← Beranda
8 Sifat Kuat Orang-Orang yang Selalu Bangkit Setiap Kali Hidup Menjatuhkan Mereka Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSabtu, 7 Februari 2026 | 16.27 WIB
seseorang yang selalu berhasil bangkit (Freepik/marymarkevich)

JawaPos.com - Dalam hidup, setiap orang pasti pernah jatuh. Entah itu karena kegagalan, kehilangan, trauma, penolakan, atau tekanan hidup yang datang bertubi-tubi.

Namun, ada tipe orang yang meskipun berkali-kali terjatuh, selalu mampu bangkit kembali. Mereka bukan tidak pernah sakit, bukan tidak pernah lelah, dan bukan tidak pernah ingin menyerah. T

api secara psikologis, mereka memiliki pola pikir dan karakter mental tertentu yang membuat mereka lebih tangguh.

Dalam psikologi, ketangguhan ini sering disebut sebagai resilience (resiliensi), yaitu kemampuan seseorang untuk beradaptasi, pulih, dan berkembang setelah mengalami tekanan atau penderitaan. 

Dilansir dari Geediting pada Kamis (5/2), terdapat 8 sifat kuat orang-orang yang selalu bangkit setiap kali hidup menjatuhkan mereka, berdasarkan sudut pandang psikologi.

1. Menerima Realitas, Bukan Menyangkalnya

Orang yang kuat secara mental tidak hidup dalam penyangkalan. Mereka tidak pura-pura kuat, tidak berpura-pura baik-baik saja, dan tidak membohongi diri sendiri tentang rasa sakit yang mereka alami.

Dalam psikologi, ini disebut emotional acceptance — kemampuan menerima emosi dan realitas tanpa menghindar. Mereka mengakui:

“Aku sedang hancur.”

“Aku kecewa.”

“Aku gagal.”

Namun penerimaan ini bukan berarti pasrah, melainkan menjadi titik awal untuk bangkit. Karena seseorang tidak bisa memperbaiki sesuatu yang tidak ia akui.

Mereka tidak berkata: "Ini tidak terjadi." Tapi berkata: "Ini terjadi, dan aku harus menghadapinya."

2. Memiliki Makna dalam Penderitaan

Menurut Viktor Frankl (psikiater dan penyintas Holocaust), manusia bisa bertahan dalam penderitaan jika ia menemukan makna di dalamnya.

Orang yang selalu bangkit biasanya bertanya:

“Apa yang bisa aku pelajari dari ini?”

“Apa yang sedang dibentuk dalam diriku?”

“Untuk apa pengalaman ini ada?”

Bukan:

“Kenapa aku?”

“Kenapa hidup tidak adil?”

Secara psikologis, ini disebut meaning-making process, yaitu kemampuan memberi makna pada pengalaman pahit sehingga penderitaan tidak terasa sia-sia.

3. Tidak Mengaitkan Kegagalan dengan Nilai Diri

Orang lemah mental berkata:

“Aku gagal, berarti aku tidak berguna.”

Orang kuat mental berkata:

“Aku gagal, tapi aku tetap berharga.”

Ini disebut healthy self-concept dalam psikologi. Mereka memisahkan:

identitas diri

hasil hidup

Kegagalan = peristiwa Nilai diri = identitas

Mereka tidak menyatukan keduanya.

4. Fleksibel Secara Mental (Mental Flexibility)

Orang yang selalu bangkit tidak kaku dalam cara berpikir. Mereka mampu menyesuaikan diri dengan realitas baru.

Dalam psikologi disebut cognitive flexibility, yaitu kemampuan mengubah cara berpikir saat situasi berubah.

Contohnya:

Jika rencana A gagal → mereka mencari rencana B

Jika mimpi lama hancur → mereka membangun mimpi baru

Jika jalan tertutup → mereka cari jalan lain

Mereka tidak terpaku pada satu skenario hidup.

5. Tahan terhadap Ketidaknyamanan Emosional

Orang yang kuat bukan yang tidak sakit, tapi yang mampu menahan rasa sakit tanpa menghancurkan diri sendiri.

Dalam psikologi ini disebut distress tolerance — kemampuan bertahan dalam tekanan emosi tanpa pelarian destruktif seperti:

menyakiti diri

kecanduan

menghindar berlebihan

denial

Mereka mampu duduk bersama rasa sakit, tanpa harus lari darinya.

6. Bertanggung Jawab atas Hidupnya

Orang yang selalu bangkit tidak hidup dalam mental korban.

Mereka tidak berkata:

“Ini salah dunia.”

“Ini salah orang lain.”

“Aku begini karena masa lalu.”

Mereka berkata:

“Mungkin ini bukan salahku, tapi ini tanggung jawabku.”

Dalam psikologi ini disebut internal locus of control — keyakinan bahwa hidup bisa dipengaruhi oleh pilihan diri sendiri.

7. Mampu Mengelola Emosi, Bukan Dikendalikan Emosi

Mereka tidak impulsif dalam penderitaan.

Secara psikologis, ini disebut emotional regulation — kemampuan:

mengenali emosi

memahami emosi

mengelola emosi

mengekspresikan emosi secara sehat

Mereka tidak membuat keputusan besar saat emosi tinggi.

8. Memiliki Harapan yang Realistis

Bukan harapan kosong. Bukan optimisme palsu.

Tapi realistic hope:

Hidup bisa sulit

Masalah bisa panjang

Proses bisa menyakitkan

Namun mereka tetap percaya:

“Ini tidak akan selalu seperti ini.”

Harapan inilah yang membuat mereka terus bergerak, walau pelan.

Penutup

Orang-orang yang selalu bangkit bukanlah orang yang hidupnya paling ringan. Justru sering kali mereka adalah orang yang paling banyak terluka.

Perbedaannya bukan pada apa yang mereka alami, tapi pada:

cara mereka memaknai hidup

cara mereka melihat diri

cara mereka merespons penderitaan

Resiliensi bukan bakat, tapi keterampilan psikologis yang bisa dilatih.

Dan yang paling penting:

Bangkit bukan berarti tidak jatuh. Bangkit berarti memilih berdiri lagi, meskipun lelah, meskipun sakit, meskipun takut.

Karena kekuatan sejati bukan tidak pernah runtuh — melainkan selalu memilih untuk membangun diri kembali.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti