← Beranda

Catat dengan Baik: Berikut 8 Perilaku yang Menunjukkan Lemahnya Seseorang Secara Emosional Menurut Psikologi

Wahyu Eka PutraSelasa, 28 Oktober 2025 | 14.19 WIB
Ilustrasi perilaku menunjukkan lemahnya seseorang secara emosional. Freepik

JawaPos.com - Pernah atau tidak, kamu sedang mengantre di sebuah kafe dan seorang membentak barista karena lattenya mengandung susu almond, bukan oat.

Tidak ada adu mulut, tidak ada kemarahan di depan umum, hanya nada tajam dan tajam yang mengubah seluruh energi di ruangan itu.

Saat-saat seperti itu, betapa mudahnya mengenali kecerdasan emosional yang rendah setelah Anda mulai memperhatikan.

Tidak selalu dramatis. Seringkali, hal itu tersembunyi di balik perilaku kecil sehari-hari yang diam-diam mengungkapkan bagaimana kita menangani diri sendiri dan orang lain.

Psikologi mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi kita, dan melakukan hal yang sama dengan emosi orang lain.

Bila keterampilan itu hilang, hubungan menjadi terganggu, komunikasi terputus, dan kedamaian batin menjadi sulit ditemukan.

Dilansir dari Geediting, inilah delapan perilaku yang seringkali menandakan rendahnya kecerdasan emosional, dan apa yang harus dilakukan sebagai gantinya? Simak penjelasannya!

1. Bereaksi Sebelum Bertindak

Kita semua pernah mengatakan sesuatu saat sedang marah yang kemudian kita sesali. Tetapi orang-orang dengan kecerdasan emosional rendah cenderung hidup dalam keadaan reaktif.

Mereka merasakan percikan kemarahan atau rasa malu dan langsung bertindak. Mereka membanting pintu, mengirim pesan singkat, atau memberikan perlakuan diam. 

Mereka melewatkan jeda antara emosi dan tindakan, yang memberikan ruang untuk kejelasan. Pengaturan emosi merupakan salah satu pilar utama kecerdasan emosional. 

Psikolog sering menggambarkannya sebagai kemampuan untuk menyaksikan emosi Anda alih-alih dikendalikan olehnya.

Bila Anda belajar untuk berhenti sejenak, bahkan untuk beberapa detik, Anda memperoleh kekuatan untuk memilih respons Anda dib didorong oleh dorongan hati. Perhatian penuh membantu di sini. Begitu juga dengan bernapas dalam.

2. Selalu Merasa Benar

Pernahkah Anda berada dalam percakapan di mana seseorang tidak dapat melepaskan diri dari anggapan bahwa dirinya benar? 

Tidak peduli fakta apa pun yang Anda sampaikan, mereka memutarbalikkan cerita hingga mereka menang. Ini bukan kepercayaan diri. 

Itu adalah rasa tidak aman yang disamarkan sebagai kendali. Kecerdasan emosional yang rendah sering kali muncul sebagai sikap defensif.

Orang-orang yang belum belajar menoleransi kesalahan atau tantangan akan melihat setiap perbedaan pendapat sebagai serangan. 

Secara psikologis, ini terkait dengan perlindungan ego. Ketika kita tidak dapat memisahkan harga diri dari pendapat kita, kita menjadi kaku. 

Orang yang cerdas secara emosional memahami bahwa melakukan kesalahan tidak membuat mereka kurang berharga. Itu berarti mereka terbuka terhadap pertumbuhan.

3. Mengabaikan Emosional

Bayangkan rekan kerja yang tidak menyadari saat seseorang sedang marah, atau teman yang terus bercanda meski jelas-jelas tidak mengenakkan.

Ini tidak selalu merupakan kekejaman yang disengaja. Seringkali ini adalah kurangnya penyesuaian. Orang dengan kecerdasan emosional rendah kesulitan membaca isyarat nonverbal seperti nada suara, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh.

Mereka begitu asyik dengan pikirannya sendiri sehingga mereka tidak peduli dengan apa yang dirasakan orang lain. Psikologi menyebut ini sebagai kesadaran emosional yang rendah.

Hal ini menimbulkan kesalahpahaman dan membuat orang di sekitar mereka merasa tidak terlihat. Salah satu cara untuk memperkuat keterampilan ini adalah melalui pengamatan yang penuh perhatian.

Ketika Anda berbicara dengan seseorang, perhatikan nada bicaranya, napasnya, dan kecepatan bicaranya. Kadang-kadang apa yang tidak mereka katakan berbicara paling keras.

4. Menghindari Emosi

Penghindaran sering kali menyamar sebagai kekuatan. Saya tidak emosional, saya hanya melanjutkan hidup.

Namun, memendam perasaan bukanlah kedewasaan emosional, itu ialah pengabaian emosional. 

Orang dengan kecerdasan emosional rendah cenderung menekan ketidaknyamanan daripada mengatasinya.

Mereka menyingkirkan kesedihan dengan mengalihkan perhatian, menutupi ketakutan dengan pengendalian, atau menertawakan kesedihan agar keadaan tetap ringan. 

Secara psikologis, hal ini menghambat pemrosesan emosi dan dapat menimbulkan kecemasan atau kebencian seiring berjalannya waktu.

Belajarlah untuk merasakan tanpa menghakimi adalah sesuatu yang hebat. Meditasi mengajari kita bahwa emosi bukanlah masalah yang harus diperbaiki, itu adalah sinyal yang harus didengarkan.

5. Mengambil Segala Sesuatu

Seseorang membuat komentar netral, dan komentar itu langsung berubah menjadi penghinaan. Atau seorang teman membatalkan rencana, dan tiba-tiba itu menjadi bukti bahwa mereka tidak peduli. 

Ketika kita kehilangan batasan emosional, segalanya terasa personal. Kita berasumsi tindakan orang lain adalah cerminan diri kita, padahal kenyataannya, tindakan mereka seringkali tidak ada kaitannya dengan kita. 

Pola pikir ini menguras energi dan merusak hubungan. Psikolog menyebutnya penalaran emosional, kebiasaan mempercayai bahwa karena kita merasakan sesuatu, itu pasti benar. 

Orang yang cerdas secara emosional memahami bahwa perasaan adalah informasi, bukan konfirmasi.

Mereka berhenti sejenak untuk bertanya: Apakah ini tentang saya, atau tentang apa yang mereka alami? Pertanyaan sederhana itu mengubah segalanya.

6. Berjuang dengan Meminta Maaf

Permintaan maaf yang sesungguhnya membutuhkan kerendahan hati. Artinya mengakui rasa sakit, bertanggung jawab, dan menunjukkan penyesalan yang tulus tanpa alasan.

Orang dengan kecerdasan emosional rendah sering melewatkan langkah ini. Mereka mengatakan hal-hal seperti, saya turut prihatin dengan perasaan Anda.

Atau aku tidak bermaksud seperti itu, kamu terlalu sensitif. Ini bukan permintaan maaf. Itu adalah pembelokan. 

Mereka melindungi ego yang dibangun untuk memperbaiki hubungan. Dalam psikologi, pola ini terkait rendah empati, ketidakmampuan atau keengganan untuk sepenuhnya memahami pengalaman emosional orang lain.

Ketika saya mulai berlatih yoga dengan serius, saya menyadari betapa mudahnya meminta maaf. Latihan ini mengajarkan penyerahan diri. 

Itu mengingatkanku bahwa mengakui kesalahan tidak akan membuatku menyusut. Kelembutan itulah yang menumbuhkan koneksi.

7. Mengabaikan Emosi Orang Lain

Pernahkah Anda terbuka kepada seseorang dan mendengar, kamu bereaksi berlebihan atau lupakan saja?

Itu adalah penolakan emosional, bentuk penolakan halus yang sering kali berasal dari kecerdasan emosional yang rendah.

Secara psikologis, invalidasi memicu rasa malu. Ini mengirimkan pesan bahwa emosi kita salah atau tidak nyaman. 

Orang yang meremehkan perasaan orang lain seringkali melakukannya karena mereka tidak nyaman dengan kerentanan, bukan karena mereka tidak peduli.

Mereka tidak tahu bagaimana memberi ruang bagi penderitaan orang lain, jadi mereka justru meminimalkannya. 

Jika ini terdengar familier, berlatihlah untuk bertahan dalam ketidaknyamanan. Anda tidak perlu memperbaiki perasaan siapapun. 

Anda hanya perlu menyaksikannya. Kadang-kadang diam, kehadiran, dan anggukan lembut sudah cukup.

8. Menyalahkan Dibanding Mengambil Tanggung Jawab

Menyalahkan adalah jalan keluar yang mudah. Ia mengalihkan ketidaknyamanan kepada orang lain dan menghalangi kita menghadapi peran kita sendiri dalam suatu situasi.

Orang dengan kecerdasan emosional rendah seringkali menyalahkan karena tanggung jawab terasa mengancam. Artinya menyadari bahwa kita dapat menyebabkan kerugian bahkan tanpa sengaja.

Psikologi menghubungkan rasa bersalah yang kronis dengan tempat kendali eksternal, keyakinan bahwa hidup kita lebih banyak dibentuk oleh orang lain daripada oleh tindakan kita sendiri. 

Pola pikir ini membuat kita terjebak.

Mengambil tanggung jawab tidak berarti menerima semua kesalahan. 

Artinya mengakui apa yang menjadi milik Anda dan belajar darinya. Setiap kali Anda mendapati keadaan menyalahkan diri sendiri

Anda berhenti dan bertanya apa peran saya di sini? Pertanyaan itu selalu membawa Anda kembali pada kejujuran dan pertumbuhan.

 
EDITOR: Setyo Adi Nugroho