JawaPos.com - Ada pemandangan yang mulai terasa familiar bagi para pendukung Chelsea. Ketika para pemain The Blues tampil pada awal musim 2026/27, bagian depan jersey mereka kembali terlihat polos tanpa logo sponsor utama.
Situasi tersebut bukan hal baru. Chelsea kini memulai musim tanpa sponsor utama di jersey untuk empat musim berturut-turut.
Bagi klub sebesar Chelsea, kondisi tersebut memang cukup unik. Klub-klub papan atas Premier League biasanya sudah memiliki kesepakatan komersial bernilai besar dan berdurasi beberapa tahun.
Lantas, mengapa Chelsea memilih tetap tampil tanpa sponsor?
Chelsea Menunggu Kesepakatan yang Tepat
Melansir Give Me Sport, alasannya berkaitan dengan strategi bisnis. Chelsea tampaknya tidak ingin terburu-buru mengisi ruang sponsor utama hanya demi memastikan ada logo di bagian depan jersey. Klub lebih memilih menunggu tawaran yang sesuai dengan valuasi mereka.
Negosiasi untuk kesepakatan sponsor jangka panjang bernilai tinggi tentu membutuhkan waktu. Nilai sebuah slot sponsor juga bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk performa klub, kompetisi yang diikuti, hingga aktivitas transfer.
Karena itu, manajemen Chelsea tampaknya lebih memilih mempertahankan ruang tersebut daripada menyepakati kontrak dengan nilai yang dianggap terlalu rendah.
Sebagai gambaran, jika klub menilai slot sponsor jersey mereka bernilai £60 juta tetapi kemudian menyepakati kontrak senilai £40 juta, kesepakatan tersebut bisa menjadi patokan bagi calon sponsor berikutnya.
Dari sudut pandang bisnis, Chelsea tentu tidak ingin menjual aset komersial penting dengan harga di bawah valuasi yang mereka tetapkan.
Empat Musim Tanpa Sponsor Jangka Panjang
Chelsea memang tidak benar-benar asing dengan sponsor jersey. Masalahnya, mereka belum menemukan mitra yang bersedia menjadi sponsor utama dalam kesepakatan jangka panjang sejak kontrak dengan Three berakhir pada 2023.
Setelah itu, Chelsea menggunakan sejumlah sponsor berbeda. Pada musim 2023/24, logo Infinite Athlete menghiasi bagian depan jersey. Kemudian, DAMAC menjadi sponsor utama pada musim 2024/25.
Musim berikutnya, giliran perusahaan teknologi industri IFS yang tampil di bagian depan jersey Chelsea. Sementara itu, perusahaan cryptocurrency BingX sempat tampil di jersey menjelang akhir musim 2023/24 dan juga banyak terlihat pada pakaian latihan.
Dengan demikian, pola yang terlihat cukup jelas: Chelsea lebih banyak mengandalkan kesepakatan jangka pendek sambil mencari peluang untuk mendapatkan kontrak komersial yang dianggap lebih menguntungkan.
Mengapa Tidak Memakai Sponsor Lama?
Berakhirnya kerja sama dengan Three pada 2023 menjadi titik penting.
Sebelum itu, Chelsea memiliki sejumlah sponsor utama dengan kontrak yang relatif panjang. Yokohama Tyres menjadi sponsor utama dari 2015 hingga 2020, sementara Samsung menghiasi jersey The Blues selama satu dekade, dari 2005 sampai 2015.
Sebelumnya, Fly Emirates menjadi sponsor utama Chelsea dari 2001 hingga 2005.
Kontrak-kontrak tersebut memberikan stabilitas komersial. Namun, sejak era Three berakhir, Chelsea justru menjalani periode dengan sponsor yang lebih sering berganti.
Chelsea Mengambil Risiko
Strategi ini tentu bukan tanpa risiko. Tidak adanya sponsor membuat jersey Chelsea terlihat lebih bersih dan berbeda dibandingkan sebagian besar klub Premier League. Namun, dari sisi bisnis, klub kehilangan pemasukan yang sebenarnya bisa diperoleh jika ruang tersebut langsung diisi sponsor baru.
Di sisi lain, Chelsea tampaknya percaya bahwa menunggu bisa menghasilkan kesepakatan yang lebih bernilai.
Performa di lapangan juga dapat memainkan peran. Chelsea gagal lolos ke Liga Champions setelah hanya finis di posisi ke-10 Premier League 2025/26. Kondisi tersebut tentu dapat memengaruhi daya tawar klub ketika bernegosiasi dengan calon sponsor.
Jadi, jersey Chelsea yang polos pada awal musim 2026/27 bukan sekadar keputusan estetika. The Blues tampaknya sedang memainkan permainan bisnis jangka panjang: lebih baik menunggu sponsor yang sesuai dengan valuasi mereka daripada terburu-buru menjual ruang paling berharga di jersey dengan harga yang dianggap terlalu rendah.
***