← Beranda

Kemiskinan di Gresik Naik, Pertumbuhan Ekonomi Lambat

Dhimas GinanjarSelasa, 23 Maret 2021 | 20.13 WIB
Photo
JawaPos.com - Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Gresik pada triwulan I (Januari–Maret) ini belum menggembirakan. Dari estimasi pada akhir tahun nanti bisa mencapai angka 4,52 persen, sejauh ini pertumbuhan ekonomi masih berada di angka 2 persen.

Kepala Bappeda Gresik Hermanto T. Sianturi mengatakan, pihaknya memang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada akhir 2021 bisa mencapai 4,52 persen. Namun, melihat tren pada triwulan I ini, agaknya dibutuhkan upaya-upaya signifikan agar ke depan terus naik.

Meski pada triwulan I pertumbuhan ekonomi masih 2 persen, jika dibandingkan dengan akhir 2020 ada kenaikan. Namun, kenaikannya hanya 0,98 persen. Hermanto mengatakan, penyebab pergerakan pertumbuhan ekonomi itu masih lamban cukup kompleks. Salah satunya, sektor UMKM yang belum 100 persen bangkit di masa satu tahun pandemi Covid-19. Begitu pula dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat.

’’Kondisi ini masih menjadi PR untuk merealisasikan agar tahun 2021 menjadi titik bangkit pertumbuhan ekonomi Gresik,” tuturnya.

Hermanto mengungkapkan, untuk mewujudkan proyeksi pertumbuhan ekonomi mencapai 4,52 persen pada akhir 2021, arah kebijakan pemkab bakal memutar pergerakan ekonomi di desa. Banyak poin yang menjadi potensi seperti program padat karya hingga UMKM. ’’Bupati berencana memasukkan produk UMKM agar bisa dijual di toko-toko modern. Nah, ini sedang dibahas,” katanya.

Selain itu, dari studi pemkab, sektor yang menggiurkan untuk membangkitkan ekonomi adalah pertanian. Karena itu, pada April nanti pemkab memperbarui peta wilayah. Termasuk memperbarui zona wilayah pemanfaatan lahan. Herman menyebutkan, pemkab sudah memiliki rancangan agar enam kecamatan kantong pertanian tidak dikonversi. Yakni, Kecamatan Benjeng, Balongpanggang, Dukun, Cerme, Duduksampeyan, dan Kedamean.

’’Di sinilah peran pemerintah hadir, kantong pertanian itu tidak boleh dikonversi menjadi lahan bangunan. Sebab, penyangga ketahanan pangan di Gresik ada di situ. Setidaknya, memetakan kantong pertanian itu menjadi awal fokus pemerintah pada sektor pertanian ke depan,” ungkap mantan kepala dinas lingkungan hidup tersebut.

Sementara itu, data angka kemiskinan pada triwulan I juga memberikan kabar kurang menggembirakan. Kini, data angka kemiskinan di Kabupaten Gresik naik sekitar 1 persen menjadi 12,40 persen. Padahal, pada tutup tahun lalu, data kemiskinan berada di angka 11,35 persen. Angka 11,35 persen itu pun sebetulnya sudah turun dari tahun-tahun sebelumnya.

Hermanto menyatakan, setidaknya ada tiga faktor kenaikan angka kemiskinan tersebut. Pertama, ada ketimpangan sosial. Gresik merupakan kota industri, tapi industri belum sepenuhnya menyerap tenaga lokal. Kondisi tersebut juga selaras dengan kebutuhan industri akan SDM dengan skill tertentu.

’’Di Gresik memang mayoritas industri manufaktur sehingga dibutuhkan skill. Jadi, tidak bisa memprioritaskan harus tenaga lokal kalau tidak dilabeli dengan skill yang mumpuni,” ucapnya.

Penyebab kedua, penerapan strategi yang terbilang masih konvensional. Tidak ada terobosan yang memicu pertumbuhan ekonomi pascapandemi. Ketiga, perhatian pemerintah pada sektor pertanian. Padahal, sektor pertanian merupakan satu di antara dua sektor yang mampu menyangga ekonomi saat pandemi dengan kenaikan 0,24 persen. Namun, sektor pertanian belum bisa memperbaiki angka kemiskinan karena belum ada keterlibatan pemerintah secara masif.

Baca Juga: Kongsian Tambang Nikel, Modal dari Utang Rp 63,5 M Hilang

’’Pemkab sedang berusaha mendapatkan kuota subsidi pupuk lebih banyak. Tahun lalu hanya diberi 37 persen. Nah, bupati sedang berusaha agar kuotanya ditambah. Sehingga saat musim tanam tiba, ekonomi pertanian bisa menekan angka kemiskinan,” tuturnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=KtzhVKIU5XU
EDITOR: Dhimas Ginanjar