JawaPos.com - Indonesia memilih pendekatan kolaboratif dalam mengembangkan industri kecerdasan artifisial (AI) di tengah memanasnya persaingan geopolitik global terkait penguasaan teknologi. Pemerintah menilai pembangunan ekosistem AI tidak bisa hanya bertumpu pada peran negara, melainkan membutuhkan keterlibatan luas dari industri, perguruan tinggi, hingga berbagai pemangku kepentingan.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria, mengatakan, Indonesia ingin mengambil posisi sebagai negara kekuatan menengah yang mendorong keseimbangan antara regulasi pemerintah dan kolaborasi lintas sektor demi menciptakan ekosistem AI yang terbuka serta kompetitif.
“Ini saatnya Indonesia menunjukkan kepemimpinan teknologi. Atas nama pemerintah, kami selalu membuka kolaborasi, tidak hanya mengandalkan peran pemerintah, tetapi juga mendorong seluruh sektor industri dan pemangku kepentingan untuk bekerja sama dalam satu ekosistem membangun industri AI agar memberikan akses yang luas,” ujar Wamen Nezar di Jakarta Selatan, Rabu (6/5).
Baca Juga: P2G Sebut Pemerintah Harusnya Angkat Guru Honorer Bukan Berhentikan
Menurutnya, strategi tersebut menjadi pilihan Indonesia di tengah tren global yang mulai mengarah pada penguatan dominasi negara terhadap teknologi dan perusahaan digital. Pemerintah menilai model seperti itu berpotensi membatasi inovasi dan menciptakan ekosistem yang tertutup.
“Jika melihat tren global saat ini, termasuk di Amerika Serikat, terdapat pandangan bahwa negara perlu mengambil kendali lebih besar terhadap teknologi dan perusahaan teknologi. Namun, itu bukan jalan yang akan dipilih Indonesia karena berpotensi mengarah pada apa yang disebut sebagai fasisme teknologi,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Nezar juga menyoroti perubahan lanskap geopolitik global yang kini bergeser ke perebutan pengaruh di industri semikonduktor. Menurutnya, chip telah menjadi komoditas strategis baru yang menentukan kekuatan ekonomi dan teknologi suatu negara.
Baca Juga: Satgas PKH di Papua tengah Tertibkan Tambang Emas Ilegal, Kuasai Kembali Lahan Seluas 200 Hektare
“Pada abad lalu, kita berbicara tentang minyak sebagai sumber kekuatan utama. Kini, semikonduktor menjadi kekuatan utama di abad ke-21. Setiap negara, baik Amerika Serikat, Tiongkok, Eropa, maupun negara kekuatan menengah, berupaya menetapkan posisi dalam perang chip dan penguasaan pabrik semikonduktor,” ungkap Wamen Nezar.
Meski demikian, Indonesia disebut masih menghadapi tantangan besar untuk masuk ke dalam rantai pasok global AI dan semikonduktor. Saat ini, kontribusi Indonesia dalam proses produksi dinilai masih minim.
“Indonesia saat ini belum berada dalam rantai pasok global AI. Berdasarkan kunjungan saya ke salah satu produsen di Batam, yaitu Nvidia, saya melihat proses perakitan semikonduktor, dan tidak ada komponen dalam proses tersebut yang berasal dari Indonesia,” paparnya.
Walaupun begitu, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk masuk ke industri tersebut melalui optimalisasi mineral strategis yang dimiliki, seperti nikel, kobalt, dan emas yang dibutuhkan dalam proses produksi semikonduktor.
“Indonesia memiliki sejumlah mineral penting, seperti emas, kobalt, dan nikel, yang digunakan dalam proses pembuatan semikonduktor. Tantangannya adalah bagaimana mengolah mineral tersebut agar siap menjadi bagian dari komponen yang dibutuhkan industri,” tutur Wamen Nezar.
Selain penguatan sektor industri, pemerintah juga menempatkan pengembangan sumber daya manusia sebagai faktor utama dalam transformasi digital nasional. Salah satu upaya yang dilakukan yakni melalui program AI Talent Factory yang melibatkan perguruan tinggi dan lembaga riset.
Baca Juga: Sulit Didobrak Musuh! Persebaya Surabaya Punya Salah Satu Tembok Terbaik di Super League!
“Kementerian Komunikasi dan Digital menyiapkan program AI Talent Factory dengan melibatkan perguruan tinggi, pusat riset, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membekali generasi muda dengan keterampilan AI,” tambahnya.
Melalui kombinasi kekuatan sumber daya alam dan pengembangan talenta digital, Indonesia ingin mengambil posisi strategis dalam industri AI global dengan pendekatan yang tetap menjaga kepentingan nasional tanpa mengedepankan kontrol penuh negara terhadap teknologi.
“Sebagai negara kekuatan menengah, Indonesia memilih jalan tengah dengan memanfaatkan mineral kritis yang dimiliki serta meningkatkan talenta digital sebagai fondasi utama dalam menghadapi perkembangan teknologi yang semakin pesat,” pungkasnya.