← Beranda
Kepribadian Orang yang Mementingkan Diri Sendiri dan Egois Biasanya Punya 11 Perilaku Ini Menurut Psikologi, Apa Saja?
Mohammad Maulana IqbalKamis, 12 Desember 2024 | 20.10 WIB
Perilaku kepribadian mementingkan diri sendiri dan egois menurut Psikologi

JawaPos.com – Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti pernah bertemu dengan seseorang yang terkesan hanya mementingkan diri sendiri. Orang kepribadian egois cenderung memprioritaskan kepentingan pribadi di atas segalanya, tanpa mempertimbangkan perasaan atau kebutuhan orang lain.

Sifat ini sering kali muncul dalam bentuk perilaku tertentu yang terlihat jelas dalam interaksi sosial, baik di lingkungan kerja, keluarga, maupun pertemanan.

Menurut psikologi, tingkah laku egois bukan hanya soal kepribadian, tetapi bisa mencerminkan kurangnya empati, ketakutan akan kehilangan kendali, atau bahkan trauma masa lalu.

Dilansir dari Hack Spirit pada Kamis (12/12), diterangkan bahwa setidaknya terdapat sebelas perilaku yang menunjukkan bahwa seseorang memiliki kepribadian mementingkan diri sendiri dan egois menurut Psikologi.

1. Mendominasi percakapan

Pernahkah kamu merasa tertekan saat berbicara dengan seseorang yang selalu memotong pembicaraanmu? Orang-orang yang sangat mementingkan diri sendiri memiliki kebiasaan buruk tidak mendengarkan lawan bicara.

Mereka lebih tertarik menceritakan pengalaman dan pendapat mereka sendiri, membuat lawan bicara hanya bisa mendengarkan tanpa kesempatan berbicara.

2. Kurang memiliki empati

Tanda paling jelas seseorang egois adalah ketidakmampuan mereka memahami perasaan orang lain. Mereka seolah tidak peduli dengan kesulitan yang dihadapi orang disekitarnya, selalu fokus pada permasalahan mereka sendiri.

Ketika kamu berbagi cerita tentang masalah yang sedang kamu hadapi, mereka cenderung segera mengarahkan pembicaraan kembali kepada diri mereka sendiri.

3. Selalu mencari pengakuan

Tipe orang seperti ini selalu haus pujian dan perhatian. Mereka akan terus memamerkan pencapaian, barang baru, atau keberhasilan mereka dengan harapan mendapatkan apresiasi.

Jika tidak mendapatkan respon yang diinginkan, mereka bisa merasa kecewa atau bahkan marah. Kebutuhan akan validasi eksternal ini menunjukkan betapa rapuhnya harga diri mereka sebenarnya.

4. Merasa selalu benar

Berdebat dengan orang yang sangat mementingkan diri sendiri ibarat membenturkan kepala ke tembok. Mereka hampir tidak pernah mengakui kesalahan atau menerima perspektif berbeda.

Para ahli kajian perilaku menyebutkan hal ini terkait dengan bias kognitif dimana seseorang sulit mengenali kebiasaan buruk dalam dirinya sendiri.

5. Sulit berbahagia untuk orang lain

Ketika kamu berbagi kabar bahagia, mereka biasanya memberikan tanggapan yang dingin dan tidak tulus. Mereka cenderung merasa iri atau terancam dengan keberhasilan orang lain.

Fokus mereka yang sangat terpusat pada diri sendiri membuat mereka kesulitan merasakan kegembiraan sejati atas pencapaian orang lain.

6. Selalu memposisikan diri sebagai korban

Dalam setiap situasi, mereka selalu menggambarkan diri sebagai pihak yang paling menderita. Mereka mahir memutar balikkan fakta agar terlihat tidak bersalah. Sikap ini menunjukkan ketidakmampuan mereka melihat peran dirinya dalam suatu permasalahan.

7. Pencari perhatian ekstrem

Mereka bagaikan kupu-kupu yang terobsesi dengan cahaya panggung. Keinginan untuk selalu menjadi pusat perhatian begitu kuat, sampai mereka rela melakukan apa pun untuk mendapatkan sorotan.

Tindakan dramatis mereka seringkali membuat orang lain merasa lelah dan jenuh. Apa yang mereka lakukan justru menguras energi orang lain.

8. Sulit bersyukur

Fokus mereka selalu tertuju pada apa yang tidak mereka miliki, bukan apa yang sudah ada. Mereka terus membandingkan diri dengan orang lain dan selalu merasa kurang.

Padahal, studi menunjukkan rasa syukur berkorelasi positif dengan kebahagiaan dan menurunkan risiko depresi.

9. Kesulitan membangun hubungan jangka panjang

Karena selalu mementingkan kebutuhan sendiri, mereka sulit membangun hubungan yang seimbang.

Pasangan atau teman akan merasa lelah karena selalu diposisikan sebagai pihak yang melayani kebutuhan orang egois tersebut. Pada akhirnya, hubungan akan berakhir karena ketidakseimbangan perhatian.

10. Pengontrol yang handal

Mereka ingin mengatur segala sesuatu sesuai keinginan. Baik dalam proyek kelompok, perjalanan, atau sekadar makan malam, mereka selalu ingin mengendalikan situasi. Pandangan dan preferensi orang lain dianggap tidak penting.

11. Sulit meminta maaf

Puncak dari sifat egois adalah ketidakmampuan mengakui kesalahan. Mereka lebih memilih mencari alasan atau menyalahkan orang lain daripada mengucapkan "maaf". Sikap ini bisa merusak hubungan, terutama dalam ikatan personal yang dekat.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho