← Beranda

Bedanya Fearful Avoidant dan Dismissive Avoidant Attachment: Kenali Polanya di Hubunganmu dan Cara Menyembuhkannya

Intan PuspitasariJumat, 7 November 2025 | 05.15 WIB
Bedanya Fearful Avoidant dan Dismissive Avoidant Attachment: Kenali Polanya di Hubunganmu dan Cara Menyembuhkannya (Freepik/tirachardz)

JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa ingin dekat dengan seseorang tapi di sisi lain justru takut disakiti atau ditolak? Atau mungkin kamu lebih nyaman menjaga jarak, sulit terbuka, dan memilih untuk tidak terlalu melibatkan perasaan? Kalau iya, bisa jadi kamu memiliki salah satu gaya kelekatan (attachment style) yang dikenal sebagai avoidant attachment.

Menurut penjelasan dari salah satu video di kanal psikologi Psych2Go, dalam psikologi, attachment adalah ikatan emosional yang kita bentuk dengan orang lain, yang berakar dari hubungan awal kita dengan pengasuh atau orang tua.

Dua gaya kelekatan yang sering disalahpahami adalah fearful avoidant dan dismissive avoidant attachment style. Keduanya memang sama-sama berakar dari rasa tidak percaya terhadap orang lain, tetapi keduanya memiliki asal-usul dan pola perilaku yang berbeda.

Memahami perbedaan ini penting agar kita tidak salah menilai, karena banyak orang dengan attachment style tersebut sebenarnya sedang berjuang menyembuhkan luka masa lalu yang belum tuntas.

Apa Itu Dismissive dan Fearful Avoidant Attachment?

Keduanya berasal dari pola hubungan masa kecil yang tidak aman, tetapi penyebab dan dampaknya berbeda.

Dismissive avoidant attachment terbentuk karena pengalaman penolakan atau pengabaian emosional di masa kecil. Anak-anak yang tumbuh dengan pengasuhan seperti ini biasanya belajar bahwa menunjukkan emosi tidak akan mendapat respons positif. Akibatnya, mereka tumbuh menjadi pribadi yang menekan emosi, lebih mengandalkan diri sendiri, dan menghindari kedekatan emosional.

Sementara itu, fearful avoidant attachment (juga disebut disorganized attachment) muncul dari lingkungan yang penuh trauma, kekerasan, atau ketakutan. Anak yang tumbuh dalam situasi seperti ini belajar bahwa orang yang seharusnya melindunginya justru bisa menjadi sumber ancaman. Akibatnya, mereka memiliki keinginan untuk dekat, tetapi pada saat yang sama takut akan kedekatan itu sendiri.

1. Masa Kecil yang Dipenuhi Ketakutan dan Trauma

Bagi seseorang dengan fearful avoidant attachment, masa kecilnya sering diwarnai oleh kekerasan, pelecehan, atau pengabaian. Tidak ada rasa aman yang konsisten dari orang tua atau pengasuhnya. 

Akibatnya, mereka tumbuh dengan rasa takut dan ketidakstabilan emosional. Saat dewasa, mereka sering merasa dunia tidak aman dan sulit membangun hubungan yang sehat.

Mereka juga tidak pernah benar-benar belajar bagaimana menenangkan diri (self-soothing) atau memahami emosi sendiri. Parahnya lagi, tanpa sadar, mereka bisa mengulang pola hubungan yang sama seperti masa kecilnya, karena itu satu-satunya bentuk “cinta” yang mereka kenal.

Sedangkan orang dengan dismissive avoidant attachment biasanya tumbuh di lingkungan yang terlalu menuntut atau dingin secara emosional. Mereka belajar untuk mematikan perasaan, tidak menunjukkan kelemahan, dan menganggap kemandirian sebagai bentuk kekuatan.

2. Sulit Percaya pada Diri Sendiri dan Orang Lain

Salah satu ciri utama dari fearful avoidant attachment adalah kesulitan mempercayai siapa pun, termasuk diri sendiri. Mereka sering ragu apakah orang lain benar-benar peduli, dan di saat yang sama juga meragukan nilai diri mereka sendiri.

Sebaliknya, orang dengan dismissive avoidant attachment lebih bisa mempercayai diri sendiri, tetapi sulit mempercayai orang lain. Mereka tidak suka bergantung dan merasa lebih aman saat tidak terlalu dekat dengan siapa pun.

3. Merasa Tidak Layak Dicintai

Karena tumbuh dalam lingkungan yang penuh luka, individu dengan fearful avoidant attachment sering merasa tidak pantas dicintai. Mereka menolak kasih sayang bukan karena tidak ingin dicintai, tetapi karena trauma masa lalu membuat mereka takut.

Berbeda dengan dismissive avoidant, yang menolak kedekatan karena ingin mempertahankan kemandirian, fearful avoidant menolak karena takut ditolak kembali.

4. Hubungan Romantis yang Membingungkan

Bagi fearful avoidant, hubungan romantis bisa menjadi hal yang sangat rumit. Mereka menginginkan kedekatan, tetapi begitu mulai merasa terlalu dekat, mereka merasa cemas dan mundur. Kondisi ini membuat hubungan terasa seperti tarik-ulur mendekat karena rindu, menjauh karena takut.

Sementara dismissive avoidant cenderung lebih stabil dalam menjauh. Mereka tidak nyaman dengan kedekatan emosional dan lebih memilih menjaga jarak untuk mempertahankan kontrol.

5. Terlihat Tidak Peka terhadap Orang Lain

Kadang, orang dengan fearful avoidant attachment tampak tidak sensitif atau bahkan plin-plan dalam hubungan. Satu saat bisa tampak perhatian, lalu tiba-tiba menjauh.

Namun, ini bukan karena mereka tidak peduli, mereka sebenarnya berjuang melawan konflik batin antara keinginan untuk dekat dan rasa takut terluka.

Sedangkan dismissive avoidant biasanya menunjukkan pola yang lebih konsisten dalam menjauh. Mereka terlihat dingin, cuek, dan lebih mementingkan kebebasan pribadi.

6. Sulit Membuka Diri dalam Percakapan

Orang dengan fearful avoidant attachment cenderung menjaga percakapan di permukaan, ringan dan tidak terlalu pribadi. Mereka takut jika terlalu terbuka, orang lain akan masuk terlalu dalam dan akhirnya menyakiti mereka.

Sementara dismissive avoidant juga melakukan hal serupa, tapi alasannya berbeda, mereka ingin menjaga otonomi dan kendali diri, bukan karena takut ditolak.

7. Pandangan Negatif terhadap Diri dan Hubungan

Fearful avoidant sering melihat dunia dengan pesimisme. Mereka yakin bahwa semua orang akan menolak atau meninggalkan mereka. Bahkan hal kecil, seperti teman yang membatalkan janji, bisa terasa seperti bentuk penolakan pribadi.

Berbeda dengan individu anxious attachment yang mencari validasi, fearful avoidant justru menarik diri karena takut penolakan itu benar-benar terjadi.

8. Sulit Bertanggung Jawab atas Diri Sendiri

Karena trauma masa lalu yang berat, banyak fearful avoidant hidup dalam mentalitas korban. Mereka sering merasa tak berdaya dan sulit mengakui kesalahan karena hal itu memicu rasa bersalah atau malu yang dalam. Namun, dengan bantuan terapi dan refleksi diri, mereka bisa mulai melepaskan beban emosional itu dan membangun hubungan yang lebih sehat.

Apakah Attachment Style Bisa Berubah?

Kabar baiknya atachment style ini  bisa berubah! Dengan kesadaran diri, keinginan untuk sembuh, dan bantuan profesional, kamu bisa membangun secure attachment style yang lebih sehat.

Langkah kecil yang bisa kamu mulai antara lain:

  1. Memahami gaya kelekatanmu dan pola hubunganmu.

  2. Belajar menetapkan batasan sehat.

  3. Mencintai dan menerima dirimu sendiri.

  4. Mengkomunikasikan kebutuhan dan perasaanmu secara jujur.

  5. Jika perlu, konsultasi dengan psikolog untuk membantumu melalui proses penyembuhan.

Memahami perbedaan antara fearful avoidant dan dismissive avoidant attachment bukan hanya membantu kita memahami diri sendiri, tapi juga orang lain. Setiap gaya kelekatan terbentuk dari pengalaman masa lalu yang berbeda, dan semuanya bisa berubah seiring waktu, jika kita mau belajar, berproses, dan berani membuka diri.

Ingat, masa lalu mungkin membentukmu, tapi tidak harus menentukan masa depanmu.

Dengan kesadaran, kasih sayang terhadap diri sendiri, dan dukungan yang tepat, kamu bisa membangun hubungan yang lebih sehat, penuh kepercayaan, dan penuh cinta.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho