← Beranda

Apa Itu PMO? Kebiasaan yang Tampak Sepele tapi Berdampak Serius pada Kesehatan Mental dan Fisik

Aria Maulana SatriyoKamis, 28 Agustus 2025 | 19.40 WIB
ilustrasi seseorang yang sedang berusaha berhenti dari adiksi. (Freepik)

 

JawaPos.com – Apa itu PMO? PMO merupakan adiksi terhadap Pornografi, Masturbasi dan Orgasme. Mungkin beberapa dari kalian pernah atau sering melakukan kegiatan ini. Namun siapa sangka, kebiasaan PMO justru bisa membawa dampak serius, tidak hanya pada kesehatan fisik, tetapi juga pada kondisi mental seseorang. 

Banyak orang mungkin belum menyadari bahwa rutinitas ini, jika dilakukan berlebihan, dapat memengaruhi energi, konsentrasi, hingga hubungan sosial. Karena itu, penting untuk memahami lebih dalam apa sebenarnya PMO, mengapa bisa menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan, serta bagaimana cara mengatasinya agar hidup lebih sehat dan seimbang.

Ingin tahu apa itu PMO secara lebih mendalam serta dampaknya? Simak penjelasannya berikut!

1. Apa Itu adiksi PMO?

Dilansir dari recovered, PMO merupakan salah satu bentuk perilaku seksual kompulsif yang juga dikenal sebagai gangguan hiperseksualitas atau kecanduan seksual.

“Aduh bahasanya terlalu susah emang maksudnya kompulsif itu apa?”

Tenang, simpelnya, kompulsif adalah tindakan yang memiliki dorongan kuat dan umumnya sulit ditolak, sehingga seseorang akan melakukannya terus menerus. 

PMO pada konteks ini adalah salah satu tindakan tersebut. Kecanduan masturbasi sendiri tidak selalu dibarengi dengan kecanduan pornografi. 

Dilansir dari Sante Center for Healing, ada beberapa tipe kecanduan masturbasi: rutin dan binge.

Tipe yang rutin umumnya dilakukan dengan jadwal yang teratur. Perilaku ini dapat melibatkan tempat tertentu atau sebagai respons terhadap pemicu lingkungan atau emosional yang spesifik.

Berbeda dengan binge, kategori masturbasi yang satu ini terjadi dalam periode tertentu yang berlangsung berjam-jam atau berhari-hari. 

Jika kalian pernah mendengar binge watching – menonton suatu series dalam sekali duduk – aksi yang sama dilakukan pada kategori ini. 

Seseorang dapat melakukan tindakan ini secara terus-menerus bahkan jika alat kelaminnya sudah mengalami cedera. 

Masturbasi memang tidak berbahaya, tetapi jika dilakukan secara berlebihan akan memberikan dampak yang buruk terhadap hubungan dan fisik Anda. 

2. Dampak PMO terhadap Kesehatan Mental dan Fisik

PMO dapat menjadi masalah ketika seseorang menggunakan PMO sebagai cara untuk menghindari rasa tidak nyaman atau sebagai mekanisme menenangkan diri. 

Dalam jangka panjang, hal ini justru menimbulkan konsekuensi yang merugikan. Dari sisi mental, PMO berlebihan dapat memicu perasaan cemas, depresi, hingga rasa bersalah yang berkepanjangan. 

Banyak orang yang terjebak di dalam lingkaran ini merasa terasing, kehilangan motivasi, bahkan mengalami kesulitan dalam membangun hubungan intim yang sehat. 

Tidak jarang, hal ini juga memengaruhi kepercayaan diri, terutama ketika seseorang merasa terikat pada kebiasaan yang sulit dikendalikan.

Sementara itu, dampak fisik yang muncul bisa berupa disfungsi seksual, cedera pada organ genital, serta penurunan energi tubuh. 

Kondisi ini jelas mengganggu produktivitas dan kualitas hidup sehari-hari. Sayangnya, karena adanya stigma dan rasa malu, sebagian besar orang yang mengalami masalah ini enggan mencari pertolongan.

Jika pun mereka mencari bantuan, biasanya fokusnya bukan pada akar masalah, melainkan pada gejala lain seperti depresi atau gangguan kecemasan yang ikut muncul.

3. Cara Mengatasi Kecanduan PMO

Mengatasi kecanduan PMO tidak bisa dilakukan secara instan, tetapi ada banyak cara yang bisa membantu seseorang perlahan keluar dari lingkaran ini. 

Langkah pertama biasanya dimulai dari hal-hal yang sifatnya general, seperti menjaga pola hidup sehat, mengatur rutinitas harian agar lebih produktif, serta membatasi akses pada pemicu yang sering menjerumuskan. 

Dukungan dari lingkungan terdekat, seperti keluarga atau sahabat, juga berperan penting untuk menumbuhkan motivasi.

Namun, dalam banyak kasus, pendekatan yang lebih spesifik diperlukan agar proses pemulihan lebih efektif.

Dilansir dari recovered, setiap orang memiliki latar belakang berbeda mengapa terjebak dalam kebiasaan ini. 

Misalnya, kecanduan yang dipicu oleh kondisi medis seperti Alzheimer’s atau Kleine-Levin Syndrome harus ditangani terlebih dahulu. 

Sehingga, perawatan tidak hanya fokus pada perilaku PMO, tetapi juga pada kondisi dasar yang menjadi pemicunya.

Bagi mereka yang memiliki riwayat trauma, kekerasan fisik, atau pelecehan seksual, psikoterapi bisa menjadi jalan keluar. 

Pendekatan seperti cognitive-behavioral therapy (CBT) atau terapi psikodinamik dapat membantu mengurangi respons berlebihan terhadap pemicu tertentu dan membangun kembali pola pikir yang lebih sehat.

EDITOR: Novia Tri Astuti