JawaPos.com – Pelancong muslim yang berkunjung ke Berlin, ibu kota Jerman, rasanya belum lengkap kalau belum menginjakkan kaki di Masjid Sehitlik (Sehitlik Moschee). Masjid yang dibangun oleh warga keturunan Turki di Jerman tersebut dianggap sebagai salah satu masjid terindah di Jerman, dan menjadi yang paling cantik di Berlin.
Arsitektur masjid itu mengingatkan akan Masjid Biru di Istanbul berkat menara-menara yang menjulang di samping kubahnya. Kubah besar dan menara lancip pada masjid merupakan ciri khas arsitektur era Kekaisaran Utsmaniyah (Ottoman). Arsiteknya bernama Hilmi Senalp. Dia juga yang merancang Tokyo Camii, masjid di Tokyo tempat pernikahan artis Syahrini-Reino Barack serta Maia Estianty-Irwan Mussry.
Ketika wartawan JawaPos.com tiba di masjid itu pada Jumat pekan lalu (23/10) untuk menunaikan salat Jumat, sejumlah umat muslim yang sebagian besar keturunan Turki sudah berkumpul di teras masjid. Ya, mungkin yang ada dalam benak mereka, daripada gabut nungguin waktu salat Jumat, mereka menikmati teh atau kopi panas sambil makan roti, ya kan. ’’Kami ngobrol-ngobrol dulu sambil makan roti sebelum salat. Biasanya seperti ini,’’ ucap Esad Gani, dalam Bahasa Jerman saat berbincang dengan saya.
Mereka duduk-duduk di kursi yang ada di depan kompleks pemakaman Islam. Hah, serius nongkrong di depan makam? Iya dong. Sebab, masjid ini memang dibangun di dalam kompleks pemakaman. Bahkan pemakaman itu sudah ada lebih dulu dibandingkan dengan masjidnya.
Pemakaman yang ada di halaman masjid adalah pemakaman tertua bagi umat muslim di Jerman. Masjid Sehitlik sendiri selesai dibangun pada 1983. Sebelumnya sudah ada pemakaman muslim di sini yang diberi nama Pemakaman Sehitlik. Area pemakaman dan masjid, masuk kawasan diplomatik Turki.
Sejarahnya, pada 1798 Duta Besar Kekaisaran Ottoman yang saat itu dikuasai Sultan Selim III, Ali Aziz Effendi meninggal di Berlin. Penguasa Kerajaan Prusia (nama lama Jerman) saat itu, Raja Friedrich Willhelm III, memberikan sebidang tanah di kawasan Tempelhof sebagai tempat peristirahatan terakhir sang Duta Besar. Sejak saat itu, lokasi tersebut menjadi pemakaman Muslim di Jerman. Pada 1999 sampai 2005, masjid direnovasi dan diperbesar hingga seperti yang terlihat saat ini.
Melihat sejarah panjang dari masjid yang berkolasi di kawasan Tempelhof tersebut, tak heran, saya pun penasaran untuk berkunjung ke masjid ini. Namun, pada kunjungan pertama, rasa penasaran itu harus dipendam dalam-dalam. Nah lho…
Ketika akan masuk ke dalam ruangan salat masjid ini, jamaah harus menulis nama, alamat, dan nomor telpon di sebuah buku tamu. Setelah mengisi buku tamu, saya pun melepas sepatu, kemudian bersiap masuk ke masjid. Namun, tiba-tiba salah seorang pengurus masjid datang dan mencegah saya masuk.
Alasannya? Saya tidak pakai kaos kaki. ’’Kamu tidak boleh masuk. Selama pandemi harus pakai kaos kaki,’’ ujar pria paruh baya berbalut sweater hitam dan jeans itu dengan nada tegas. Hmmm, ya udah deh. Apa daya, keinginan harus ditunda dulu. Masa iya dibelain adu mulut. Bukan apa-apa, masalahnya kemampuan Bahasa Jerman saya masih pas-pasan. Masa iya mau berdebat pakai Bahasa Jawa, Hehe…
Namun, rasa penasaran itu akhirnya bisa diobati pada Jumat hari ini (30/10). Sejak berangkat saya mengenakan sweater berlapis jaket parka untuk menembus suhu 9 derajat Celcius di luar. Saya juga tak lupa pakai kaos kaki yang juga tebal. Selain untuk melindungi kaki dari hawa dingin, saya juga tidak ingin ditolak lagi untuk kedua kalinya. Sakit banget rasanya kalau sampai ditolak lagi.
Kali ini, karena sudah pakai kaos kaki, setelah mengambil wudhu di basement masjid, saya pun diperbolehkan masuk ke dalam ruang salat. Mengikuti ceramah dan salat Jumat. Meski tidak paham isi ceramahnya, secara ceramahnya dalam Bahasa Turkiye, namun hati tetap adem dan merasa lega karena akhirnya bisa melaksanakan salat Jumat di situ.
Tak hanya itu, saat di dalam ruang salat utama, saya juga bisa menikmati keindahan interior masjid yang mampu menampung 1.500 jamaah tersebut. Sekujur bagian dalam masjid hingga kubahnya memiliki dinding berwarna putih yang berhias kaligrafi emas dan ornamen abstrak berwarna biru dan merah. Cahaya matahari menembus melalui jendela yang terbuat dari kaca patri, sehingga masjid tak memerlukan lampu di siang hari.
Mimbar untuk ceramah juga memiliki bentuk unik. Berada di tengah dilengkapi dengan tangga sehingga siapapun yang ada di mimbar, bisa terlihat dari segala sisi oleh jemaah. Khatib juga bisa melihat dengan jelas jamaahnya yang sedang mendengarkan ceramahnya. Semoga waktu ceramah siang ini, dia tidak melihat saya yang masih sempat-sempatnya ngupil waktu dia berceramah. (*)
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=2_UFnK5sEZY