← Beranda

11 Perilaku yang Tampak Positif Namun Diam-Diam Menjadi Tanda Suami Sangat Tidak Bahagia dalam Pernikahan, Menurut Psikologi

Yurahmi PutriKamis, 28 Agustus 2025 | 02.37 WIB
Tidak semua sikap baik suami menandakan kebahagiaan dalam rumah tangga.

JawaPos.com-Pernikahan sering digambarkan sebagai puncak kebahagiaan, tetapi kenyataannya, tidak semua pasangan merasa demikian. Dalam banyak kasus, seorang suami bisa tampak baik-baik saja di permukaan, penuh perhatian, bahkan terlalu manis—padahal di dalam hatinya ia merasa kosong, tidak bahagia, atau bahkan sudah menyerah pada hubungan. 

Statistik menunjukkan bahwa hanya 17% pasangan yang benar-benar bahagia dalam pernikahan mereka (Dana Adam Shapiro, You Can Be Right Or You Can Be Married). Artinya, banyak dari kita mungkin salah membaca tanda-tanda.

Dilansir dari laman Your Tango, artikel ini akan membahas 11 perilaku yang terlihat baik namun sebenarnya merupakan tanda suami yang sangat tidak bahagia, lengkap dengan analisis psikologis dan tips praktis untuk menghadapi situasi ini.

1. Bercanda Terus-Menerus

Humor dalam hubungan memang penting, tetapi bila seorang suami selalu menutupi percakapan serius dengan candaan, itu pertanda ia menghindari komunikasi mendalam. Psikoterapis Michelle P. Maidenberg, PhD menjelaskan bahwa komunikasi bermakna melibatkan keterbukaan, kepercayaan, dan koneksi emosional. Jika humor menjadi tameng, pasangan kehilangan kesempatan untuk saling memahami lebih dalam.

Tips: Jika pasangan terlalu sering bercanda, cobalah ajak bicara di momen tenang. Katakan bahwa Anda ingin mendengar isi hatinya tanpa humor sebagai pengalih.

2. Selalu Terlalu Sibuk

Di era modern, semua orang sibuk. Namun, jika seorang suami selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan atau aktivitas lain, itu bisa berarti ia menghindari interaksi dengan pasangan. Psikolog Randi Gunther, PhD menekankan bahwa hubungan harus diperlakukan seperti investasi—membutuhkan waktu, energi, dan perhatian. Ketika suami menjadikan kesibukan sebagai alasan, itu bisa menunjukkan ia tidak bahagia.

Tips: Ajak diskusi ringan tentang prioritas. Buat jadwal sederhana untuk quality time, bahkan hanya 15 menit sehari tanpa distraksi gadget.

3. Selalu Tenang, Tidak Pernah Bertengkar

Tenang memang terdengar baik, tetapi tidak pernah berkonflik justru tanda bahaya. Menurut Elizabeth Plumptre, bertengkar dengan sehat bisa memperkuat hubungan karena membuka ruang komunikasi. Jika suami menghindari konflik sama sekali, itu berarti ia sudah berhenti peduli atau takut konfrontasi.

Tips: Validasi perasaannya dan tanyakan secara lembut apakah ada hal yang membuatnya enggan menyuarakan opini.

4. Membantu Lebih dari Biasanya

Membantu pasangan tentu baik, tetapi bila tiba-tiba suami berlebihan dalam memberi bantuan, bisa jadi itu tanda ia haus validasi. Alih-alih membicarakan perasaan tidak dihargai, ia memilih mencari pengakuan lewat aksi. Padahal, komunikasi lebih sehat daripada sekadar tindakan.

Tips: Saat suami melakukan sesuatu, jangan hanya berterima kasih, tetapi tanyakan juga perasaannya: "Apa kamu merasa sudah cukup dihargai?"

5. Selalu Setuju dengan Istrinya

Kedengarannya ideal, tetapi jika suami tidak pernah berbeda pendapat, itu pertanda ia merasa tidak aman untuk mengekspresikan dirinya. Psikolog Mark Travers, PhD menyebut bahwa menyembunyikan opini justru berbahaya bagi hubungan jangka panjang.

Tips: Ciptakan ruang aman untuk berbeda pendapat. Katakan, "Aku ingin tahu pendapatmu, meski berbeda dariku."

6. Mendorong Istrinya Menghabiskan Waktu Sendiri

Waktu pribadi memang sehat, tetapi bila suami terlalu sering mendorong istrinya pergi tanpa dirinya, itu mungkin tanda ia ingin menjauh. Menurut Alice Boyes, PhD, waktu terpisah bisa positif, namun jika intensitasnya terlalu sering, justru menandakan penarikan diri emosional.

Tips: Bedakan antara kebutuhan ruang pribadi dengan penolakan. Ajak ia membuat aktivitas bersama yang juga terasa ringan dan menyenangkan.

7. Membiarkan Istrinya Selalu Menang

Jika seorang suami selalu mengalah dan membiarkan pasangannya memutuskan segalanya, itu bisa berarti ia sudah menyerah. Dokter Bruce Y. Lee, MD menekankan bahwa berdebat sehat bisa memperkuat hubungan. Mengalah terus-menerus justru menunjukkan ketidakbahagiaan mendalam.

Tips: Sesekali tanyakan pendapatnya sebelum mengambil keputusan. Pastikan ia merasa pendapatnya dihargai.

8. Memberikan Hadiah Berlebihan

Hadiah memang manis, tetapi jika hadiah terasa terlalu sering dan berlebihan, itu bisa jadi kompensasi dari masalah emosional. Psikolog Zofia Czajkowska, PhD menekankan bahwa kejujuran jauh lebih bernilai daripada materi.

Tips: Apresiasi hadiahnya, tetapi gunakan momen itu untuk membuka percakapan jujur tentang perasaan.

9. Memfokuskan Energi Hanya pada Anak

Menjadi ayah yang baik penting, tetapi jika seluruh energi suami hanya tercurah pada anak dan melupakan pasangan, itu pertanda ia menjauh. Seperti yang diungkapkan Amber Doty, anak-anak belajar tentang hubungan dari melihat interaksi orang tuanya. Jika fokus hanya pada anak, hubungan suami-istri bisa retak.

Tips: Ingatkan bahwa hubungan inti adalah fondasi keluarga. Buat kencan singkat berdua, walau hanya di rumah.

10. Membiarkan Istri Membuat Semua Keputusan

Sekilas terlihat penuh pengertian, tetapi jika suami tidak lagi terlibat dalam keputusan, itu tanda ia berhenti berinvestasi dalam hubungan. Psikolog Sabrina Romanoff, PsyD menyebut fenomena ini sebagai quiet quitting dalam pernikahan.

Tips: Libatkan dia dalam keputusan kecil sehari-hari agar merasa kembali menjadi bagian penting dalam hubungan.

11. Terlalu Sering Meminta Maaf

Meminta maaf memang tanda tanggung jawab, tetapi jika suami minta maaf untuk hal-hal kecil bahkan saat tidak salah, itu menunjukkan ia tidak merasa aman. Elizabeth Plumptre menekankan bahwa komunikasi sehat harus bebas dari ketegangan berlebihan.

Tips: Yakinkan dia bahwa Anda tidak mencari kesempurnaan, melainkan kejujuran dan kenyamanan emosional.

Tidak semua sikap baik berarti pernikahan Anda sehat. Terkadang, perilaku positif justru menyamarkan rasa sakit hati dan ketidakbahagiaan yang mendalam. Jika Anda melihat tanda-tanda di atas pada suami, jangan buru-buru menganggapnya sempurna. Justru saat itulah Anda perlu lebih peka, membangun komunikasi terbuka, dan mencari cara untuk memperbaiki koneksi emosional.

Ingat, pernikahan yang sehat bukan tentang menghindari konflik atau menumpuk hadiah, melainkan keberanian untuk saling jujur, mendengarkan, dan tumbuh bersama.

 

EDITOR: Setyo Adi Nugroho