← Beranda

8 Tanda Orang yang Merasa Sangat Insecure namun Tidak Menyadarinya, Menurut Psikologi

M Shofyan Dwi KurniawanSelasa, 1 Juli 2025 | 23.09 WIB
Ilustrasi orang yang merasa sangat insecure (Dok. Pexels)

JawaPos.com - Perasaan insecure bukan selalu tentang menangis di pojok ruangan atau terus-menerus merasa gagal. Kadang, justru muncul dalam bentuk kepercayaan diri yang mencolok, sikap defensif, atau perilaku sehari-hari yang terlihat biasa saja.

Psikolog menggambarkan rasa insecure sebagai perasaan tidak mampu yang terus-menerus, yang secara halus memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan bertindak bahkan tanpa disadari. 

Karena pola-pola ini terbentuk dari waktu ke waktu, banyak orang tak menyadari bahwa mereka sedang hidup dalam ketidakamanan yang tersembunyi.

Berikut delapan tanda umum bahwa seseorang mungkin merasa sangat tidak aman, meskipun terlihat baik-baik saja di permukaan, seperti dilansir dari VegOut.

Baca Juga: 5 Tanda yang Menunjukkan Bahwa Seseorang Butuh Jeda Waktu dari Media Sosial, Menurut Psikologi

1. Selalu Membanggakan atau Merendahkan Diri dalam Hampir Setiap Percakapan

Pernah mendengar seseorang menyelipkan prestasi mereka dalam topik yang tidak nyambung, seperti, "Saya mau pesan latte—seperti waktu saya berlibur ke Bali?"

Atau sebaliknya, yang terlalu sering meremehkan diri sendiri agar terlihat rendah hati?

Promosi diri yang terus-menerus atau merendahkan diri secara berlebihan bisa jadi merupakan tameng dari harga diri yang rapuh. 

Psikolog menyebut ini sebagai harga diri defensif yaitu saat kesan luar yang percaya diri sebenarnya menutupi keraguan batin yang dalam.

Orang dengan harga diri yang benar-benar stabil tidak merasa perlu terus-menerus mengumumkan pencapaian mereka. Mereka merasa cukup, bahkan saat tidak ada yang tahu seberapa hebat mereka.

2. Tidak Bisa Menerima Kritik, Bahkan yang Paling Lembut Sekalipun

Bagi orang yang percaya diri, kritik adalah masukan untuk berkembang. Tapi bagi seseorang yang merasa tidak aman, kritik terasa seperti serangan pribadi.

Salah satu tanda paling mencolok: saat diberi saran, mereka langsung defensif, menyalahkan orang lain, atau tiba-tiba menghilang. Ini sering berkaitan dengan pola pikir tetap, menurut psikolog Carol Dweck—di mana seseorang percaya bahwa kemampuan adalah sesuatu yang tidak bisa diubah.

Sebaliknya, orang dengan pola pikir berkembang melihat masukan sebagai jalan menuju perbaikan. Kamu bisa membedakan keduanya dalam rapat: ada yang mencatat saran, dan ada yang tersinggung sepanjang hari.

3. Terobsesi Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Hampir semua orang pernah membandingkan diri dengan orang lain. Tapi jika seseorang terus-menerus mengecek siapa yang lebih disukai, lebih sukses, atau bahkan lebih banyak langkah di aplikasi kebugaran. Itu bisa jadi sinyal adanya ketidakamanan yang konstan.

Menurut teori perbandingan sosial oleh Leon Festinger, manusia cenderung menilai diri sendiri melalui perbandingan ketika tidak ada ukuran objektif. 

Masalahnya, bagi orang yang tidak percaya diri, semuanya terasa subjektif. Jadi, perbandingan tidak pernah berhenti, dan kepuasan pun selalu terasa sementara.

4. Sering Menyabotase Diri Sendiri Sebelum Peluang Besar

Contohnya: tidak sengaja lupa kirim proposal penting, datang terlambat ke wawancara, atau malah berpesta semalaman sebelum ujian. Ini disebut self-handicapping atau sengaja menciptakan alasan agar punya "pembelaan" saat gagal.

Logikanya terdengar seperti ini: lebih baik gagal karena begadang daripada karena memang tidak cukup baik. Sayangnya, perilaku ini hanya memperkuat rasa tidak mampu dalam jangka panjang.

5. Terlalu Sering Meminta Maaf atau Menjelaskan Hal-Hal Kecil

"Maaf, typo di email tadi!" atau "Maaf banget kalau kopinya nggak cukup panas," atau bahkan, "Maaf udah napas deket meja kamu."

Permintaan maaf yang terlalu sering sering kali bukan tentang sopan santun, tapi tentang ketakutan membuat orang lain kecewa. Ini berakar dari keinginan untuk menyenangkan semua orang dan rasa takut ditolak jika tidak melakukannya.

Kesalahan besar memang perlu permintaan maaf. Tapi kesalahan kecil seharusnya cukup ditanggapi dengan senyum, bukan permintaan maaf berulang-ulang.

6. Bergantung pada Orang Lain, tapi Diam-Diam Menguji Mereka

Dalam hubungan, orang yang tidak aman bisa tampak sangat lengket sekaligus curiga. Mereka sering mencari kepastian lewat pesan, pujian, atau validasi konstan namun juga selalu waspada terhadap tanda-tanda akan ditinggalkan.

Teori keterikatan menunjukkan bahwa orang dengan attachment anxiety cenderung merasa tidak layak dicintai.

Ironisnya, perilaku seperti cemburu, bergantung, dan suka menguji pasangan justru sering membuat orang menjauh. Rasa takut yang selama ini menghantui pun akhirnya jadi kenyataan.

7. Selalu Menolak Pujian, atau Mengubahnya Jadi Olok-Olok

"Presentasi kamu keren banget!"
"Ah, aku cuma baca slide doang, kok."

Menolak pujian mungkin terdengar rendah hati, tapi kalau dilakukan terus-menerus, bisa jadi itu tanda ketidaknyamanan terhadap pengakuan.

Banyak orang yang merasa seperti penipu—percaya bahwa kesuksesan mereka hanyalah hasil dari keberuntungan, atau bahwa mereka tidak benar-benar pantas dipuji. Akibatnya, setiap pujian justru membuat mereka gelisah, bukan senang.

Orang yang percaya diri akan menjawab "terima kasih" dengan tenang. Yang tidak percaya diri akan menghindar, seolah-olah pujian itu jebakan.

8. Terlalu Ingin Mengontrol atau Malah Menolak Semua Kontrol

Ketidakamanan bisa muncul sebagai kebutuhan untuk mengatur segalanya atau sebaliknya, menyerahkan semua keputusan ke orang lain.

Seseorang bisa saja sangat perfeksionis di tempat kerja, takut mendelegasikan karena khawatir akan terlihat kurang kompeten. Tapi di kehidupan sosial, mereka cenderung pasif dan membiarkan orang lain memutuskan, karena takut membuat pilihan yang "salah."

Keduanya berakar dari hal yang sama: kecemasan tentang kemampuan diri sendiri. Kepercayaan diri sejati menciptakan fleksibilitas. Mereka tahu kapan harus memimpin, dan kapan harus memberi ruang pada orang lain.

Rasa insecure bukan kelemahan karakter melainkan pengalaman manusiawi yang sering kali tersembunyi di balik kepribadian yang tampak kuat. 

Mengenali tanda-tandanya adalah langkah pertama menuju pemahaman yang lebih dalam, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Baca Juga: 7 Tanda Pria Hanya Menginginkan Tubuhmu, Bukan Hatimu: Waspadai Cinta Palsu yang Penuh Nafsu

EDITOR: Candra Mega Sari