JawaPos.com - Bulan November 2023, Rumah Sakit Indonesia menjadi satu satu rumah sakit yang berfungsi dan beroperasional di bagian utara Gaza. Hal tersebut merupakan akibat dari aksi brutal Israel terhadap Gaza, Palestina.
Rumah sakit ini diberi nama RS INDONESIA (RSI) dengan harapan bisa menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina.
Dana pembangunan RS Indonesia di Gaza seluruhnya berasal dari donasi rakyat Indonesia. Berikut perjalanan dibangunnya Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara.
Baca Juga: Diperankan Takumi Kitamura, Live Action Serial Manga Yu Yu Hakusho Rilis Video Teaser Terbaru
1. Latar Belakang dibangunnya Rumah Sakit Indonesia
Berawal dari Gempuran dahsyat dari Israel pada 27 Desember 2008 ke Jalur Gaza.
Menurut data Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, Akibat agresi Israel selama 22 hari, jumlah syahid tercatat 1.366 orang yang terdiri dari 437 anak-anak, 110 wanita dan 123 lansia. Sementara jumlah cedera tercatat 5.650 orang.
Pada (1/1/09) tim Medis MER-C bersama dengan tim Pemerintah RI berangkat ke Gaza guna menyalurkan bantuan kepada para korban.
Baca Juga: Ditanya Anaknya Ngak Dimajukan Cawapres, Surya Paloh: Tunggu Dulu, Akan Tiba Saatnya
Setelah menunggu selama dua pekan di perbatasan, pada tanggal (17/1/09) Tim MER-C baru berhasil memasuki Jalur Gaza. Ketika itu, wilayah Gaza masih dalam keadaan puncak serangan.
Tim MER-C juga melihat bahwa Rumah Sakit Indonesia di Gaza mencerminkan menampung korban agresi yang begitu banyak, terlebih lagi wilayah Gaza utara yang berbatasan langsung dengan Israel.
Sebagai sebuah wilayah perang, Gaza juga hanya memiliki 1 RS Rehabilitasi, yang tidak luput dari serangan Israel.
2. MER-C tanda tangan MOU Pembangunan Rumah Sakit Indonesia dengan Menkes Palestina di Gaza.
Baca Juga: Tingkatkan Kesadaran Masyarakat Akan Kanker Payudara Lewat Program 'Selangkah'
Pada (23/1/09) melihat kebutuhan akan sarana kesehatan khususnya yang fokus pada trauma dan rehabilitasi serta jumlah donasi dari masyarakat Indonesia yang cukup besar saat itu.
Maka Tim MER-C didampingi sejumlah wartawan Indonesia bertemu dengan Menkesa Palestina di Gaza, dr. Bassim Naim, untuk menyampaikan rencana pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Jalur gaza.
Rencana ini disambut dengan sangat baik. Atas nama rakyat Indonesia yang disampaikan oleh dr. Joserizal Jurnalis, Sp.OT dan atas nama rakyat Gaza yang diwakili oleh dr. Bassim Naim melakukan penandatanganan MOU Pembangunan RSI di Gaza.
Baca Juga: Visi Misi dan Hati Prabowo Dinilai Cocok dengan Hati Para Kiai dan Warga NU
Penandatanganan ini juga disaksikan oleh dr. Sarbini Abdul Murad (Ketua Presidium MER-C), Drs. Hm. Mursalin (Forum Umat Islam), Ir. Hanibal WY Wijayanta (Jurnalis ANTV), Andi Jauhari (Jurnalis ANTARA) dan para ulama Gaza.
Keberadaan RSI ini diharapkan dapat membantu menangani pasien-pasien yang mengalami trauma fisik dan merehabilitasi mereka sehingga mereka dapat mandiri dan beraktifitas kembali.
3. Mengapa Disebut Rumah Sakit Indonesia ?
Satu, Karena seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia.
Dua, Rumah Sakit ini yang kita harapkan bisa menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina.
Baca Juga: Lakukan Terapi Tradisional Tiongkok Ini Untuk Mengatasi Serangan Jantung, Berikut Penjelasannya
Tiga, dengan nama dan keberadaan RS ini kami ingin memberi pesan bahwa di tanah Palestina terdapat aset dan sumbangan dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina.
4. Program Lika - liku Rumah Sakit Indonesia
Sempat mengalami kendala untuk mendapatkan izin masuk ke Gaza ketika MER-C pada 3 Mei 2009 sudah mengantongi surat tanah wakaf untuk RSI dan PM PM Palestina, Ismail Haniya.
Akhirnya, MER-C bersama aktivis dari berbagai Negara mengikuti Misi Freedom Flotilla (Armada Pembebasan Gaza) dengan menaiki kapal milik organisasi IHH Turki bernama "Mavi Marmara" hingga terjadi insiden penyerangan kapal oleh tentara Israel yang menyebabkan 9 aktivis meninggal dunia dan puluhan luka-luka .
Aktivis lain, termasuk Tim MER-C ditangkap dan ditahan oleh Israel. Harapan menginjakkan kaki di tanah Gaza untuk melanjutkan program RSI pun pupus.
Tekanan dunia Internasional yang besar pasca insiden penyerangan "Mavi Marmara" membuat pintu perbatasan menuju Gaza menjadi "agak longgar"
Akhirnya Juli 2010, Tim MER-C dengan sejumlah media akhirnya bisa kembali masuk ke Jalur Gaza.
Cabang MER-C di Gaza dibuka dan mendapat pengakuan resmi dari Pemerintah setempat, pada Agustus 2010. Pengakuan ini diberikan bertepatan dengan acara peringatan HUT RI ke-65 yang merupakan HUT RI pertama kali diselenggarakan di Jalur gaza.
Setelah itu, beberapa tahapan dilakukan pembangunan Rumah Sakit Indonesia yaitu tim melakukan Soil Investigation Test terhadap tanah wakaf, survei lahan untuk mendapatkan data kontur topografi tanah.
20 April - 20 Mei 2011 : Tim Konstruksi MER-C yang diketuai oleh Ir. Faried Thalib berangkat ke Gaza untuk menentukan pemenang tender dan melakukan kontak dengan pemenang tender.
Namun hingga 1 bulan di Mesir, Tim MER-C tidak mendapat izin masuk ke Gaza. Proses penentuan pemenang tender pun dilakukan melalui telekonferens antara Tim MER-C di Mesir, Tim MER-C di Gaza dan para kontraktor di Gaza.
Pada (28/4/11) kontraktor First Company ditetapkan sebagai pemenang tender pembangunan tahap 1 (satu) untuk Struktur RSI.
5. Pembangunan Rumah Sakit Indonesia dimulai
Divisi Konstruksi MER-C membagi proses pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza menjadi 2 tahap. Tahap pertama berupa pembangunan struktur.
Baca Juga: Rey Utami dan Otto Hasibuan Gelar Doa Bersama untuk Jessica Wongso
Selanjutnya akan dilakukan pembangunan tahap kedua berupa pekerjaan arsitektur dan mekanikal elektrikal (ME).
Pembangunan struktur akan memakan waktu 9 bulan, yang kemudian akan diikuti dengan pembangunan arsitektur dan ME (Mechanical Electrical).
Pada tanggal 12 - 24 November 2011, Tiga relawan insinyur MER-C yang di pimpin oleh Ir. Faried Thalib (Ketua Divisi Konstruksi) berangkat ke Gaza untuk melakukan supervisi langsung pembangunan struktur Rumah Sakit Indonesia.
Tim ini sekaligus melakukan survey ketersediaan material untuk pembangunan tahap 2, yaitu Arsitektur dan ME (Mechanical Electrical).
Baca Juga: Fakta Mengejutkan Nominasi Grammy Awards 2024, Dari SZA Masuk 9 Nominasi Hingga Hadirnya K-POP
Pembangunan tahap 1 (struktur) Rumah Sakit Indonesia yang terdiri dari 2 lantai dan 1 lantai basement ditambah 1 lantai area tengah (middle area) telah selesai 100% pada tanggal 28 April 2012.
Selanjutnya akan dilakukan pembangunan tahap 2 berupa pekerjaan Arsitektur dan ME (Mechanical Electrical) rumah sakit.
6. Pembangunan Rumah Sakit Indonesia tahap 2
Berbeda dengan pekerjaan tahap pertama yang dilakukan oleh kontraktor lokal, pekerjaan tahap kedua seluruhnya akan dilakukan oleh putra-putra bangsa Indonesia, baik insinyur maupun pekerjanya.
Pada (20/712) MER-C memberangkatkan 4 relawan teknisnya ke Gaza. Mereka akan bergabung dengan 3 relawan yang masih bertugas di Gaza, bertugas mempersiapkan kedatangan tim teknis yang lebih besar untuk melakukan pembangunan tahap 2 Rumah Sakit Indonesia.
Baca Juga: Warga Palestina di Gaza Kekurangan Bantuan, Badan Kemanusiaan PBB Sampaikan Keprihatinan
Kemudian, MER-C memberangkatkan Tim relawan terbesar ke Gaza yang berjumlah 33 orang pada tanggal 21 Oktober 2012.
Tim terdiri dari 27 orang relawan (3 Insinyur, 3 Dokter, 21 tenaga teknis) dan 6 jurnalis.
Sebanyak 21 relawan yang merupakan tenaga teknis akan menetap di Gaza dan bergabung dengan 7 relawan yang telah ada sebelumnya.
Sehingga jumlah seluruh relawan Indonesia di Gaza menjadi 28 orang. Mereka akan bertugas di Gaza hingga pembangunan tahap 2 RS Indonesia selesai.
Pada (1/11/12) pembangunan tahap 2 RS Indonesia resmi dimulai dengan pimpinan proyek Ir. Nur Ikhwan Abadi. Pembangunan tahap ke-2 diperkirakan akan memakan waktu selama 1,5 tahun.
Sejak kedatangan Tim relawan MER-C akhir Oktober lalu, para relawan harus mulai terbiasa dengan suara bom dan rudal Israel.
Baca Juga: Kembali Disiapkan, Pameran Kendaraan Listrik PEVS Digelar April 2024
Sebagai wilayah okupasi, serangan bom dan rudal adalah hal yang biasa, meskipun tidak bersifat masif. Begitupun dengan drone (pesawat tanpa awak) dan pesawat jet F-16 Israel yang selalu berputar-putar di langit Gaza.
Rabu 14 November 2012, serangan Israel telah menyebabkan Pimpinan Militer Hamas, Ahmad Al Jabari syahid. Hal inilah yang kemudian memicu kondisi Jalur Gaza menjadi memanas.
Seiring serangan Israel yang semakin membabi buta ke Jalur Gaza, seluruh relawan atas instruksi MER-C Pusat Jakarta mengamankan diri di ruang basement Rumah Sakit Indonesia.
Selama 8 hari serangan berlangsung, semua relawan dalam keadaan selamat dan tetap mengerjakan pembangunan tahap 2 di ruang basement RS.
Baca Juga: 5 Daftar Universitas Terbaik 2023 di Jawa Timur, Salah Satunya Kampus Caroline Angelica
Bangunan Rumah Sakit Indonesia juga tidak mengalami kerusakan berarti beberapa kali bom dan rudal Israel jatuh jauh dari lokasi Rumah Sakit Indonesia. Hanya ada beberapa kaca RS yang pecah akibat getaran bom dan rudal tersebut.
Setelah mengalami lika - liku pembangunan, akhirnya RS Indonesia rampung dan kemudian resmi beroperasi pada tanggal 27 Desember 2015
Sebagai informasi terkait Rumah Sakit Indonesia dari data MER-C 2013
Tipe RS : Trauma Center & Rehabilitasi
Lokasi RS : Bayt Lahiya, Gaza Utara
Status Tanah : Wakaf dari Pemerintah Palestina
Baca Juga: Perangkat Android Malah Lambat Setelah Update? Simak Penjelasan dan Cara Mengatasinya
Luas tanah : 16.261 m2
Kapasitas RS : 100 tempat tidur
Jumlah Lantai : 2 lantai dan 1 lantai basement