← Beranda
Jelang Derby Mataram, Pieter Huistra Ingatkan Rivalitas PSS Sleman dan PSIM Tetap Sportif
Andre Rizal HanafiSabtu, 19 September 2026 | 13.21 WIB
Pelatih PSS Sleman Pieter Huistra. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Pelatih Kepala PSS Sleman Pieter Huistra mengingatkan bahwa persaingan di sepak bola seharusnya tidak berubah menjadi permusuhan.

Pesan tersebut disampaikan Pieter menyusul pertemuan suporter PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta di Polda DIY, Rabu (16/9).

Pertemuan itu menghasilkan komitmen bersama untuk menjaga perdamaian menjelang Derby Mataram.

Baca Juga: Marcos Reina Full Senyum, Persik Kediri Curi Poin dari Arema FC di Kanjuruhan

Menurut Pieter, rivalitas merupakan sesuatu yang wajar dalam sepak bola.

Setiap suporter tentu memiliki kebanggaan terhadap klub yang didukungnya. Hal tersebut justru membuat atmosfer pertandingan menjadi lebih hidup.

Meski begitu, dia menilai rivalitas tetap harus memiliki batas.

Baca Juga: Indonesia Beri Perlawanan Sengit pada Rumania di Hari Pertama Piala Davis 2026

Dukungan kepada klub masing-masing tidak seharusnya menjadi alasan untuk menciptakan keributan atau permusuhan.

“Menurut saya, itu sangat bagus. Pada akhirnya, ini semua tentang sepak bola, bukan tentang membuat masalah," ujar dia.

"Rivalitas dalam derby tentu ada, dan itu sesuatu yang wajar. Namun, yang terpenting adalah tetap mendukung tim dengan cara yang baik,” ujar Pieter seusai memimpin latihan PSS Sleman di Stadion Maguwoharjo.

Pieter bukan sosok yang asing dengan atmosfer pertandingan penuh rivalitas.

Saat masih menjadi pemain Glasgow Rangers di Skotlandia, dia pernah merasakan langsung bagaimana sebuah derby memiliki emosi dan tekanan yang berbeda dibandingkan pertandingan biasa.

Pengalaman tersebut turut membentuk pandangannya terhadap sebuah derby.

Baca Juga: Prediksi Skor Newcastle United vs Hull City di Liga Inggris: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang

Menurut dia, persaingan, kebanggaan, dan gairah suporter merupakan bagian penting dari sepak bola, tetapi semuanya tetap harus dijalani dengan cara yang sehat.

“Sepak bola akan menjadi sesuatu yang baik jika kita menjalaninya dengan cara yang wajar. Tentu ada rivalitas, dan itu tidak masalah. Tetapi tetaplah mendukung tim. Menurut saya, itu jauh lebih penting daripada membuat keributan,” kata Pieter Huistra.

Komitmen damai yang dibangun suporter PSS dan PSIM menjadi langkah penting sebelum kedua tim bertemu.

Baca Juga: Garudayaksa FC Pulangkan Christian Frydek, Motor Serangan saat Jadi Juara Pegadaian Championship

Kedua kelompok suporter tetap bisa menunjukkan identitas dan kebanggaan masing-masing tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling bermusuhan.

Derby Mataram pun tetap bisa berlangsung dengan atmosfer panas selama pertandingan, tetapi rivalitas diharapkan berhenti ketika pertandingan selesai.

Di luar lapangan, rasa saling menghormati dan menjaga keamanan menjadi hal yang tidak kalah penting.

Baca Juga: Prediksi Skor Brighton & Hove Albion vs Arsenal di Liga Inggris: The Gunners Jaga Konsistensi

Bagi Pieter, inti dari sebuah derby tetaplah sepak bola.

Persaingan boleh menghadirkan emosi selama 90 menit, tetapi dukungan kepada klub tidak harus diwujudkan dengan permusuhan.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah