← Beranda

8 Perilaku Halus Orang yang Belum Sepenuhnya Melupakan Masa Lalu, Menurut Psikologi

Rabbany WanadrianiSelasa, 4 Maret 2025 | 23.07 WIB
ilustrasi yang memikirkan masa lalu. Sumber foto: Freepik

JawaPos.com – Melepaskan tidak selalu mudah, terutama jika menyangkut masa lalu.

Sering kali, kita begitu asyik dengan masa lalu sehingga masa lalu itu mulai memengaruhi masa kini tanpa disadari.

Dilansir Baseline, psikologi menyebut 8 perilaku yang mungkin menunjukkan seseorang masih terpaku pada masa lalunya.

  1. Nostalgia yang obsesif

Kita semua memiliki saat-saat ketika merasa bernostalgia. Merupakan sifat manusia untuk mengenang masa lalu dengan penuh rasa sayang.

Baca Juga: Ribuan Pekerja Sritex Minta Dukungan Komisi IX DPR Agar Pesangon dan THR Bisa Dipenuhi

Namun menurut psikolog, fokus berlebihan pada masa lalu dapat menjadi indikasi halus bahwa seseorang belum sepenuhnya move on.

Mereka mungkin terus-menerus memunculkan kenangan lama atau tampak tidak mampu berinteraksi dengan masa kini.

  1. Keengganan untuk membuat kenangan baru

Keengganan untuk menciptakan kenangan baru merupakan tanda samar bahwa kita masih terpaku pada masa lalu.

Perilaku ini tidak hanya mengganggu orang di sekitar, tetapi juga berpotensi membahayakan bagi orang yang terjebak dalam siklus ini.

Baca Juga: Simak 8 Cara Mengobati Mata Bintitan, Salah Satunya Kompres Hangat

Mereka pada dasarnya menyangkal kegembiraan hidup sepenuhnya di masa sekarang.

  1. Berpegang pada dendam lama

Beberapa studi menyebut bahwa menyimpan dendam dapat merusak kesehatan mental dan fisik.

Orang yang menyimpan dendam lama sering kali memutar ulang kejadian masa lalu dalam benak mereka, yang memicu perasaan dendam dan kepahitan.

  1. Menghindari perubahan

Hidup adalah perubahan yang terus-menerus. Perubahan tidak dapat dihindari. Namun, bagi sebagian orang, kebenaran sederhana ini bisa menjadi perjuangan yang berat.

Orang-orang yang belum sepenuhnya melepaskan masa lalu sering kali menunjukkan penolakan yang kuat terhadap perubahan.

Mereka berpegang pada rutinitas, kebiasaan, atau cara berpikir lama, bahkan ketika hal itu tidak lagi berguna baginya.

  1. Bereaksi berlebihan terhadap kenangan masa lalu

Kita semua punya hal-hal yang mengingatkan pada masa lalu, bisa berupa lagu, aroma, atau bahkan suatu tempat.

Pengingat-pengingat ini sering kali menimbulkan rasa nostalgia. Namun, bagi mereka yang belum sepenuhnya melupakan masa lalu, ini dapat memicu reaksi emosional, cemas, atau bahkan amarah.

  1. Kesulitan merangkul kebahagiaan

Bagi mereka yang terjebak di masa lalu, merangkul kegembiraan bisa jadi merupakan tantangan yang sangat besar.

Mereka mungkin kesulitan untuk terlibat sepenuhnya dalam saat-saat bahagia, hampir seperti menunggu hal buruk terjadi.

Seolah-olah mereka takut membiarkan dirinya bahagia, takut kebahagiaan itu akan direnggut.

  1. Ketidakmampuan untuk mempercayai orang lain

Kepercayaan adalah landasan hubungan yang sehat. Namun, bagi mereka yang belum sepenuhnya melupakan masa lalu, membangun kepercayaan bisa terasa seperti hal mustahil.

Mereka mungkin terus-menerus menebak-nebak niat orang lain atau merasa sulit mempercayai keaslian tindakan atau perkataan orang lain.

Perilaku ini sering kali berasal dari pengalaman masa lalu di mana kepercayaan mereka dirusak atau dieksploitasi.

  1. Sering berbicara negatif pada diri sendiri

Cara kita berbicara kepada diri sendiri itu penting. Cara itu membentuk persepsi diri, kepercayaan diri, dan pendekatan terhadap kehidupan.

Mereka yang belum sepenuhnya melupakan masa lalu, kerap kali terlibat dalam pembicaraan negatif dengan diri sendiri.

Mereka mungkin meremehkan prestasi yang diraih, meremehkan keterampilan, atau terus-menerus mengkritik diri.

EDITOR: Hanny Suwindari