← Beranda
Orang yang Bahagia dan Sukses di Media Sosial Namun Sengsara di Dunia Nyata Biasanya Menunjukkan 7 Perilaku ini Menurut Psikologi
Mega KhaeraniJumat, 28 Februari 2025 | 19.46 WIB
Ilustrasi tujuh perilaku yang sering ditunjukkan oleh orang-orang yang tampak bahagia saat daring namun mengalami kesulitan saat sendiri. (pexels)

 

JawaPos.com - Beberapa orang yang tampaknya terlihat paling bahagia dan sukses di media sosial sebenarnya sedang berjuang dalam kehidupan nyata. Mereka memiliki foto-foto Instagram yang sempurna, pembaruan LinkedIn yang menginspirasi, dan aliran suka dan komentar yang tak ada habisnya.

Namun di balik layar, banyak dari mereka yang merasa cemas, tidak puas, dan bahkan sangat tidak bahagia. Menurut psikologi, kesenjangan antara kesuksesan daring dan kesengsaraan di dunia nyata bukanlah sesuatu yang acak, melainkan mengikuti pola tertentu.

Dilansir dari geediting, terdapat tujuh perilaku yang sering ditunjukkan oleh orang-orang yang tampak bahagia saat daring namun mengalami kesulitan saat sendiri.

1. Mengatur kehidupan mereka sendiri bukan menjalaninya

Salah satu tanda terbesar bahwa seseorang sukses secara daring tetapi kesulitan dalam kehidupan nyata adalah seberapa besar upaya yang mereka lakukan dalam mengatur kehidupan mereka alih-alih benar-benar menjalaninya.

Alih-alih menikmati suatu momen, mereka berpikir tentang cara membingkainya, menyaringnya, dan menyajikannya agar dapat melibatkan banyak orang secara maksimal. Makan malam sederhana berubah menjadi sesi pemotretan.

Liburan menjadi cuplikan yang menarik. Bahkan perjuangan pribadi pun disusun dengan cermat menjadi konten yang "relatable". Psikolog menyebutnya manajemen kesan, yaitu proses mengendalikan bagaimana orang lain memandang kita.

Meskipun ini menjadi hal yang wajar untuk ingin tampil terbaik, saat seseorang menjadi lebih fokus untuk terlihat bahagia daripada benar-benar bahagia, hal itu dapat menyebabkan terputusnya hubungan yang melelahkan antara penampilan daring dan emosi mereka yang sebenarnya.

2. Mencari validasi bukan pemenuhan

Mereka biasanya terobsesi dengan berapa banyak like dan komentar yang didapat dari postingannya. Jika sebuah foto tidak laku, mereka akan menghapusnya.

Jika mereka memposting sesuatu dan tidak langsung mendapat respons, mereka akan merasa tidak terlihat. Kalau dipikir-pikir kembali, mereka tidak berbagi karena menikmatinya, tetapi mereka mengejar validasi.

Psikolog Carl Rogers pernah berkata, “Satu-satunya orang yang terdidik adalah orang yang telah belajar cara belajar dan berubah.” Namun, jika Anda terus-menerus mengandalkan persetujuan eksternal, pertumbuhan dan perubahan yang nyata menjadi mustahil.

Anda tidak belajar tentang siapa diri Anda sebenarnya, Anda hanya membentuk diri Anda menjadi apa yang menurut Anda ingin dilihat orang lain.

Ironisnya, tidak ada jumlah like yang pernah membuat mereka merasa benar-benar puas. Semakin mereka mendambakan persetujuan, semakin hampa perasaannya.

3. Terus menerus membandingkan dirinya dengan orang lain

Mereka mendapati dirinya terjebak dalam kebiasaan buruk yaitu menelusuri media sosial dan membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain. Mereka melihat orang-orang seusianya berkeliling dunia, meluncurkan bisnis, bertunangan, atau sekadar terlihat bahagia tanpa beban.

Sementara itu, mereka hanya duduk di apartemen kecil, merasa seperti tertinggal dalam hidup. Faktanya, media sosial hanya menunjukkan hal-hal penting, bukan gambaran utuh. Namun, hal itu tidak menghentikan mereka untuk merasa tidak cukup baik.

Psikolog menyebutnya teori perbandingan sosial, yaitu gagasan bahwa kita menentukan harga diri kita sendiri berdasarkan cara kita menilai orang lain. Berkat media sosial, kini kita memiliki kesempatan tak terbatas untuk membandingkan diri kita sendiri setiap hari.

4. Memprioritaskan persona online dibandingkan koneksi nyata

Ada saat ketika mereka berpikir, mereka aktif secara sosial, terus-menerus mengobrol dalam pesan grup, mengomentari kiriman, dan berbagi kabar terbaru tentang hidupnya. Namun terlepas dari semua itu, mereka sering kali merasa kesepian.

Penelitian mendukung hal ini. Sebuah studi yang diterbitkan dalam American Journal of Preventive Medicine menemukan bahwa orang yang menghabiskan lebih dari dua jam sehari di media sosial dua kali lebih mungkin merasa terisolasi secara sosial dibandingkan dengan mereka yang jarang menggunakannya.

Alasannya karena interaksi di media sosial sering kali tidak memiliki kedalaman dan hubungan emosional seperti percakapan tatap muka. Like dan komentar tidak dapat menggantikan hubungan manusia yang sejati, tidak peduli berapa banyak yang kita dapatkan.

5. Menutupi kesulitannya alih-alih mengatasinya

Banyak orang menggunakan media sosial sebagai cara untuk menutupi emosi mereka yang sebenarnya. Alih-alih menghadapi kesulitannya, mereka menutupinya dengan unggahan yang dikurasi dengan cermat.

Melalui unggahan ini, mereka berharap jika mereka terlihat cukup bahagia, mungkin mereka akan mulai merasakan hal yang sama juga. Masalahnya, mengabaikan masalah yang kita hadapi tidak akan menghilangkannya, itu hanya akan memperburuknya.

Penelitian psikologi menunjukkan bahwa menekan emosi justru dapat memperburuknya seiring berjalannya waktu, yang menyebabkan meningkatnya stres dan kecemasan. Menghadapi kesulitan secara langsung itu sulit, tetapi itulah satu-satunya cara untuk benar-benar maju.

6. Menghubungkan harga diri dengan kesuksesan online

Psikolog Albert Bandura pernah berkata, “Kepercayaan pada diri sendiri belum tentu menjamin kesuksesan, namun ketidakpercayaan pada diri sendiri pasti akan menghasilkan kegagalan.”

Ketika kita membiarkan validasi eksternal menentukan nilai kita, kita melepaskan kendali atas kepercayaan diri sendiri. Kita mulai percaya bahwa nilai kita adalah sesuatu yang harus diperoleh melalui like, share, dan follower, padahal sebenarnya, itu adalah sesuatu yang sudah kita miliki.

Membebaskan diri dari pola pikir ini tidaklah mudah, tetapi dimulai dengan perubahan sederhana: mengingatkan diri sendiri bahwa media sosial hanyalah alat, bukan ukuran nilai sebagai pribadi.

7. Lebih banyak memposting ketika merasa lebih buruk

Kedengarannya berlawanan dengan intuisi, tetapi beberapa orang yang paling aktif di media sosial, orang-orang yang terus-menerus mengunggah pembaruan, swafoto, dan teks inspiratif, sebenarnya adalah orang-orang yang merasa paling buruk.

Berbagai penelitian mendukung gagasan ini. Penelitian yang dipublikasikan dalam Computers in Human Behavior menemukan bahwa orang-orang dengan tingkat kecemasan dan kesepian yang lebih tinggi cenderung lebih sering mengunggah postingan di media sosial sebagai cara untuk mengatasinya.

Namun, masalahnya, media sosial dapat memberikan validasi sementara, tetapi tidak menyelesaikan masalah yang mendasarinya. Ini seperti menempelkan plester pada luka yang lebih dalam, mungkin bisa menutupinya untuk sementara, tetapi penyembuhan yang sebenarnya harus terjadi di tempat lain.

Jika Anda pernah mendapati diri Anda memposting tanpa berpikir saat sedang merasa sedih, cobalah ini: Berhentilah sejenak dan tanyakan pada diri sendiri mengapa Anda memposting. Apakah Anda membagikan sesuatu yang bermakna, atau Anda hanya mencari suntikan dopamin?

Jika jawabannya yang terakhir, menjauhlah dan lakukan sesuatu yang benar-benar menyehatkan Anda—seperti berjalan-jalan, menulis jurnal, atau menghubungi teman sejati.

Anda akan terkejut betapa jauh lebih baik perasaan Anda saat Anda tidak bergantung pada orang asing di internet untuk mengangkat Anda.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti