← Beranda

Psikologi Ungkap 7 Ciri Perempuan yang Rela Jadi Selingkuhan Walau Tahu Si Pria Sudah Punya Pasangan, Nomor 6 Bikin Geleng-Geleng!

Mellyna Putri DiniarKamis, 21 Agustus 2025 | 23.46 WIB
Ilustrasi perempuan yang dengan sadar mau jadi selingkuhan./(Freepik)

JawaPos.com – Tidak semua perempuan memilih hubungan dengan pria berpasangan karena ketidaktahuan. Ada juga yang melakukannya dengan penuh kesadaran meskipun tahu risiko yang akan dihadapi. 

Fenomena ini bukan hal baru, namun tetap menimbulkan perdebatan, terutama soal alasan psikologis di balik keputusan tersebut.

Psikologi menilai ada pola kepribadian tertentu yang membuat seorang perempuan rela menempatkan diri pada posisi yang merugikan dirinya maupun orang lain.

Menariknya, persoalan ini bukan hanya menyangkut sisi emosional, tetapi juga erat kaitannya dengan kebutuhan ego, validasi, hingga luka batin yang belum terselesaikan. 

Tidak jarang, alasan-alasan ini justru membuat seorang perempuan bertahan dalam peran sebagai selingkuhan meski sadar akan risiko cap negatif menjadi pelakor—perebut lelaki orang.

Baca Juga: Anggota DPR Minta Gerbong Khusus Merokok di Kereta Api, Dirjen Perkeretaapian Kemenhub Allan Tandiono: Melanggar Undang-Undang!

Dilansir dari Physis Consultancy, Kamis (21/8/2025), ada tujuh ciri kepribadian perempuan yang dengan sadar memilih menjadi selingkuhan meski mengetahui pria tersebut sudah memiliki pasangan. Berikut penjelasan lengkapnya:

1. Haus Kasih Sayang, Perhatian, dan Validasi

Perempuan dengan kebutuhan tinggi akan pengakuan sering kali mencari perhatian lebih dari luar. 

Hubungan dengan pria berpasangan bisa memberi sensasi eksklusif, seolah dirinya ‘spesial’ karena berhasil dipilih diam-diam. Sensasi inilah yang membuatnya sulit melepaskan diri, meski sadar posisinya bukan yang utama.

Haus perhatian ini juga biasanya tercermin dari aksi dan postingannya di media sosial. Unggahan yang penuh simbol, sindiran, atau pencarian validasi sering menjadi cara untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain, meski tidak selalu disadari oleh dirinya sendiri.

Baca Juga: Bali United Sangat Superior Hadapai Persebaya Surabaya! Serdadu Tridatu Menang 7 Kali dari 12 Pertemuan

2. Rendahnya Rasa Percaya Diri

Kurangnya keyakinan terhadap nilai diri bisa membuat seseorang merasa tidak layak mendapatkan hubungan sehat dan setara. 

Kondisi ini membuat mereka menerima hubungan yang timpang. Rasa percaya diri yang rapuh bisa menjadi pintu masuk untuk menerima peran sebagai yang kedua.

3. Gatal Mencari Sensasi Baru

Salah satu ciri yang disebutkan adalah sifat ‘gatal’ atau selalu ingin mencoba hal baru, termasuk dalam urusan asmara. 

Bagi sebagian perempuan, hubungan terlarang justru menghadirkan adrenalin yang membuatnya merasa hidup lebih berwarna. Tantangan dan risiko dianggap sebagai bagian dari keseruan.

4. Mudah Termanipulasi

Tidak semua orang menyadari sedang berada dalam hubungan manipulatif. Pria yang lihai bermain kata kerap membuat perempuan percaya bahwa hubungan resmi mereka sudah tidak sehat.

Akibatnya, selingkuhan merasa seolah sedang membantu, padahal kenyataannya hanya menjadi pelarian.

5. Kecanduan Drama Emosional

Ada individu yang merasa hidupnya kurang lengkap tanpa drama. Hubungan terlarang sering kali penuh ketegangan, rahasia, dan risiko ketahuan. 

Pola ini membuat sebagian perempuan terjebak karena drama itu sendiri sudah menjadi candu emosional yang sulit dilepaskan.

6. Keyakinan Bisa Mengubah Pasangan

Banyak perempuan masuk dalam hubungan semacam ini karena percaya bahwa seiring waktu, pria tersebut akan meninggalkan pasangannya demi dirinya. 

Namun, realitas membuktikan harapan itu jarang terjadi. Keyakinan ini justru menjerat mereka semakin dalam ke dalam hubungan tak sehat.

7. Membenarkan Kesalahan Pasangan

Alasan lain adalah sikap permisif terhadap perilaku pria. Ungkapan seperti “istrinya memang tidak mengerti dia” sering dijadikan pembenaran. 

Padahal, ini hanyalah cara pria untuk menjaga status quo dan membuat selingkuhan tetap bertahan dalam hubungan.

Menjadi selingkuhan dengan penuh kesadaran bukan sekadar soal pilihan moral, melainkan sering terkait dengan pola kepribadian tertentu. Tujuh ciri di atas menunjukkan bagaimana psikologi dapat menjelaskan fenomena ini. 

Pada akhirnya, pilihan untuk keluar atau bertahan kembali kepada individu itu sendiri. Namun, penting untuk disadari: hubungan yang sehat selalu berdiri di atas keterbukaan, kejujuran, dan penghargaan diri.

EDITOR: Hanny Suwindari