JawaPos.com - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria melihat industri film memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol) ilegal.
Menurut Nezar, pesan mengenai bahaya kedua praktik tersebut dapat disampaikan dengan lebih mudah melalui cerita audiovisual. Film memungkinkan penonton melihat secara langsung bagaimana persoalan judol dan pinjol ilegal memengaruhi kehidupan korban, keluarga, hingga hubungan sosial di sekitarnya.
“Masyarakat bisa melihat bagaimana seseorang masuk ke dalam masalah, bagaimana tekanan berkembang, dan bagaimana dampaknya ikut dirasakan keluarga serta orang-orang di sekitarnya,” ujar Wamen Nezar saat menerima audiensi Indonesian Institute of Journalism (IIJ) bersama tim produksi film Menang untuk Kalah di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat dikutip Rabu (2/9).
Pandangan tersebut membuat Nezar memberikan apresiasi terhadap film Menang untuk Kalah. Film tersebut mengangkat persoalan pinjol ilegal melalui kisah kehidupan sebuah keluarga yang terdampak praktik tersebut.
Nezar menilai penggambaran dari sisi keluarga menjadi hal penting. Sebab, pelaku pinjol ilegal tidak hanya memanfaatkan informasi pribadi dan melakukan profiling terhadap peminjam, tetapi juga dapat menggunakan data tersebut sebagai alat untuk memberikan tekanan.
Dampak yang muncul pun berpotensi melebar. Persoalan yang awalnya dialami peminjam dapat ikut membebani keluarga, teman, hingga lingkungan sosial korban.
"Para korban pinjol ilegal harus menerima tekanan psikologis yang besar dan tagihan dengan bunga tinggi, bahkan sampai dipermalukan di lingkungannya," ujar Nezar.
Menurut Nezar, penyampaian pesan melalui alur cerita juga membantu masyarakat memahami latar belakang seseorang ketika akhirnya terjerat pinjol ilegal. Tidak semua korban menggunakan layanan tersebut untuk memenuhi keinginan konsumtif.
Dalam kondisi tertentu, kebutuhan yang mendesak dan persoalan ekonomi dapat membuat seseorang mengambil pinjaman ketika berada dalam tekanan. Situasi tersebut kemudian bisa berkembang menjadi persoalan yang lebih besar ketika korban berhadapan dengan bunga tinggi maupun tekanan dari penyedia pinjol ilegal.
Nezar pun melihat film sebagai salah satu sarana yang dapat dikombinasikan dengan program literasi digital. Pesan yang disampaikan dalam film dapat diperluas melalui kegiatan diskusi setelah pemutaran.
Kegiatan semacam itu, kata dia, dapat dilakukan di berbagai tempat, mulai dari lingkungan kampus, komunitas, hingga ruang publik. Dengan demikian, penonton tidak hanya mendapatkan gambaran mengenai dampak pinjol ilegal, tetapi juga dapat memperoleh pemahaman mengenai keamanan digital dan pentingnya literasi keuangan.
Ia berharap upaya tersebut dapat membuka ruang kerja sama yang lebih luas antara pemerintah dengan industri kreatif, media, komunitas, serta berbagai pihak dalam ekosistem digital. Kolaborasi tersebut dinilai dapat memperluas jangkauan edukasi mengenai risiko pinjol ilegal kepada masyarakat.