← Beranda

Memahami 5 Perbedaan Sikap Waspada dan Kebiasaan Seseorang yang Membayangkan Hal Terburuk

Risma Azzah FatinRabu, 7 Januari 2026 | 00.45 WIB
Ilustrasi perempuan yang sering membayangkan hal buruk (Freepik)

JawaPos.com – Ada perbedaan menarik antara menjadi seorang realis dan menjadi seorang yang suka memikirkan kejadian terburuk.

Perbedaannya terletak pada perspektif, Dimana bersikap malapetaka bukan hanya tentang mengharapkan hal terburuk ini tentang memikirkan kemungkinan terburuk, sering kali tanpa alasan yang jelas.

Namun, menjadi seorang realis berarti mengakui potensi kegagalan tanpa membiarkannya menguasai setiap pikiran Anda. Orang-orang seperti ini memiliki ciri-ciri khas yang membedakan mereka.

Dilansir dari laman Geediting, berikut 5 ciri khas orang-orang yang sering memikirkan hal terburuk dalam perjalanan kehidupan.

Baca Juga: Jika Anda Ingin Tahun Baru Terasa Lebih Ringan, Lepaskan 7 Kebiasaan yang Menguras Energi Ini Menurut Psikologi

  1. Mengantisipasi Kegagalan

Bukan hal yang aneh bagi orang untuk memvisualisasikan kemungkinan hasil sebelum membuat keputusan. Namun bagi mereka yang terus-menerus membayangkan skenario terburuk proses ini menjadi sangat rumit.

Orang-orang ini cenderung membayangkan kegagalan dan bukan sekadar kegagalan biasa. Kita berbicara tentang kegagalan yang dahsyat dan menggemparkan. Kegagalan yang membuat Anda terjaga di malam hari.

Sifat ini tidak selalu buruk. Bahkan, sifat ini dapat menjadi alat yang ampuh untuk penilaian dan perencanaan risiko. Namun, jika sifat ini menjadi ketakutan yang terus-menerus dan melumpuhkan, sifat ini akan berubah menjadi bencana.

Baca Juga: 5 Kebiasaan yang Dapat Membantu Anda Mencapai Kekayaan dan Kesuksesan di Sepanjang Tahun 2026

  1. Terlalu Sering Menganalisis Kejadian Masa Lalu

Analisis terus-menerus terhadap peristiwa masa lalu merupakan ciri khas lain dari orang yang membayangkan skenario terburuk. Ini seperti mesin waktu mental yang hanya berputar mundur, mengamati setiap momen untuk mencari potensi bencana.

Meskipun refleksi diri merupakan bagian penting dari pertumbuhan pribadi, terobsesi dengan kejadian masa lalu dapat melelahkan secara mental dan kontraproduktif. Ini tentang menemukan keseimbangan antara belajar dari pengalaman kita dan berkutat pada pengalaman tersebut.

  1. Kesulitan dalam Mengambil Keputusan

Orang yang selalu membayangkan skenario terburuk sering kali kesulitan dalam mengambil keputusan. Ini karena mereka melihat setiap pilihan sebagai potensi bencana yang siap terjadi.

Penelitian dalam ilmu saraf mengatakan bahwa pengambilan keputusan telah menunjukkan bahwa orang dengan kecenderungan ini memiliki lebih banyak aktivitas di korteks cingulate anterior otak mereka.

Area ini bertanggung jawab untuk mendeteksi konflik, yang menunjukkan bahwa mereka mengalami lebih banyak konflik dan stres saat membuat keputusan.

  1. Sering Membayangkan Penolakan

Penolakan merupakan bagian dari kehidupan, namun bagi orang yang selalu membayangkan skenario terburuk, penolakan sering kali merupakan hasil yang diharapkan.

Baik saat melamar pekerjaan, mengajak seseorang berkencan, atau sekadar berbagi ide dalam rapat, orang-orang ini cenderung mempersiapkan diri untuk menerima tanggapan negatif.

Dalam benak mereka, mereka sudah membayangkan penolakan, merasakan kekecewaan, dan bersiap menghadapi dampaknya bahkan sebelum mengambil tindakan. Harapan akan penolakan ini dapat melumpuhkan. Hal ini dapat mencegah mereka mengambil risiko, mengekspresikan perasaan, atau mengejar peluang.

  1. Sering Dilanda Stres

Stres merupakan respons alami tubuh terhadap potensi bahaya. Stres membantu nenek moyang kita bertahan hidup di alam liar. Namun, bagi orang yang selalu membayangkan skenario terburuk, respons stres ini bisa jadi berlebihan.

Respons stres yang meningkat ini dapat menyebabkan gejala fisik seperti sakit kepala, masalah perut, dan gangguan tidur. Hal ini juga dapat menyebabkan masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi.

Penting untuk diingat bahwa masalahnya bukan pada stres itu sendiri, tetapi pada bagaimana kita mengelolanya. Teknik-teknik seperti bernapas dalam, meditasi, dan olahraga teratur dapat membantu mengendalikan respons stres.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho