JawaPos.com - Ketika dua orang terlihat sangat cocok satu sama lain, banyak yang berpikir hubungan mereka akan bertahan lama. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian.
Banyak pasangan yang tampaknya serasi justru berakhir dengan perpisahan. Hal ini tentu membingungkan, mengingat mereka memiliki banyak kesamaan dan tampak harmonis.
Menurut psikologi, dilansir dari Geediting pada Minggu (16/3), ada beberapa perilaku yang sering ditunjukkan oleh pasangan serasi yang akhirnya tetap berpisah.
Perilaku-perilaku ini bisa menjadi pemicu utama retaknya hubungan, meskipun secara kompatibilitas mereka terlihat sempurna.
1. Kurangnya Komunikasi yang Efektif
Komunikasi adalah kunci utama dalam sebuah hubungan. Sayangnya, meskipun pasangan terlihat serasi, bukan berarti mereka selalu memiliki komunikasi yang baik.
Banyak pasangan yang kesulitan mengungkapkan perasaan atau memahami sudut pandang pasangannya. Ini bisa memicu kesalahpahaman yang berujung pada kekecewaan dan perasaan tidak dihargai.
Seperti yang dikatakan psikolog Carl Rogers, “Masalah terbesar dalam komunikasi adalah ilusi bahwa komunikasi telah terjadi.” Artinya, sering kali kita merasa sudah berkomunikasi dengan baik, padahal sebenarnya belum.
Maka, meskipun hubungan terasa serasi, komunikasi yang kurang efektif bisa menjadi penyebab utama renggangnya hubungan.
2. Tidak Mampu Menyelesaikan Konflik
Setiap hubungan pasti mengalami konflik, dan cara menyelesaikannya sangat menentukan kelangsungan hubungan itu sendiri.
Ada pasangan yang memilih menghindari konflik, sementara yang lain cenderung meledak-ledak saat menghadapi masalah. Jika tidak ada keseimbangan dalam cara menyelesaikan konflik, hubungan bisa terasa melelahkan dan tidak sehat.
Psikolog Dr. John Gottman menyebutkan bahwa cara pasangan menangani konflik jauh lebih penting daripada frekuensi bertengkarnya. Sebab, konflik yang dibiarkan tanpa penyelesaian justru bisa merusak hubungan secara perlahan.
3. Mengabaikan Pertumbuhan Pribadi
Hubungan yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi kedua individu untuk berkembang. Namun, banyak pasangan yang tanpa sadar mengorbankan pertumbuhan pribadi demi mempertahankan hubungan.
Mungkin ada yang rela melepaskan hobi, mengesampingkan impian, atau bahkan menyesuaikan diri terlalu jauh demi pasangan. Awalnya, ini mungkin terasa seperti bentuk kompromi, tetapi lama-kelamaan bisa menimbulkan rasa tidak puas dan kehilangan jati diri.
Seperti kata psikolog Abraham Maslow, “Apa yang seseorang bisa menjadi, ia harus menjadi.” Artinya, seseorang harus tetap berkembang dan mengejar potensi terbaiknya, meskipun sedang menjalin hubungan.
4. Menghindari Percakapan Sulit
Banyak pasangan memilih untuk tidak membahas hal-hal yang sensitif, seperti keuangan, keluarga, atau rencana masa depan, karena takut memicu konflik.
Padahal, penelitian dalam Journal of Social and Personal Relationships menunjukkan bahwa pasangan yang sering menghindari percakapan sulit cenderung merasa kurang puas dalam hubungan mereka dan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk berpisah.
Menghindari topik sulit hanya akan menunda masalah, bukan menyelesaikannya. Sebaliknya, berbicara secara terbuka dan jujur bisa membantu memperkuat hubungan.
5. Kurangnya Apresiasi
Ketika hubungan sudah berjalan cukup lama, banyak pasangan mulai terbiasa dengan kehadiran satu sama lain dan tanpa sadar menjadi kurang menghargai pasangannya.
Padahal, perasaan dihargai dan diperhatikan sangat penting dalam sebuah hubungan. Kurangnya apresiasi bisa membuat salah satu pihak merasa diabaikan dan tidak berarti dalam hubungan tersebut.
Seperti yang dikatakan psikolog William James, “Prinsip terdalam dalam sifat manusia adalah keinginan untuk dihargai.” Oleh karena itu, penting untuk terus menunjukkan rasa terima kasih kepada pasangan, sekecil apa pun bentuknya.
6. Ketergantungan Berlebihan
Meskipun kedekatan dalam hubungan itu penting, terlalu bergantung pada pasangan juga bisa menjadi masalah. Ketika seseorang terlalu mengandalkan pasangannya untuk kebahagiaan, rasa percaya diri, atau bahkan dalam mengambil keputusan, hubungan bisa terasa menekan dan tidak seimbang.
Seorang psikolog terkenal, Carl Jung, pernah mengatakan bahwa tragedi terbesar dalam keluarga adalah ketika seseorang tidak menjalani hidupnya sendiri. Artinya, dalam sebuah hubungan, setiap individu tetap harus memiliki kehidupan dan kebahagiaan di luar pasangannya.
Hubungan yang sehat adalah tentang dua individu yang mandiri, bukan tentang dua orang yang saling menggantikan kekosongan satu sama lain.
7. Mengabaikan Tanda-Tanda Peringatan
Terkadang, seseorang memilih untuk mengabaikan tanda-tanda peringatan dalam hubungan hanya karena merasa sudah sangat cocok dengan pasangannya.
Hal ini bisa terjadi karena rasa takut kehilangan, harapan bahwa semuanya akan membaik seiring waktu, atau bahkan karena tidak ingin menghadapi kenyataan yang tidak diinginkan.
Namun, seperti yang dikatakan Dr. Phil McGraw, “Satu-satunya hal yang lebih buruk daripada berada dalam hubungan yang buruk selama satu tahun adalah bertahan satu tahun dan satu hari.” Jika ada masalah yang terus berulang dan tidak terselesaikan, mengabaikannya hanya akan memperburuk keadaan.
Banyak yang berpikir bahwa jika dua orang sangat cocok, maka hubungan mereka akan berjalan mulus tanpa masalah. Namun, kenyataannya, kompatibilitas saja tidak cukup untuk menjaga hubungan tetap langgeng.
Hubungan yang sehat membutuhkan komunikasi yang baik, kesediaan untuk menyelesaikan konflik, serta dukungan bagi pertumbuhan pribadi masing-masing.
Pada akhirnya, yang membuat hubungan bertahan bukan hanya keserasian, tetapi juga usaha yang dilakukan oleh kedua belah pihak untuk tetap menjaga dan mengembangkan hubungan tersebut.
***