← Beranda
Komdigi Ungkap Indonesia Bidik Kedaulatan AI, Bukan Sekadar jadi Pengguna
Nanda PrayogaSenin, 4 Mei 2026 | 02.00 WIB
Ilustrasi Artificial Intelligence. (Freepik)

 

JawaPos.com - Indonesia mulai mengarahkan ulang kebijakan digitalnya, tidak lagi sebatas mengadopsi teknologi, tetapi berupaya lebih jauh untuk mengendalikan serta menentukan arah pengembangan kecerdasan artifisial (AI) agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menyampaikan bahwa tantangan utama Indonesia saat ini bukan lagi soal tingkat adopsi teknologi yang rendah. Sebaliknya, fokusnya adalah bagaimana mengubah optimisme publik terhadap teknologi menjadi hasil konkret yang bisa dirasakan secara luas.

“Bukan pada potensinya, melainkan pada konversinya. Bagaimana kita mengubah antusiasme menjadi dampak nyata?” ujarnya dalam Forum Huawei Enterprise Indonesia Partner Summit 2026 di Jakarta Selatan, dikutip Minggu (3/5).

Hal ini disampaikan di tengah tingginya penerimaan masyarakat terhadap AI, di mana sekitar 76 persen warga menilai teknologi tersebut lebih banyak membawa manfaat dibandingkan risikonya.

“Dengan momentum yang kita miliki saat ini, Indonesia tidak pernah kekurangan ambisi. Yang kita alami sekarang adalah kurangnya ketelitian, khususnya saat kita menavigasi era AI di mana laju perkembangan tidak menunggu siapa pun,” tuturnya.

Dalam situasi tersebut, pemerintah menegaskan tekadnya untuk mengubah posisi Indonesia dalam ekosistem global, dari sekadar pengguna teknologi menjadi pihak yang mampu merancang arah dan kepentingannya sendiri dalam pengembangan AI.

“Kami berkomitmen untuk membentuk jalan ke depan agar dapat beralih dari pengguna AI yang optimis menjadi arsitek strategis kedaulatan AI kita," tandas Wamen Nezar Patria.

Sebagai langkah strategis, pemerintah menempatkan tata kelola sebagai fondasi utama dengan menyiapkan peta jalan AI nasional. Dokumen ini dirancang sebagai panduan agar pengembangan AI berlangsung secara etis, inklusif, dan tetap mendorong inovasi.

“Peta jalan AI nasional kami berfungsi sebagai fondasi strategis, visi hidup yang memandu pengembangan AI di Indonesia agar beretika, inklusif, dan didorong oleh inovasi," ungkapnya.

Selain itu, pemerintah juga menyusun langkah konkret yang difokuskan pada percepatan pemanfaatan AI di sektor-sektor yang berdampak langsung bagi masyarakat, sekaligus menjaga kepercayaan publik dan memastikan manfaat teknologi dapat dirasakan secara merata.

“Pertama, mempercepat adopsi di tempat yang paling penting. Menerapkan AI di sektor strategis seperti kesehatan, pendidikan, dan layanan publik. Kedua, memastikan etika dan kepercayaan. Dan ketiga, memprioritaskan inklusivitas," jelas Wamen Nezar Patria.

Di sisi lain, pemerintah menilai percepatan transformasi digital tidak bisa dilakukan secara sendiri. Kolaborasi lintas sektor dan lintas negara menjadi kunci untuk mengubah ambisi menjadi hasil yang terukur.

“Mengubah ambisi menjadi eksekusi membutuhkan kekuatan penuh dari ekosistem digital kolaboratif untuk bergerak secara sinergis,” tegasnya.

Baca Juga: 7 Sisi Negatif dari AI atau Artificial Intelligence: Benarkah Menghapus Lapangan Pekerjaan?

Dalam konteks tersebut, kemitraan dengan Huawei dipandang sebagai bagian dari strategi untuk mempercepat pembangunan ekosistem AI nasional, mulai dari penguatan infrastruktur hingga pengembangan talenta digital.

“Jalan ke depan untuk membentuk masa depan AI di Indonesia akan ditentukan oleh kemitraan yang mampu mengubah ambisi kita menjadi eksekusi," tuturnya.

 

EDITOR: Kuswandi