← Beranda
Wamen Nezar Patria Dorong Aceh Jadi Pusat Ekosistem Teknologi di Selat Malaka
Nanda PrayogaRabu, 9 September 2026 | 05.34 WIB
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI Nezar Patria. (Komdigi)

JawaPos.com - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria melihat letak geografis Aceh yang berada di kawasan Selat Malaka sebagai peluang besar untuk memperkuat perkembangan teknologi dan ekonomi digital di daerah tersebut.

Menurut Nezar, Selat Malaka memiliki peran yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar jalur perdagangan internasional. Kawasan tersebut juga dilalui infrastruktur digital yang menjadi bagian dari konektivitas internet antarnegara.

“Subsea cable yang menghubungkan internet yang kita pakai sekarang itu melintas di bawah Selat Malaka,” tutur Wamen Nezar dalam diskusi Aceh, Selat Malaka, dan Masa Depan Digital Indonesia di Banda Aceh dikutip Selasa (8/9).

Baca Juga: Keberuntungan Datang Mendadak, 7 Weton Ini Disebut Punya Tanda Ketiban Ndaru

Meski memiliki posisi yang strategis, Nezar menegaskan bahwa keunggulan geografis tidak dengan sendirinya memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Diperlukan kemampuan untuk mengolah potensi tersebut menjadi nilai tambah.

Karena itu, Aceh dinilai perlu memperkuat kapasitas sumber daya manusia agar tidak hanya menjadi wilayah yang dilewati konektivitas digital, tetapi juga mampu menguasai teknologi dan memanfaatkannya untuk mendukung berbagai sektor.

“Yang penting bukan lagi Selat Malaka sebagai anugerah geografis. Pertanyaannya adalah bagaimana kita menciptakan nilai dari Selat Malaka itu,” tegasnya.

Salah satu potensi yang disoroti Nezar adalah keberadaan kabel komunikasi bawah laut yang membawa lalu lintas data antarnegara. Infrastruktur tersebut menjadi salah satu fondasi penting bagi jaringan internet global.

Namun, infrastruktur gateway untuk lalu lintas data tersebut saat ini masih banyak berpusat di Singapura. Menurutnya, kondisi ini membuka ruang bagi Indonesia untuk mengembangkan ekosistem digital sendiri di wilayah yang memiliki akses langsung terhadap jalur tersebut.

Baca Juga: September Jadi Bulan Emas, 4 Weton Ini Konon Bakal Rasakan Banyak Keberuntungan

“Kenapa gateway-nya tidak ada di Sabang atau di tempat-tempat yang berada dalam kontrol kita? Ini menjadi pertanyaan yang perlu kita jawab,” kata Wamen Nezar.

Nezar menilai Aceh sebenarnya telah memiliki sejumlah modal untuk mengembangkan peluang tersebut. Selain berada di posisi yang berhadapan dengan jalur perdagangan internasional, Aceh juga memiliki perguruan tinggi, komunitas teknologi, serta generasi muda yang berpotensi dikembangkan menjadi talenta digital.

Penguatan sumber daya manusia dan pelaku usaha berbasis teknologi pun menjadi salah satu fokus Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dalam membangun ekosistem digital di luar Pulau Jawa.

Salah satunya melalui Garuda Spark Innovation Hub di Banda Aceh. Program tersebut memberikan ruang bagi talenta lokal untuk mengembangkan kemampuan, memperluas jaringan bisnis, menyempurnakan produk, hingga memperoleh akses kepada investor.

“Jadi, di sana nanti para talenta digital bisa dilatih dengan berbagai macam ilmu pengetahuan, skill, upscaling bisnis mereka, lalu nanti ditemukan dengan investor untuk dibuka akses finansialnya, lalu nanti di-coaching juga bagaimana dia bertumbuh setelah dapat pendanaan sampai kemudian bisa dilepas untuk bertumbuh,” imbuhnya.

Baca Juga: Pihak Korban Ungkap Alasan Sulitnya Memulangkan Syekh Ahmad Al Misry ke Indonesia

Nezar juga menekankan bahwa pemanfaatan teknologi tidak selalu harus diwujudkan melalui inovasi yang rumit atau berteknologi tinggi. Menurutnya, teknologi akan memiliki dampak ketika mampu menjawab kebutuhan nyata yang dihadapi masyarakat.

Sejumlah sektor seperti perikanan, pertanian, perdagangan, hingga pelayanan pemerintahan dinilai dapat menjadi ruang penerapan teknologi untuk meningkatkan produktivitas sekaligus nilai ekonomi.

“Yang kita butuhkan adalah value creation. Penciptaan nilai dari berbagai sumber daya yang ada melalui teknologi, keterampilan, dan inovasi,” ujar Wamen Nezar.

Ia berharap generasi muda Aceh dapat memandang posisi daerahnya bukan hanya sebagai keunggulan geografis, tetapi sebagai peluang untuk membangun ekosistem ekonomi baru. Penguasaan teknologi, kemampuan menghasilkan produk, serta akses terhadap jaringan global dinilai dapat menjadi bekal untuk mengoptimalkan potensi tersebut.

“Jangan hanya melihat Selat Malaka sebagai jalur yang dilewati. Kita harus mampu mengambil nilai dari sana,” tandasnya.

EDITOR: Bintang Pradewo