← Beranda
AI untuk Lindungi Anak dan Lawan Hoaks, Kemkomdigi Gandeng Jepang 
Nanda PrayogaSelasa, 23 Juni 2026 | 02.40 WIB
Ilustrasi tren teknologi AI. (Training Camp)

JawaPos.com - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) resmi memperkuat kolaborasi dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang kecerdasan artifisial (AI).

Kerja sama ini diarahkan untuk mendukung berbagai agenda strategis nasional, mulai dari perlindungan anak di ruang digital, penanggulangan disinformasi, hingga peningkatan kualitas layanan publik berbasis teknologi.

Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan Record of Discussions Proyek Kerja Sama Teknis Next Generation AI Talent Factory yang berlangsung di Kantor Kemkomdigi, Jakarta Pusat, Senin (22/6).

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan, inisiatif ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kompetensi talenta AI nasional, tetapi juga mempererat hubungan strategis Indonesia dan Jepang dalam mendorong transformasi digital.

"Kerja sama yang kita jalani hari ini mencerminkan persahabatan yang kuat dan kemitraan strategis antara Indonesia dan Jepang, khususnya dalam mempersiapkan masyarakat kita untuk berkembang di era digital," ujarnya.

Menurut Nezar, kedua negara memiliki visi yang sejalan terkait pengembangan teknologi AI yang mandiri, aman, dan mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat luas.

Ia menilai, percepatan perkembangan teknologi AI yang dibarengi perubahan lanskap geopolitik global menuntut adanya kerja sama yang lebih erat agar kedua negara mampu memperkuat kapasitas inovasi dan daya saing masing-masing.

"Kami menginginkan kemitraan yang lebih setara. Saya pikir ini adalah kerja sama yang sangat baik yang sedang kami upayakan untuk diperkuat antara Jepang dan Indonesia untuk mengeksplorasi dan mengembangkan teknologi AI ini yang sangat strategis saat ini," katanya.

Nezar menambahkan, kecerdasan artifisial kini menjadi salah satu faktor penentu dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing ekonomi suatu negara.

Karena itu, pengembangan sumber daya manusia menjadi aspek yang tidak bisa diabaikan jika Indonesia ingin berperan lebih besar dalam ekosistem teknologi global.

"Untuk mewujudkan peluang ini, kita harus berinvestasi pada hal yang paling penting, yaitu sumber daya manusia kita," tegasnya.

Melalui program Next Generation AI Talent Factory, Kemkomdigi dan JICA akan mendorong peningkatan kapasitas talenta AI nasional melalui berbagai kegiatan seperti pelatihan, pertukaran pengetahuan, penguatan kerja sama institusi, hingga pengembangan inovasi yang disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia.

Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komdigi Bonifasius Wahyu Pudjianto menjelaskan bahwa AI Talent Factory dirancang sebagai ekosistem kolaboratif yang mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, industri, pakar teknologi, dan para talenta AI dalam satu wadah pengembangan inovasi.

Menurutnya, pembentukan talenta AI tidak cukup dilakukan melalui pendidikan formal semata, melainkan harus dilengkapi dengan pengalaman praktik yang memungkinkan peserta menciptakan solusi nyata bagi berbagai persoalan masyarakat.

"Pengembangan talenta AI membutuhkan lebih dari sekadar pembelajaran di kelas. Seharusnya lebih luas dari itu," ujarnya.

Sejak mulai dijalankan pada 2025, AI Talent Factory telah menghasilkan berbagai inovasi berbasis kecerdasan artifisial yang mendukung program-program prioritas pemerintah.

Pada 2026, cakupan program diperluas melalui kemitraan dengan Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan Universitas Gadjah Mada.

Sebanyak 98 peserta terlibat dalam pengembangan berbagai proyek AI yang berfokus pada isu-isu strategis nasional.

Beragam solusi yang dikembangkan mencakup perlindungan anak di lingkungan digital, deteksi dan penanganan disinformasi, ujaran kebencian serta fitnah, penguatan program Sekolah Rakyat, pemetaan kemiskinan dan distribusi bantuan sosial yang lebih tepat sasaran, hingga pemantauan isu publik di media massa dan media sosial.

Pemanfaatan teknologi AI dalam proyek-proyek tersebut diharapkan dapat membantu proses pengambilan keputusan berbasis data, meningkatkan efektivitas pembelajaran, memperkuat perlindungan anak, mengoptimalkan program kesejahteraan sosial, serta mendukung strategi komunikasi publik yang lebih akurat dan responsif.

Bonifasius menegaskan bahwa kerja sama dengan JICA merupakan langkah awal menuju penguatan yang lebih besar terhadap ekosistem AI nasional.

"Ini bukan kesimpulan dari proses, tetapi sebenarnya ini adalah awal dari bab ini, yang akan dibantu oleh JICA," ungkapnya.

Melalui kolaborasi ini, Kemkomdigi dan JICA menargetkan lahirnya generasi talenta AI Indonesia yang mampu bersaing di tingkat internasional, menghasilkan solusi inovatif untuk berbagai tantangan nasional, serta memperkuat kedaulatan AI Indonesia melalui pemanfaatan teknologi yang bertanggung jawab dan berorientasi pada kepentingan publik.

 

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra