← Beranda
Wawancara dengan Lutesha Sadhewa, Wajah Baru Anna Karenina di Ali Topan  
Glandy BurnamaRabu, 18 Oktober 2023 | 23.19 WIB
VERSI REMAKE: Jefri Nichol dan Lutesha setelah menceritakan karakter mereka di film Ali Topan pada Selasa (28/2). (Imam Husein/Jawa Pos)

 

JawaPos.com – Film Ali Topan karya Sidharta Tata rampung melangsungkan world premiere di Busan International Film Festival (BIFF) 2023 pekan lalu. Film adaptasi novel Ali Topan Anak Jalanan karya Teguh Esa itu menampilkan sosok Ali (diperankan Jefri Nichol) dan Anna Karenina (Lutesha Sadhewa) dengan karakter yang lebih relevan dengan masa kini.

Ada yang berbeda dengan versi filmnya yang dirilis pada 1977 dan versi sinetronnya yang dirilis pada 1997.

Jika Ali digambarkan sebagai sosok anak motor sekaligus aktivitas komunitas musik yang vokal pada ketidakadilan, Anna digambarkan sebagai perempuan muda berjiwa rebel.

Dia adalah anak pengusaha kaya yang muak dengan kehidupan serbamewah dan terkekang. Karena itu, Anna ikut Ali berkeliling naik motor di jalanan demi merasakan kebebasan.

Jawa Pos berkesempatan ngobrol dengan Lutesha soal perannya sebagai Anna seusai sesi pemutaran Ali Topan (yang direncanakan rilis tahun depan) di CGV Centum City, Busan, Korea Selatan.

Halo, Lutesha. Bisa dijelaskan bagaimana wajah baru Anna di Ali Topan versi terbaru produksi Visinema Pictures?

Tentu beda banget sama Anna Karenina versi film lamanya, yang digambarkan fragile dan kalem. Di Ali Topan versi ini, aku diberi kesempatan menciptakan karakter Anna yang lebih kuat, beropini, dan punya suara sendiri.

Di versi ini, jadinya Anna anak jalanan, ya?

Iya, Anna anak jalanan, hahaha. Selain mendalami skenario, aku nonton filmnya yang dirilis pada 1970-an dan baca bukunya. Dulu Anna sebagai love interest Ali digambarkan perempuan manis dan ayu.

Setelah aku lihat skenario dan kondisi zaman sekarang, mungkin ada beberapa perempuan yang feminin dan sensitif, tapi banyak sosok perempuan yang kuat seiring dengan perkembangan zaman. Skenario Ali Topan menyesuaikan perkembangan itu.

Pemikiran karakter Anna pun lebih tereksplorasi, ya?

Betul. Dia mempertanyakan, apakah yang dilakukan keluarganya adalah yang terbaik untuk masyarakat. Ternyata, pas lihat kondisi sebenarnya sama Ali, dia sadar bahwa ada yang salah. Jadi, Anna punya subplot internal dengan keluarganya.

Di Ali Topan versi baru yang juga memuat unsur road movie, Anna justru naik motor ikut Ali keliling Jawa via jalanan di empat provinsi dan bahkan terlibat dalam adegan aksi. Ada hal yang paling tak terlupakan?

Jujur, aku pikir filmnya nggak akan se-action ini, haha. Ternyata pas dilakuin capek banget, apalagi ada adegan kejar-kejaran di tengah cuaca panas. Nichol atletis banget, lari kencang banget. Ada satu momen saat aku ketarik dan harus keep up supaya bisa tetap lari sama Nichol.

Otot pahaku sempat cedera. Tapi, selain itu, ada serunya sih. Syutingnya bisa sambil jalan-jalan ke Semarang, Kendal, dan Jogjakarta. Syutingnya pun sehat, selesai jam 6 sore atau jam 7 malam. Jadi, setelah itu bisa kulineran.

Untuk adegan naik motor 400 cc milik Ali, bagaimana Lutesha berlatih?

Aku belajar nyetir motor manual 400 cc itu dua hari. Setelahnya, aku pinjam motornya Omara Esteghlal, yang meranin Bobby, untuk nyoba sendiri. Aku pas itu belajarnya keliling-keliling Bintaro.

Ali dan Anna adalah tulang punggung cerita film ini dan perlu chemistry yang bagus untuk memerankan mereka. Bagaimana Lutesha menjalin kekompakan dengan Nichol?

Kami udah kenal lama dan akhirnya bisa kerja bareng. Selama syuting, kami juga sering diskusi berdua buat adegan yang perlu chemistry. Setelahnya, kami ajukan ke Mas Tata selaku sutradara. Ada juga adegan di scene terakhir ketika Ali dan Anna berinteraksi lewat gestur dan tatapan mata. Itu aku dibantu teman aku, Anya Zen.

Kalau dilihat, peran Lutesha di film kebanyakan adalah perempuan rebel, edgy, dan quirky, ya. Kurang lebih mirip persona Lutesha di real life. Apakah ini kebetulan atau bagaimana?

Mungkin bisa dibilang typecast. Tapi, mungkin itu yang jadi alasan produser untuk memilih aku. Mereka nyari pemeran Anna Karenina itu lama banget. Mas Tata sebagai sutradara juga suka dengan musik underground serta rock and roll, terus lihat karakter aku seperti ini, mungkin ada kecocokan dengan hal yang dicari untuk peran ini.

 Baca Juga: Dituding Langgar Kekayaan Intelektual, Begini Tanggapan Produser Film Air Mata di Ujung Sajadah

Apa sih hal baru yang ditawarkan Lutesha di Ali Topan?

Aku itu sering bilang, aku lebih milih main film horor ketimbang romance. Soalnya, romance itu butuh koneksi dan rasa nyaman dengan lawan main, yang perlu waktu lama untuk membangunnya. Nah, ini film romance pertama aku yang fokusnya di romansa khas anak muda dan intens. Berbeda dengan film romansa aku sebelumnya yang sangat dewasa dan complicated. (*)

 

EDITOR: Candra Kurnia Harinanto