← Beranda

Menguak Rahasia Alam Bawah Sadar Lewat Id, Ego, Superego: Memahami Kepribadian Anda dengan Teori Sigmund Freud

Mellyna Putri DiniarJumat, 24 Mei 2024 | 21.38 WIB
Potret Pencetus teori Psikoanalisis, Sigmund Freud../(Verywellmind.com)

JawaPos.com – Sigmund Freud, seorang tokoh psikologi yang kontroversial namun berpengaruh, telah memberikan kontribusi besar dalam pemahaman kita tentang kepribadian manusia.

Teorinya, yang dikenal sebagai psikoanalisis, menggali jauh ke dalam alam bawah sadar dan mengungkap bagaimana pengalaman masa lalu dan dorongan bawah sadar membentuk perilaku dan kepribadian kita.

Struktur Kepribadian Menurut Freud

Dilansir dari laman Verywellmind.com, Jumat (24/5), Freud membagi struktur kepribadian menjadi tiga bagian utama:

1. Id

Id adalah Bagian primitif dan instingtif dari kepribadian yang beroperasi berdasarkan prinsip kesenangan.

Id mencari kepuasan langsung dari kebutuhan biologis dan dorongan dasar, tanpa mempertimbangkan konsekuensi atau moralitas.

Manifestasi dari id yang menuntut kepuasan segera dalam diri manusia adalah ketergantungan, impulsivitas, dorongan seksual, dan keinginan untuk mendominasi.

2. Ego

Ego merupakan bagian rasional dari kepribadian yang bertindak sebagai mediator antara id dan dunia nyata.

Ego beroperasi berdasarkan prinsip realitas, yang berusaha memenuhi kebutuhan id dengan cara yang dapat diterima secara sosial dan etis.

Contoh: Ketika Anda lapar, ego Anda akan membantu Anda memutuskan untuk memasak makanan atau pergi ke restoran, bukannya mencuri makanan dari orang lain.

3. Superego

Superego adalah bagian moral dari kepribadian yang mewakili nilai-nilai dan standar yang diinternalisasi dari orang tua dan masyarakat.

Superego bertindak sebagai ‘polisi moral’ yang menghakimi tindakan dan pikiran kita, menghasilkan perasaan bersalah atau bangga.

Contohnya: Ketika Anda tergoda untuk berbohong, superego Anda akan mengingatkan Anda bahwa berbohong adalah salah dan membuat Anda merasa bersalah jika Anda tetap melakukannya.

Peran Alam Bawah Sadar

Freud percaya bahwa sebagian besar perilaku manusia didorong oleh alam bawah sadar, yaitu bagian dari pikiran yang tidak dapat diakses secara langsung oleh kesadaran kita.

Alam bawah sadar berisi keinginan, impuls, dan konflik yang ditekan karena dianggap tidak dapat diterima oleh ego atau superego.

Mekanisme Pertahanan Diri

Untuk melindungi diri dari kecemasan dan konflik yang timbul dari dorongan alam bawah sadar yang tidak dapat diterima, ego menggunakan mekanisme pertahanan diri. Beberapa contoh mekanisme pertahanan diri yang umum adalah:

Represi (Penekanan): Menekan pikiran atau perasaan yang tidak menyenangkan ke dalam alam bawah sadar.

Proyeksi (Menyalahkan Orang Lain): Mengatribusikan pikiran atau perasaan negatif kita kepada orang lain.

Rasionalisasi (Membuat Alasan Logis): Menciptakan alasan yang logis untuk membenarkan perilaku atau tindakan yang sebenarnya didorong oleh motif yang tidak dapat diterima.

Tahapan Perkembangan Psikoseksual

Baca Juga: Mau Berburu Matahari Terbit Sambil Wisata Kuliner, Berikut Rekomendasi Tempat Dijamin Nggak Bikin Nyesel

Freud juga mengusulkan teori perkembangan psikoseksual, yang menyatakan bahwa kepribadian berkembang melalui serangkaian tahapan yang terkait dengan zona erogen yang berbeda.

Kegagalan untuk menyelesaikan konflik pada setiap tahap dapat menyebabkan fiksasi, yang dapat mempengaruhi kepribadian ketika dewasa.

Kontroversi dan Kritik Teori Freudian

Teori Freud telah menuai banyak kontroversi dan kritik. Beberapa kritikus mempertanyakan validitas ilmiah dari teorinya, sementara yang lain menganggap teorinya terlalu berfokus pada seksualitas dan agresi.

Namun, terlepas dari kontroversi, teori Freud tetap menjadi landasan penting dalam psikologi dan terus mempengaruhi pemahaman kita tentang kepribadian manusia.

Semoga artikel ini memberikan wawasan yang bermanfaat tentang teori kepribadian Sigmund Freud.

Memahami teori ini dapat membantu kita lebih memahami diri sendiri dan orang lain, serta memberikan apresiasi yang lebih dalam terhadap kompleksitas jiwa manusia.

EDITOR: Hanny Suwindari