederhana atau periode tertentu dalam hidup mereka yang penuh kenangan indah.

Meskipun nostalgia kadang membawa perasaan sedih karena merindukan masa lalu, efek positifnya tetap lebih dominan.

Emosi nostalgia membuat mereka lebih toleran terhadap orang lain dan cenderung lebih dermawan dalam berinteraksi sosial.

Mengulang film dari masa lalu memberikan jangkar emosional yang stabil di tengah perubahan hidup yang terus terjadi.

  1. Mereka menghargai seni bercerita

Orang yang suka mengulang film lama biasanya memiliki apresiasi tinggi terhadap kerajinan dan seni dalam penyampaian cerita.

Setiap kali mengulang, mereka dapat menemukan detail-detail baru yang mungkin terlewat pada tontonan sebelumnya.

Mereka mulai memperhatikan elemen-elemen seperti foreshadowing, simbolisme, atau dialog yang memiliki makna ganda.

Pengulangan memungkinkan mereka untuk menganalisis struktur cerita, pengembangan karakter, dan teknik sinematografi dengan lebih mendalam.

Seperti mengupas bawang berlapis, setiap tontonan membuka pemahaman baru tentang kompleksitas narasi yang disajikan.

Apresiasi terhadap storytelling ini membuat mereka tidak hanya menikmati plot, tetapi juga cara cerita tersebut dikemas dan disampaikan.

  1. Mereka menggunakan film untuk memproses emosi

Film dapat menjadi alat bantu yang efektif untuk memahami dan mengolah perasaan yang kompleks.

Ketika menghadapi situasi emosional yang sulit, mereka cenderung mencari film yang resonan dengan kondisi yang sedang dialami.

Melalui karakter di layar, mereka belajar cara menangani emosi seperti kesedihan, kemarahan, atau kekecewaan.

Kadang kala, lebih mudah memproses perasaan negatif ketika disajikan dalam konteks fiksi yang aman.

Film memberikan ruang untuk merasakan dan mengekspresikan emosi tanpa judgment atau konsekuensi sosial.

Proses ini membantu mereka mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang diri sendiri dan cara mengelola perasaan.

  1. Mereka meningkatkan kemampuan sosial

Meskipun terlihat kontradiktif, aktivitas mengulang film ternyata dapat mengasah keterampilan sosial seseorang.

Film penuh dengan interaksi sosial yang kompleks seperti percakapan, konflik, momen romantis, dan dinamika hubungan antar karakter.

Dengan mengamati berulang kali, mereka dapat mempelajari berbagai perspektif dan reaksi dalam situasi sosial yang berbeda.

Penelitian dalam Journal of Media Psychology menunjukkan bahwa orang yang rutin menonton film memiliki kemampuan lebih baik dalam mengenali emosi orang lain.

Kemampuan membaca emosi ini merupakan komponen penting dari kecerdasan emosional dan interaksi sosial yang efektif.

Pengamatan terhadap dinamika sosial dalam film memberikan semacam panduan praktis untuk berinteraksi dalam kehidupan nyata.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho