← Beranda
Pembayaran Parkir Nontunai Mulai Diterapkan di Surabaya, Berikut Kelebihan dan Kekurangannya
Alvin Fahrizal Bayyuni• Jumat, 2 Februari 2024 | 15.23 WIB
Papan barcode untuk pembayaran retribusi parkir non tunai yang terpasang di Jalan Jimerto, Surabaya./(SURYANTO/RADAR SURABAYA)

JawaPos.com - Sistem pembayaran parkir non tunai mulai diterapkan di Surabaya mulai kemarin, Kamis (1/2), setelah melewati masa uji coba transformasi parkir tepi jalan umum (TJU) konvensional menjadi digital.

Eri Cahyadi selaku Wali Kota Surabaya mengatakan bahwa dinas perhubungan (dishub) sudah melakukan uji coba pembayaran QRIS di sejumlah titik parkir TJU. Hasilnya, sebagian warga belum siap dengan metode tersebut. Mereka terkendala platform pembayaran.

"Banyak yang enggak punya m-banking maupun alat pembayaran QRIS lainnya," ujar Cak Eri.

Kebijakan tersebut akan tetap berjalan, meski hasilnya kurang memuaskan, sehingga semua titik parkir TJU akan serba digital. Harapannya, masyarakat segera beradaptasi dengan perubahan skema yang diberikan pemkot.

Berikut adalah kelebihan dan kekurangan penerapan parkir non tunai:

Baca Juga: Tindak Lanjuti Pertemuan dengan BPK, Kemendagri Hadiri Rapat Diskusi Bagan Akun Standar Pemeriksaan LKPD

KELEBIHAN

  1. Timbul Kepercayaan Antara Warga dan Jukir

Penerapan parkir non tunai akan menimbulkan kepercayaan antara warga dan jukir, sebab sistem transaksi digital membuat pelacakan transaksi lebih transparan. Pemkot juga menjadi tahu berapa penghasilan jukir.

  1. Efisiensi Administrasi

Mengelola pembayaran parkir secara digital dapat mengurangi beban administrasi bagi penyedia layanan parkir.

  1. Mengurangi Penggunaan Uang Tunai

Dengan menggunakan sistem non-tunai, pengguna tidak perlu membawa uang tunai secara fisik, yang dapat mengurangi risiko kehilangan atau pencurian.

Baca Juga: Dampak Perang Sudan: Delapan Juta Orang Kehilangan Tempat Tinggal dan Harapan

  1. Meningkatkan Kesejahteraan Jukir

Eri mengatakan bahwa sistem non-tunai akan memastikan kesejahteraan jukir. Karena, setiap pembayaran yang dilakukan secara non-tunai akan langsung masuk ke rekening jukir, Kepala Pelataran (Katar), dan pemerintah. Dengan presentasi pembagian 35 persen untuk Jukir, 60 persen untuk Pemkot dan sisanya untUk Katar.

"Kalau nantinya, (evaluasi) enggak sampai pendapatan itu, maka kita akan tahu sebenarnya berapa riil pendapatan dari sektor parkir tersebut. Masyarakat pun mendukung itu," kata Eri dilansir otomotifnet.

 

KEKURANGAN

  1. Perlu Adaptasi

Eri Cahyadi mengatakan, bahwa warga Surabaya masih perlu beradaptasi dalam sistem ini. "Ternyata tidak semuanya membayar pakai QRIS karena warga Surabaya juga tidak siap untuk QRIS. Karena itulah, nanti kita lihat besok seperti apa," katanya.

  1. Ketergantungan pada Teknologi

Sistem non-tunai rentan terhadap gangguan teknis atau kegagalan sistem, yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan bagi pengguna.

  1. Keterbatasan Akses

Tidak semua orang memiliki akses atau kenyamanan dalam menggunakan teknologi non-tunai, sehingga sistem ini dapat menjadi tidak inklusif bagi sebagian masyarakat.

Baca Juga: Link Live Streaming Sriwijaya FC vs Perserang Serang, Babak Playoff Degradasi Pegadaian Liga 2 2023/2024

  1. Biaya Transaksi: Penggunaan metode pembayaran non-tunai, terutama jika menggunakan aplikasi pihak ketiga, mungkin memerlukan biaya tambahan yang tidak ditemui dalam pembayaran tunai langsung.
  2. Masalah Keamanan: Ada risiko keamanan terkait dengan penggunaan data pribadi dalam transaksi non-tunai, termasuk potensi pencurian identitas atau pelanggaran privasi.

Kelebihan dan kekurangan tersebut yang nantinya akan dijadikan bahan Evaluasi oleh Pemkot Surabaya.

EDITOR: Bintang Pradewo