← Beranda

Orang yang Tumbuh dalam Kemiskinan Sering Menunjukkan 8 Perilaku Ini Saat Dewasa Menurut Psikologi

Irfan FerdiansyahSelasa, 3 Februari 2026 | 03.46 WIB
seseorang yang tumbuh dalam kemiskinan./Freepik/freepik

JawaPos.com - Kemiskinan bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga pengalaman psikologis yang membentuk cara seseorang berpikir, merasa, dan berperilaku.

Anak-anak yang tumbuh dalam kondisi kekurangan sering hidup dalam tekanan, ketidakpastian, dan keterbatasan akses terhadap pendidikan, gizi, keamanan, serta dukungan emosional.

Dalam psikologi perkembangan dan psikologi sosial, kondisi ini dikenal sebagai chronic stress environment (lingkungan stres kronis), yang dapat memengaruhi struktur kepribadian, mekanisme koping, dan cara seseorang beradaptasi dengan dunia saat dewasa.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil, terutama yang berkaitan dengan kemiskinan, dapat membentuk pola perilaku jangka panjang.

Ini bukan berarti semua orang yang tumbuh miskin akan memiliki masalah psikologis, tetapi ada kecenderungan pola tertentu yang lebih sering muncul dibandingkan mereka yang tumbuh dalam kondisi stabil secara ekonomi.

Dilansir dari Geediting pada Minggu (1/2), terdapat delapan perilaku yang secara psikologis sering ditemukan pada orang dewasa yang tumbuh dalam kemiskinan.

1. Takut Kehilangan dan Sulit Merasa Aman

Orang yang tumbuh dalam kemiskinan sering mengalami rasa tidak aman sejak kecil: takut kekurangan makanan, takut tidak bisa membayar sekolah, takut kehilangan tempat tinggal.

Pengalaman ini membentuk scarcity mindset (pola pikir kelangkaan), yaitu kondisi psikologis di mana seseorang selalu merasa hidupnya berada dalam ancaman kekurangan.

Saat dewasa, hal ini bisa muncul sebagai:

Kecemasan berlebihan terhadap masa depan

Sulit merasa cukup meskipun secara ekonomi sudah lebih baik

Ketakutan kehilangan pekerjaan, pasangan, atau stabilitas hidup

Secara psikologis, otak terbiasa berada dalam mode “bertahan hidup”, bukan “berkembang”.

2. Sangat Mandiri, Tapi Sulit Meminta Bantuan

Anak yang tumbuh miskin sering belajar untuk mengandalkan diri sendiri karena lingkungan tidak selalu mampu memberikan dukungan. Ini membentuk pola hyper-independence (kemandirian berlebihan).

Ciri-cirinya saat dewasa:

Sulit meminta tolong

Merasa lemah jika bergantung pada orang lain

Lebih memilih memikul beban sendiri

Secara emosional, ini bukan sekadar kemandirian sehat, tetapi mekanisme pertahanan untuk menghindari kekecewaan.

3. Pola Pikir Kelangkaan (Scarcity Mindset)

Scarcity mindset membuat seseorang fokus pada kekurangan, bukan potensi. Ini dapat terlihat dalam:

Takut mengambil risiko

Sulit melihat peluang jangka panjang

Terjebak dalam pola hidup “yang penting hari ini cukup”

Dalam psikologi kognitif, kondisi ini memengaruhi fungsi pengambilan keputusan karena otak lebih fokus pada ancaman jangka pendek dibandingkan perencanaan jangka panjang.

4. Sensitif terhadap Penolakan dan Kritik

Lingkungan miskin sering kali keras secara sosial maupun emosional. Anak-anak dalam kondisi ini bisa mengalami:

Perasaan tidak berharga

Kurangnya validasi emosional

Minimnya rasa dihargai

Akibatnya, saat dewasa mereka bisa:

Mudah tersinggung

Sangat sensitif terhadap kritik

Takut ditolak

Ini berkaitan dengan pembentukan self-esteem (harga diri) sejak usia dini.

5. Overthinking dan Kecemasan Tinggi

Stres kronis pada masa kecil membuat sistem saraf terbiasa dalam kondisi waspada. Dalam psikologi, ini dikenal sebagai hypervigilance.

Dampaknya:

Overthinking

Sulit rileks

Pikiran selalu mencari kemungkinan buruk

Tubuh dan pikiran terbiasa hidup dalam mode “siaga”, meskipun ancaman nyata sudah tidak ada.

6. Sulit Menikmati Hidup Tanpa Rasa Bersalah

Banyak orang yang tumbuh miskin merasa bersalah saat menikmati kenyamanan hidup. Misalnya:

Merasa tidak pantas membeli barang bagus

Merasa berdosa saat liburan

Sulit menikmati kesenangan tanpa merasa “berlebihan”

Ini disebut sebagai guilt-based belief system, yaitu sistem keyakinan yang mengaitkan kenikmatan dengan rasa bersalah.

7. Motivasi Tinggi Tapi Mudah Burnout

Banyak orang yang tumbuh dalam kemiskinan memiliki dorongan kuat untuk sukses dan keluar dari kondisi tersebut. Namun motivasi ini sering didorong oleh ketakutan, bukan visi yang sehat.

Akibatnya:

Kerja berlebihan

Perfeksionisme

Burnout

Sulit istirahat tanpa merasa bersalah

Secara psikologis, ini adalah pola survival-driven motivation.

8. Sulit Percaya pada Orang Lain

Lingkungan penuh ketidakpastian dapat membentuk ketidakpercayaan terhadap sistem dan manusia.

Ciri-cirinya:

Sulit membuka diri

Sulit percaya niat baik orang

Selalu waspada terhadap kemungkinan dimanfaatkan

Ini adalah mekanisme perlindungan psikologis yang terbentuk dari pengalaman hidup.

Penutup: Bukan Takdir, Tapi Pola yang Bisa Disembuhkan

Penting untuk dipahami bahwa perilaku-perilaku ini bukan takdir, bukan label, dan bukan kelemahan karakter. Ini adalah hasil adaptasi psikologis terhadap lingkungan yang keras.

Dalam psikologi, ini disebut sebagai adaptive survival patterns — pola bertahan hidup yang dulunya membantu, tetapi bisa menjadi beban saat kondisi hidup sudah berubah.

Dengan kesadaran, refleksi diri, dan proses penyembuhan emosional (healing), pola-pola ini bisa diubah. Terapi, edukasi psikologi, journaling, dan lingkungan sosial yang sehat dapat membantu seseorang bertransisi dari mode bertahan hidup ke mode berkembang.

Karena pada akhirnya, masa lalu memang membentuk kita — tetapi tidak harus mengendalikan masa depan kita.

EDITOR: Hanny Suwindari