JawaPos.com – Musyrif Diny Kementerian Haji dan Umrah RI mendorong agar pelaksanaan haji bisa lebih efisien. Salah satunya adalah dengan mengurangi masa tinggal jamaah haji di tanah suci.
Tahun ini, masa tinggal jamaah haji Indonesia di tanah suci rata-rata 40 hari, ditambah 2 hari penerbangan pergi dan pulang.
Anggota Musyrif Diny KH Cholil Nafis menjelaskan, masa tinggal 40 hari itu terlalu lama untuk jamaah haji Indonesia dan tidak efisien.
Masa tinggal yang lama menjadi salah satu faktor biaya haji Indonesia masih tinggi. Padahal, masa tinggal jamaah masih bisa dikurangi.
Baca Juga: Otoritas Saudi Pertimbangkan Opsi Tanazul 50 Persen di Musim Haji 2027 untuk Indonesia
“Umpamanya bisa dijadikan 30 hari, bisa juga 25 hari,” terang Cholil Nafis di Makkah, Jumat (5/6) sore Waktu Arab Saudi (WAS).
Pengurangan masa tinggal bisa dimulai dari Madinah. Selama ini, jamaah haji diprogramkan berada di Madinah selama 8 hari untuk menjalani shalat arbain, atau shalat wajib 40 waktu berjamaah di Masjid Nabawi.
“Bagaimana kalau umpamanya Arbain itu menjadi opsional. Yang mau Arbain monggo, yang nggak mau Arbain di Madinah bisa lebih cepat, bisa tiga hari,” lanjutnya.
Kemudian, masa tinggal di Makkah juga bisa dikurangi. Sebab, masa puncak haji sebenarnya tidak lama.
Masa puncak haji, tutur Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia itu, efektifnya hanya selama seminggu.
Baca Juga: Wamenhaj Saudi Kunjungi Daker Makkah, Ajak Indonesia Persiapkan Haji 2027 Bersama
Dimulai dari wukuf di Arafah pada 9 Zulhijjah, dilanjutkan mabit di Muzdalifah hingga 10 Zulhijjah dini hari, dan disambung lontar jumrah Aqabah di hari yang sama.
Lalu dilanjutkan lontar jumrah pada 11-12 Zulhijjah utuk nafar awal dan 13 Zulhijjah untuk nafar tsani.
Kemudian, maksimal pada 14 Zulhijjjah jamaah haji sudah menjalani Tawaf Ifadah, sa’i, serta tahalul. Bila ditambah persiapan awal, maka hari tarwiyah 8 Zulhijjah juga bisa dimasukkan.
Alih-alih Arbain, Cholil Nafis justru mendorong agar Kemenhaj memfasilitasi tarwiyah. Yakni mabit atau bermalam di Mina pada 8 Zulhijjah sebelum wukuf di Arafah.
“Dari Makkah bisa berangkat tanggal 7 (Zulhijjah), tanggal 8 ada di Mina,” tuturnya.
Baca Juga: Indonesia Kirim Ribuan Ekor Daging Dam Jamaah Haji ke Palestina, Dikirim Via Mesir
Kemudian dilanjutkan dengan wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan memprogramkan nafar tsani untuk lontar jumrah.
Tahun ini mayoritas atau sekitar 68 persen jamaah haji Indonesia mengambil nafar awal, yakni melontar jumrah hanya sampai 12 Zulhijjah.
Meski menurut Alquran tidak ada dosa bagi mereka yang mengambil nafar awal, namun, tetap yang utama adalah nafar tsani.
Karena itu, menurut dia lebih baik Kemenhaj memaksimalkan masa puncak haji namun mengurangi masa tinggal jamaah haji.
Bila kendalanya adalah penerbangan, maka Kemenhaj harus punya lobi kuat ke otoritas Arab Saudi uuntuk menambah bandara kedatangan dan kepulangan.
Baca Juga: Petugas Bandara Sita Air Zamzam Bawaan Jamaah Haji Indonesia, Koper Dibongkar
“Untuk yang jalur Makkah lewat Thaif, (sebagai) tambahan yang dari Jeddah. Yang dari Madinah bisa tambahan dari Yanbu.
Bandara Internasional Taif hanya 1,5 jam perjalanan dari Makkah, sementara Bandara Prince Abdul Mohsin bin Abdulaziz Yanbu sekitar 3 jam perjalanan dari Madinah.
Bila kedua bandar aini bisa dimaksimalkan, maka masa tinggal jamaah haji Indonesia bisa dikurangi.
Dampaknya, dengan biaya yang sama, fasilitas yang didapat jamaah haji bisa lebih baik karena dana hasil efisiensi bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas layanan.
Sebelumnya, masa tinggal jamaah haji tahun ini ditetapkan 42 hari. terdiri dari 8 hari di Madinah, 32 hari di Makkah, dan 2 hari penerbangan pergi dan pulang.
Baca Juga: Saudi Rilis Jadwal Persiapan Haji 2027, Kemenhaj Mulai Susun Komponen Biaya Haji
Kondisi ini tidak lepas dari banyaknya jumlah jamaah haji Indonesia, yang membuat penerbangan pergi dan pulang harus dilangsungkan masing-masing selama 30 hari.