JawaPos.com – Bagi sebagian orang, pesawat tidak menjadi pilihan utama alat transportasi karena berbagai alasan. Dari persoalan biaya, hingga ketakutan tidak rasional yang biasanya dimiliki oleh beberapa orang. Menjawab alasan kedua, ternyata pesawat itu lebih aman dari yang kita kira.
Dilansir dari Simple Flying, setiap tahunnya Organisasi Aviasi Sipil International merilis laporan keamanan penerbangan global.
Pada laporan tahun 2022, ditemukan setidaknya pengurangan kecelakaan dalam penerbangan sebanyak 10 persen dari tahun 2020. Selain itu, Tingkat fatalitas dari kecelakaan pesawat turun sebanyak 65 persen.
Semakin membaik
Dari penelitian di Universitas Harvard, melakukan penerbangan di Amerika Serikat, Eropa, dan Australia jauh lebih aman daripada berkendara.
Peluang kecelakaan pesawat adalah satu dari 1,2 juta, dan peluang kecelakaan fatalnya adalah 1 dari 11 juta. Sedangkan peluang dari kecelakaan mobil adalah 1 dari 5.000.
Dilansir dari MIT News, risiko meninggal dari kecelakaan pesawat komersial terhitung 1 dari 13,7 juta dari seluruh penumpang global dari tahun 2018 hingga 2022.
Angka tersebut menunjukkan penurunan sejak 2008–2017, yaitu 1 dari 7,9 juta penumpang. Dan 1 dari 350.000 penumpang sejak tahun 1968–1977.
Tentunya jumlah ini akan berbeda di tiap regionnya. Region Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin memiliki tingkat kecelakaan yang sedikit lebih tinggi karena penggunaan pesawat yang lebih tua atau pemeriksaan yang terbatas.
Meningkatnya teknologi
Dengan perkembangan teknologi yang ada, makin canggih pula teknologi yang digunakan untuk keamanan penerbangan.
Sekarang pesawat sudah tidak lagi terbang dengan alat-alat navigasi manual, tapi dengan teknologi yang dapat membatasi kesalahan manusia.
Belum lama ini, dikeluarkan persyaratan pesawat untuk memiliki setidaknya tiga mesin untuk melakukan penerbangan menyeberangi Samudra Atlantik. Karena kekhawatiran atas keandalan dan regulasi ETOPS.
Jumlah angka kematian makin menurun secara global
Dilansir dari NPR, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menyatakan jumlah kecelakaan pada pesawat komersial makin berkurang tiap tahunnya.
Pada tahun 2023, industri aviasi komersial hanya mencatat 30 kecelakaan, dan hanya satu dari jumlah itu yang bersifat fatal. Kecelakaan ini terjadi di Nepal, di mana 72 penumpangnya meninggal. Investigasi menemukan adanya kesalahan pada pilot.
IATA juga mencatat bahwa pada tahun 2013 terdapat 13 kecelakaan fatal, dan terhitung ada 638 korban jiwa.
Keamanan yang makin dipedulikan
Angka peluang risiko kematian akibat kecelakaan udara makin juga berkurang tiap tahunnya. Angka ini bukan dari ketidaksengajaan, tapi menjadi sesuatu yang harus dipertahankan.
Tidak hanya lewat peningkatan teknologi, namun juga pelatihan pilot yang ketat dan kinerja investigasi dari organisasi penerbangan. Seperti Agensi Aviasi Federal Amerika Serikat dan Badan Keselamatan Transportasi Nasional.
Namun karena adanya kesenjangan antara keamanan penerbangan secara global, beberapa negara memiliki tingkat fatalitas yang 36,5 kali lebih tinggi. Salah satunya adalah Indonesia.
Pilot dan kru pesawat yang telah dilatih untuk keadaan gawat darurat
Walaupun penerbangan di Indonesia tidak setara dengan di Amerika Serikat, jangan takut. Karena semua pilot dan kru telah menjalani pelatihan ketat sebelum diperbolehkan bekerja.
Pramugari tidak hanya bekerja untuk membagikan makanan dan minuman. Mereka juga memiliki peran penting pada keamanan pesawat.
Semua pilot dan pramugari menjalankan pelatihan di dalam dan di luar kelas, seperti untuk evakuasi di air, apabila ada asap di dalam pesawat, dan gawai-gawai yang tiba-tiba meledak selama penerbangan.
Di Amerika Serikat, pilot diwajibkan telah memiliki pengalaman terbang setidaknya selama 1.500 jam sebelum bekerja di maskapai penerbangan komersial. Jumlah jam ini setara dengan terbang selama 9 minggu penuh.
Peran regulasi dan tekanan industri
Perkembangan teknologi juga akan mempengaruhi perbaikan pada regulasi pula. Semua orang yang bekerja dalam manufaktur pesawat hingga karyawan maskapai yang bekerja di darat harus mengikuti peraturan pemerintahan yang ketat pula.
Regulasi ini dapat berupa mengurangi jam kerja untuk mencegah kelelahan seluruh bagian pada pesawat demi penerbangan berkualitas baik. Persyaratan yang ketat ini juga termasuk pemeliharaan, pelaporan, pelatihan dan operasi menurut tiap negaranya.
Uni Eropa membentuk Daftar Keamanan Penerbangan terhadap beberapa maskapai atau negara yang dilarang terbang ke Uni Eropa agar pemerintahan menjadi lebih ketat terhadap penerbangan mereka.
Indonesia adalah salah satu yang lulus dari daftar ini. Sejak dua kecelakan fatal pada 2007 dan sejarah keamanan penerbangan yang buruk, semua maskapai Indonesia dilarang terbang di Uni Eropa.
Namun beberapa maskapai telah melakukan perbaikan dan mereka dikeluarkan dari daftar secara individual. Hingga akhirnya semua maskapai lulus dari daftar tersebut pada 2018.
Beberapa hal yang dapat kita lakukan sebagai penumpang
Sebagai penumpang, kita dapat ikut bergabung untuk meningkatkan keamanan pribadi pula. Seperti mendengarkan instruksi keamanan dengan baik dan tidak mengganggu kru dan penumpang lain.
Kita juga bisa menghindari penggunaan pakaian berbahan polyester dan menggunakan sandal. Lebih baik kita mengenakan pakaian berbahan katun yang nyaman dan menggunakan sepatu yang tertutup.