JawaPos.com – Fenomena keluarga broken home masih menjadi isu serius di Indonesia maupun dunia. Broken home biasanya mengacu pada kondisi keluarga yang retak akibat perceraian, konflik berkepanjangan, atau ketidakharmonisan orang tua.
Anak yang tumbuh dalam situasi ini sering kali menjadi pihak paling terdampak, baik secara psikologis, sosial, maupun akademik.
Menurut jurnal Miind My Miind (2023), anak-anak dari keluarga broken home memiliki risiko lebih tinggi mengalami stres, depresi, serta gangguan perilaku dibanding anak dengan keluarga harmonis.
Ketidakstabilan lingkungan rumah membuat mereka kehilangan rasa aman yang seharusnya menjadi fondasi utama perkembangan emosi.
Dampak Emosional
Emosi menjadi aspek paling awal yang terganggu. Anak dari keluarga broken home rentan mengalami kesedihan berkepanjangan, rasa tidak berharga, dan kemarahan yang sulit dikendalikan.
Penelitian dari Journal of Guidance and Counseling Universitas Tunas Pembangunan (2022) menunjukkan bahwa 60 persen remaja broken home mengalami penurunan kepercayaan diri signifikan akibat konflik orang tua.
Selain itu, anak juga berisiko mengembangkan masalah kepercayaan dalam hubungan interpersonal. Mereka cenderung takut ditinggalkan atau dikhianati karena trauma dari perceraian atau pertengkaran orang tua.
Dampak Sosial
Dampak broken home tidak hanya terbatas di rumah, tetapi juga terbawa ke lingkungan sekolah dan pertemanan. Studi dari Journal of Gender Equality Studies (2023) mencatat bahwa anak broken home sering kali menarik diri dari pergaulan karena malu atau merasa berbeda dari teman-temannya.
Sebaliknya, ada juga yang menunjukkan perilaku agresif sebagai bentuk pelampiasan emosi. Guru dan teman sebaya menjadi pihak yang ikut merasakan perubahan perilaku tersebut. Bahkan, anak bisa berisiko terjerumus ke pergaulan negatif jika tidak mendapat bimbingan yang tepat.
Dampak Akademik
Masalah akademik juga sering muncul. Anak-anak broken home kerap mengalami penurunan konsentrasi, motivasi belajar, hingga prestasi akademik. Jurnal Pranata Sosial (2022) menjelaskan bahwa tekanan emosional membuat anak sulit fokus pada pelajaran.
Tidak sedikit kasus menunjukkan anak yang dulunya berprestasi berubah menjadi kurang aktif atau bahkan drop out akibat stres yang berkepanjangan.
Risiko Kesehatan Mental
Dampak broken home juga bisa menjalar pada kesehatan mental. Menurut Journal of Sangkep UIN Mataram (2023), anak dari keluarga broken home lebih rentan mengalami gangguan kecemasan, depresi, hingga trauma jangka panjang. Kondisi ini bahkan bisa terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara mereka membangun hubungan dengan orang lain.
Psikolog menyebut bahwa trauma masa kecil dari broken home dapat meningkatkan risiko pola hubungan yang tidak sehat di masa depan, seperti sulit berkomitmen atau sebaliknya terlalu bergantung pada pasangan.
Kapan Dampak Mulai Terlihat?
Dampak broken home bisa terlihat segera setelah konflik keluarga terjadi. Namun, bagi sebagian anak, efeknya muncul bertahap, misalnya saat mereka memasuki usia remaja atau dewasa muda. Perubahan perilaku yang drastis seperti menutup diri, penurunan prestasi, atau munculnya perilaku agresif bisa menjadi tanda awal yang patut diwaspadai.
Upaya Mengatasi dan Mendukung Anak
Meski dampak broken home begitu besar, bukan berarti anak tidak bisa bangkit. Beberapa strategi yang direkomendasikan para ahli antara lain:
-
Memberikan dukungan emosional. Anak perlu diyakinkan bahwa perceraian atau konflik orang tua bukan kesalahan mereka.
-
Membangun komunikasi sehat. Orang tua harus tetap menjaga komunikasi terbuka agar anak merasa aman.
-
Terapi psikologis. Konseling bersama psikolog atau konselor sekolah dapat membantu anak mengelola trauma dan emosinya.
-
Lingkungan positif. Dukungan dari keluarga besar, guru, atau teman dekat sangat penting untuk menjaga stabilitas mental anak.
-
Rutinitas yang stabil. Memberikan struktur keseharian yang konsisten membantu anak merasa lebih aman dan terarah.
Menurut Jayapangus Press (2022), anak yang mendapatkan intervensi psikologis dan dukungan sosial sejak dini berpeluang lebih besar untuk pulih dan tumbuh sehat secara emosional.
Broken home memang membawa dampak yang tidak bisa dianggap remeh, khususnya bagi anak yang sedang berada di fase pembentukan identitas diri. Namun, dengan dukungan yang tepat, anak masih bisa berkembang secara sehat. Penting bagi orang tua, guru, maupun lingkungan sekitar untuk saling berkolaborasi menciptakan ruang aman bagi anak-anak agar trauma tidak terbawa hingga dewasa.