← Beranda
Jerman Pulang dari Piala Dunia 2026, Bintang Persebaya Surabaya Arief Catur Patah Hati
Moch. Rizky Pratama PutraRabu, 1 Juli 2026 | 14.57 WIB
Bek Persebaya Surabaya Arief Catur Pamungkas mengaku sedih setelah Timnas Jerman tersingkir dari Piala Dunia 2026 dan menjadikan turnamen itu sebagai sarana belajar dari pemain-pemain terbaik dunia. (Instagram @ariefcaturp)

 

JawaPos.com — Bek Persebaya Surabaya, Arief Catur Pamungkas, mengaku sedih setelah Timnas Jerman tersingkir dari Piala Dunia 2026 pada babak 32 besar usai kalah adu penalti 3-4 dari Paraguay.

Di tengah masa jeda kompetisi, pemain berusia 26 tahun itu tetap mengikuti turnamen di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sebagai hiburan sekaligus sarana belajar sebelum menyambut musim baru.

Piala Dunia selalu memiliki tempat spesial bagi Arief Catur Pamungkas. Bek asal Mojokerto itu memanfaatkan waktu libur kompetisi untuk menikmati pertandingan-pertandingan terbaik dari berbagai negara.

Bagi pemain yang akrab disapa Catur tersebut, turnamen empat tahunan selalu menghadirkan atmosfer berbeda dibanding kompetisi lain.

Kehadiran para pemain terbaik dunia membuat setiap pertandingan menyajikan kualitas tinggi sekaligus penuh kejutan.

Baca Juga: Prediksi Skor Inggris vs RD Kongo di Piala Dunia 2026: The Three Lions Jaga Asa 'Football Is Coming Home!'

Mengapa Jerman Selalu Menjadi Tim Favorit Arief Catur?

Arief Catur mengaku sudah lama menjadikan Timnas Jerman sebagai tim favoritnya setiap Piala Dunia berlangsung.

Ia menyukai karakter permainan Die Mannschaft yang mengutamakan kolektivitas dibanding mengandalkan kemampuan individu semata.

Menurutnya, permainan Jerman selalu menarik karena mengedepankan kerja sama tim dengan aliran bola dari kaki ke kaki.

Filosofi tersebut juga menjadi salah satu alasan dirinya terus mengikuti perjalanan Jerman dari satu turnamen ke turnamen berikutnya.

"Sejak dulu saya mendukung Jerman. Saya suka cara bermain mereka yang mengandalkan kerja sama tim dan aliran bola dari kaki ke kaki. Itu yang membuat saya tertarik mengikuti Jerman sampai sekarang," tuturnya.

Namun, harapan Catur melihat Jerman melangkah jauh di Piala Dunia 2026 harus pupus lebih cepat.

Tim asuhan Julian Nagelsmann tersingkir di babak 32 besar setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit sebelum akhirnya kalah 3-4 melalui adu penalti dari Paraguay pada Selasa (30/6/2026) dini hari WIB.

Baca Juga: Prediksi Skor Belgia vs Senegal di Piala Dunia 2026: Setan Merah Emoh Angkat Koper Lebih Dulu!

Tetap Bangga Meski Jerman Tersingkir Lebih Cepat

Kekalahan tersebut membuat Catur mengaku kecewa karena tim favoritnya gagal melanjutkan perjalanan di Piala Dunia 2026.

Meski begitu, ia tetap memberikan apresiasi terhadap perjuangan para pemain Jerman sepanjang turnamen.

Baginya, hasil pertandingan merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari sepak bola. Sebuah tim bisa tampil dominan sekalipun tetap memiliki peluang tersingkir ketika memasuki fase gugur.

"Tentu saya sedih karena Jerman harus berhenti lebih cepat. Tetapi dalam sepak bola, hasil seperti ini adalah bagian dari permainan. Saya tetap bangga dengan perjuangan mereka dan berharap bisa kembali lebih kuat di turnamen berikutnya," ucapnya.

Meski Jerman gagal memenuhi harapannya, Catur tetap menikmati jalannya Piala Dunia 2026.

Ia menilai turnamen tersebut selalu menghadirkan pertandingan menarik dengan intensitas tinggi dan banyak gol yang membuat penonton terhibur.

"Piala Dunia selalu menghadirkan suasana yang seru. Kita bisa melihat pertandingan-pertandingan berkualitas dari berbagai negara dengan banyak gol dan permainan yang menarik untuk disaksikan," ujarnya.

Baca Juga: Prediksi Skor Amerika Serikat vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: The Stars and Stripes Tak Ingin Malu!

Jules Kounde Jadi Inspirasi Bek Persebaya Surabaya

Selain mendukung Jerman, Arief Catur juga memanfaatkan Piala Dunia sebagai ajang belajar.

Ia memperhatikan penampilan sejumlah pemain dunia untuk menambah referensi dalam mengembangkan permainannya sebagai bek sayap.

Salah satu pemain yang paling menarik perhatian Catur adalah bek Timnas Prancis, Jules Kounde.

Menurutnya, bek tersebut memiliki kualitas lengkap karena mampu bertahan dengan disiplin sekaligus aktif membantu serangan ketika tim menguasai bola.

Kesamaan posisi membuat Catur merasa banyak hal yang dapat dipelajari dari permainan Kounde.

Ia berharap bisa mengadopsi sejumlah aspek positif dari bek Prancis tersebut dalam penampilannya bersama Persebaya Surabaya pada musim mendatang.

"Kalau pemain yang saya perhatikan ada Jules Kounde dari Prancis. Saya suka gaya bermainnya," ungkapnya.

Bagi Catur, menyaksikan penampilan pemain-pemain terbaik dunia memberikan banyak inspirasi.

Ia percaya perkembangan seorang pesepak bola tidak hanya diperoleh saat latihan, tetapi juga melalui pengamatan terhadap pemain yang tampil di level tertinggi.

Baca Juga: Digebuk Norwegia 1-2, Emerse Fae Legawa Pantai Gading Terjegal di 32 besar

Laga Amerika Serikat vs Turki Jadi Favoritnya

Di antara banyak pertandingan yang telah berlangsung di Piala Dunia 2026, duel Amerika Serikat melawan Turki menjadi laga yang paling membekas bagi Catur.

Pertandingan itu berakhir dengan kemenangan Turki 3-2 setelah kedua tim saling berbalas gol sepanjang pertandingan.

Menurutnya, pertandingan tersebut menunjukkan mengapa Piala Dunia selalu menarik untuk diikuti. Intensitas tinggi dan drama yang tercipta membuat setiap menit pertandingan terasa menghibur bagi para pencinta sepak bola.

"Saya sempat menyaksikan pertandingan Amerika Serikat melawan Turki yang berakhir 2-3. Pertandingannya seru karena kedua tim saling berbalas gol. Momen seperti itu yang membuat Piala Dunia selalu menarik untuk diikuti," jelasnya.

Catur menilai turnamen terbesar dunia itu bukan sekadar hiburan bagi pemain profesional.

Ia juga menjadikannya sebagai sarana belajar untuk meningkatkan kualitas permainan sebelum kembali menjalani kompetisi bersama Persebaya Surabaya.

Menurutnya, pelajaran paling berharga datang dari profesionalisme yang ditunjukkan para pemain kelas dunia.

Mulai dari menjaga kondisi fisik, disiplin berlatih, hingga terus berupaya mengembangkan kemampuan menjadi bekal penting agar mampu bersaing di level tertinggi.

"Hal yang paling bisa dipelajari dari pemain-pemain top dunia adalah profesionalisme mereka. Mulai dari menjaga kondisi fisik, disiplin dalam berlatih, hingga terus berusaha meningkatkan kemampuan dari waktu ke waktu," pungkasnya.

EDITOR: Banu Adikara