← Beranda

Tanda Orang yang Malu dengan Asal-Usulnya: 7 Perilaku yang Mereka Tampilkan

M Shofyan Dwi KurniawanSabtu, 29 Maret 2025 | 13.33 WIB
Ilustrasi orang yang malu.

JawaPos.com - Setiap orang memiliki latar belakang yang unik. Namun, tidak semua orang merasa bangga dengan asal-usul mereka. Ada yang justru merasa tidak nyaman atau bahkan malu dengan latar belakang mereka.

Orang yang malu dengan asal-usulnya sering kali menunjukkan tanda-tanda tertentu dalam perilaku mereka, meskipun tidak secara terang-terangan mengakuinya.

Rasa malu ini bisa dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk pengalaman masa kecil, tekanan sosial, atau bahkan psikologi individu yang membuat mereka merasa tidak cukup baik.

Dilansir dari Blog Herald pada Jumat (28/3) jika anda penasaran seperti apa tanda-tandanya, berikut adalah tujuh perilaku yang sering mereka tampilkan.

1. Mereka Menghindari Diskusi Budaya

Pernahkah anda memperhatikan teman yang selalu menghindari pembicaraan soal budaya atau kampung halaman mereka? Bisa jadi mereka tiba-tiba mengubah topik atau bahkan sengaja menarik diri dari percakapan.

Bagi orang yang malu dengan asal-usulnya, membicarakan budaya mereka terasa seperti membuka diri terhadap penghakiman. Mereka khawatir bahwa orang lain akan melihat mereka berbeda atau bahkan merendahkan mereka berdasarkan latar belakang mereka.

Tentu saja, bukan berarti semua orang yang tidak suka membahas latar belakang mereka merasa malu. Namun, jika seseorang selalu menghindari topik ini dan menunjukkan ketidaknyamanan yang jelas, bisa jadi itu adalah salah satu tandanya.

2. Sikap Berlebihan Saat Mengadopsi Budaya Baru

Ada orang yang begitu bersemangat dalam mengadopsi budaya baru hingga tampak seperti sedang mencoba melupakan budaya asal mereka. Mereka mungkin mengganti kebiasaan, gaya bicara, atau bahkan cara berpakaian secara drastis.

Sebagai contoh, ada orang yang menolak berbicara dalam bahasa daerah mereka, bahkan dengan keluarganya sendiri. Atau seseorang yang mulai merayakan tradisi dari budaya lain dengan sangat serius, meskipun sebelumnya tidak pernah tertarik pada budaya mereka sendiri.

Ini bukan sekadar upaya untuk beradaptasi, tetapi lebih kepada upaya menjauh dari identitas lama mereka. Dalam banyak kasus, ini bisa menjadi cara bagi orang yang malu dengan asal-usulnya untuk merasa lebih diterima oleh lingkungan barunya.

3. Kritik Berlebihan terhadap Budaya Sendiri

Ada juga orang yang terus-menerus mengkritik budaya mereka sendiri. Mereka bisa meremehkan tradisi, adat istiadat, atau bahkan makanan dari kampung halaman mereka.

Misalnya, seseorang yang tumbuh di keluarga konservatif mungkin akan mencela cara berpikir keluarganya, menyebutnya “kolot” atau “tidak relevan”. Atau seseorang yang berasal dari daerah tertentu bisa saja sering mengeluhkan bagaimana daerah asal mereka “ketinggalan zaman” dibandingkan dengan kota besar.

Kritik ini mungkin terdengar seperti keluhan biasa, tetapi jika dilakukan terus-menerus dan selalu bernada negatif, bisa jadi itu adalah mekanisme pertahanan mereka untuk menutupi rasa malu terhadap latar belakang mereka.

4. Menolak Mengunjungi Kampung Halaman

Bagi sebagian orang, kembali ke kampung halaman adalah sesuatu yang menyenangkan, penuh nostalgia dan kenangan. Namun, bagi yang merasa malu dengan asal-usul mereka, pulang justru menjadi beban emosional.

Mereka mungkin akan menghindari pulang dengan berbagai alasan, mulai dari pekerjaan yang sibuk hingga alasan pribadi lainnya. Bahkan jika mereka terpaksa pulang, mereka mungkin terlihat tidak nyaman atau cenderung menjaga jarak dengan lingkungan sekitar.

Keengganan ini sering kali muncul karena mereka merasa bahwa kembali ke tempat asal berarti menghadapi identitas yang telah lama mereka coba tinggalkan.

5. Menyangkal Aksen Mereka

Salah satu tanda yang paling sering terlihat adalah upaya seseorang untuk menyembunyikan aksen daerah mereka.

Mereka mungkin berbicara dengan cara yang berbeda saat berada di lingkungan baru, bahkan berusaha keras untuk meniru aksen daerah atau negara lain. Ini adalah upaya mereka untuk menyesuaikan diri dan menghindari perhatian yang tidak diinginkan.

Dalam psikologi, ini disebut sebagai bentuk “self-monitoring”, di mana seseorang mengubah cara mereka berbicara atau bertindak untuk lebih cocok dengan lingkungan sekitar.

6. Keengganan untuk Berbagi Cerita Personal

Setiap orang memiliki cerita unik tentang masa lalu mereka. Namun, bagi orang yang malu dengan asal-usulnya, berbicara tentang masa kecil atau kehidupan keluarga bisa terasa sangat tidak nyaman.

Mereka lebih suka mendengarkan cerita orang lain daripada membagikan pengalaman pribadi mereka sendiri. Jika ada yang bertanya tentang latar belakang mereka, mereka mungkin akan memberikan jawaban singkat atau bahkan menghindari pertanyaan tersebut.

Keengganan ini bisa berasal dari perasaan bahwa kisah mereka tidak cukup “menarik” atau “berharga” dibandingkan dengan orang lain. Ini juga bisa menjadi cara untuk melindungi diri dari perasaan tidak aman atau malu yang mereka rasakan.

7. Persepsi Diri yang Negatif

Pada akhirnya, inti dari semua perilaku ini adalah bagaimana seseorang melihat diri mereka sendiri. Jika seseorang merasa malu dengan asal-usulnya, mereka mungkin juga mengalami masalah dengan harga diri dan kepercayaan diri.

Dalam dunia psikologi, ini disebut sebagai “self-stigma”, di mana seseorang menginternalisasi pandangan negatif tentang latar belakang mereka sendiri. Mereka merasa bahwa asal-usul mereka membuat mereka kurang berharga atau tidak cukup baik dibandingkan dengan orang lain.

Sebagai contoh, seseorang yang berasal dari keluarga dengan latar belakang ekonomi rendah mungkin akan merasa kurang percaya diri di lingkungan yang lebih elit. Meskipun mereka telah mencapai banyak hal, rasa tidak percaya diri itu tetap ada karena mereka merasa bahwa asal-usul mereka bukan sesuatu yang patut dibanggakan.

Pada akhirnya, malu terhadap asal-usul bukanlah sesuatu yang bisa diubah dalam semalam. Setiap orang memiliki perjalanan mereka sendiri dalam menerima identitas mereka. Namun, mengenali tanda-tanda ini bisa membantu kita lebih memahami diri sendiri maupun orang lain.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho