← Beranda
Komdigi: Persaingan AI Global Kini Ditentukan Infrastruktur, Bukan Lagi Aplikasi
Nanda PrayogaJumat, 17 Juli 2026 | 01.45 WIB
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI Nezar Patria. (Komdigi)

 

 

JawaPos.com - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menilai peta persaingan global di bidang kecerdasan artifisial (AI) kini tidak lagi bertumpu pada pengembangan aplikasi semata.

Fokus kompetisi telah bergeser ke penguasaan infrastruktur utama, mulai dari energi, pusat data, semikonduktor, kapasitas komputasi, hingga ketersediaan talenta.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan Indonesia perlu membangun fondasi yang kuat agar tidak hanya menjadi pasar bagi teknologi AI, melainkan juga memiliki posisi strategis dalam rantai pasok global.

“Kita selama ini disibukkan bermain di hilir, tapi kita melupakan yang hulu. Padahal hilir itu cuma produk akhir yang mungkin lebih tepat buat negara-negara yang menjadikan dirinya sebagai pasar, sementara yang di hulu, infrastruktur AI ini sangat penting,” jelasnya dalam workshop bertajuk Kesiapan Infrastruktur, Regulasi, dan Dampak Sosial-Ekonomi Kecerdasan Buatan di Indonesia di Jakarta Pusat, Kamis (16/7).

Ia menilai peluang Indonesia untuk terlibat lebih besar dalam ekosistem AI dunia masih terbuka lebar. Salah satu kekuatan yang dimiliki adalah melimpahnya sumber daya alam yang dapat mendukung industri semikonduktor, seperti pasir silika.

“Potensi Indonesia untuk masuk ke global supply chain itu cukup besar. Kalau kita lihat di infrastruktur untuk membuat semikonduktor dibutuhkan pasir silika. Ada 340 juta ton kurang lebih cadangan pasir silika di Indonesia,” ujar Wamen Nezar.

Menurutnya, potensi tersebut tidak akan memberikan nilai tambah jika hanya diekspor sebagai bahan mentah. Karena itu, hilirisasi perlu dijalankan secara konsisten agar Indonesia memiliki daya saing yang lebih kuat di industri teknologi global.

“Jadi, saya kira hilirisasi itu bukan cuma slogan ya. Hilirisasi adalah downstreaming dari mineral dan bahan-bahan lain. Ini adalah langkah strategis yang harus dieksekusi oleh semua stakeholder yang ada di Indonesia, terutama di industri elektronik yang sedang bergerak sangat dinamis saat ini,” lanjutnya.

Nezar juga menekankan pentingnya kerja sama lintas pemangku kepentingan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok AI dunia. Dengan kolaborasi tersebut, Indonesia diharapkan mampu memiliki peran yang sulit tergantikan dalam ekosistem industri semikonduktor.

“Butuh kolaborasi semua stakeholder di bidang infrastruktur ini untuk bisa memperbesar bargaining position kita. Kita harus bisa menciptakan choke point. Kalau kita bicara soal industri semikonduktor, siapa yang akan mengontrol jalur supply chain ini adalah negara-negara yang bisa menciptakan choke point,” tegas Wamen Nezar.

Selain membangun infrastruktur, ia menilai pengembangan sumber daya manusia menjadi faktor yang tidak kalah penting. Ketersediaan talenta berkualitas diyakini dapat memperkuat daya saing Indonesia, termasuk dalam menghadapi berbagai keterbatasan infrastruktur yang masih ada.

Lebih lanjut, Nezar menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia di era AI bergantung pada kemampuan membangun ekosistem secara utuh, bukan sekadar menjadi pengguna teknologi. Kebijakan yang ditempuh saat ini akan menentukan posisi Indonesia dalam lanskap AI global pada masa mendatang.

Baca Juga: Komdigi Tegaskan Layanan Digital Pemerintah Wajib Ramah Penyandang Disabilitas

“Masa depan AI sedang ditulis di Asia, dan Indonesia punya peran penting dalam narasi ini. Pilihan kebijakan yang kita ambil hari ini akan menentukan siapa yang menikmati manfaat AI di masa depan,” tandasnya. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan